Desa Brahmana di Tengah Masyarakat Heterogen: Menelusuri Sejarah Unik Warga Cucukan
Di tengah masyarakat Bali yang hidup dengan latar belakang wangsa yang beragam, Desa Adat Cucukan di Klungkung hadir dengan keunikan yang jarang ditemui: hampir seluruh krama adatnya berasal dari garis keturunan Brahmana. Berawal dari perjalanan seorang pandhita hingga berkembang menjadi sebuah desa adat, Cucukan berhasil menjaga sejarah dan identitas leluhurnya dari generasi ke generasi. Namun, bagaimana desa dengan akar keturunan yang begitu kuat ini tetap mampu hidup berdampingan dan menjalin menyama braya di tengah masyarakat yang heterogen?
Masyarakat Hindu di Bali dikenal memiliki kehidupan sosial yang beragam. Dalam satu wilayah banjar maupun desa, masyarakat umumnya berasal dari latar belakang wangsa yang berbeda. Dalam kehidupan masyarakat Bali, dikenal kelompok Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra, yang dalam perkembangannya menjadi bagian dari struktur sosial masyarakat. Perbedaan tersebut juga dapat dikenali melalui penggunaan gelar tertentu di depan nama seseorang.
Namun, bagaimana jika dalam sebuah desa, hampir seluruh krama adatnya memiliki garis keturunan yang sama?
Fenomena inilah yang dapat ditemukan di Desa Adat Cucukan, Kabupaten Klungkung. Berbeda dengan desa-desa di sekitarnya yang memiliki masyarakat dengan latar belakang lebih heterogen, hampir seluruh krama adat Desa Cucukan berasal dari garis keturunan Brahmana. Hal tersebut dapat dikenali melalui penggunaan gelar Ida Bagus dan Ida Ayu.
Keunikan ini bukan terjadi secara tiba-tiba. Di balik keseragaman garis keturunan tersebut, terdapat perjalanan sejarah panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pura Melanting Desa Adat Cucukan (Sumber : Koleksi Pribadi)
Asal Usul Berdirinya Desa Cucukan
Berdasarkan penuturan Bendesa Adat Cucukan, Ida Bagus Anta Wijaya, sejarah Desa Adat Cucukan berawal dari perjalanan seorang pandhita yang berasal dari Banjar Ambengan, Singaraja, menuju wilayah Klungkung. Sebagai seorang Brahmana, beliau melakukan perjalanan sambil melaksanakan dharma wacana atau menyampaikan ajaran keagamaan kepada masyarakat.
Dalam perjalanan tersebut, sang pandhita sempat beristirahat di wilayah Selat Kawang yang kini menjadi bagian dari Desa Selat, Klungkung. Setelah itu, beliau tinggal di Griya Sangku yang berada di sebelah selatan Desa Besang. Namun, karena adanya gangguan di wilayah tersebut, sang pandhita berniat untuk berpindah.
Keinginan tersebut kemudian ditahan oleh Jro Bendesa Subagan yang menghormati keberadaan beliau. Sebagai gantinya, sang pandhita diberikan tempat baru di wilayah yang lebih tinggi. Tempat tersebut dikenal dengan nama Adra Negara, yang memiliki arti “di atas” karena letaknya berada di kawasan yang lebih tinggi, tepatnya di jalur menuju Pura Besakih.
Seiring waktu, penyebutan wilayah tersebut berubah menjadi Cucukan. Nama tersebut dipercaya berasal dari kata pucukan atau “diberikan”, merujuk pada tempat yang diberikan kepada sang pandhita untuk menetap. Dan di wilayah inilah perjalanan Desa Adat Cucukan dimulai.
Sang pandhita kemudian memiliki seorang putra bernama Ida Sangku. Dari garis keturunannya, Ida Sangku memiliki empat orang putra, yaitu Ida Putra Manduang, Ida Made Gunung, Ida Nyoman Gianyar, dan Ida Ketut Batu. Ida Putra Manduang kemudian memilih menetap di Muncang, sedangkan tiga putra lainnya tetap tinggal di Cucukan dan mengembangkan garis keturunannya di wilayah tersebut.
Pada masa tuanya, Ida Sangku menikah dengan Ida Ayu Kecig dan dikaruniai seorang putra yang dikenal sebagai Ida Gede Rai. Beliau kemudian mendapat julukan Mpu Suruwedana karena dikenal berhasil menyusun berbagai karya sastra keagamaan.
Seiring berjalannya waktu, keturunan Ida Sangku terus berkembang. Hubungan kekerabatan atau pasemetonan dari keturunan tersebut semakin besar hingga berkembang menjadi sebuah banjar dan akhirnya membentuk Desa Adat Cucukan. Kini, desa tersebut memiliki lebih dari 190 kepala keluarga dengan sebagian besar krama adat berasal dari garis keturunan Brahmana.
Kisah mengenai asal-usul Desa Adat Cucukan juga masih dijaga hingga saat ini melalui sebuah prasasti. Prasasti tersebut tidak dapat dibuka atau dibacakan sembarangan. Hanya para penglingsir atau tetua desa yang dapat membacakannya pada saat pelaksanaan Karya Agung.
Tradisi tersebut menjadi cara masyarakat Desa Adat Cucukan menjaga ingatan tentang leluhur mereka. Generasi muda kembali diajak mengenal perjalanan panjang yang menjadi awal terbentuknya desa, sekaligus memahami bagaimana garis keturunan tersebut berkembang hingga membentuk sebuah komunitas adat.
Suasana Lingkungan Desa Adat Cucukan (Sumber : Koleksi Pribadi)
Satu Garis Keturunan, tetapi Tetap Menyama Braya
Keunikan Desa Adat Cucukan mungkin membuat sebagian orang membayangkan bahwa masyarakatnya hidup secara tertutup dan hanya berinteraksi dengan kelompoknya sendiri. Namun, kenyataannya tidak demikian.
Walaupun krama adat Desa Cucukan memiliki latar belakang garis keturunan yang relatif homogen, masyarakatnya tetap menjalin hubungan sosial dengan desa-desa di sekitarnya. Konsep menyama braya atau menjalin persaudaraan dan kebersamaan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Masyarakat Desa Adat Cucukan tetap berinteraksi dengan warga dari desa-desa sekitar, seperti Desa Tulangnyuh dan Desa Selat. Menurut Bendesa Adat Cucukan, perbedaan wangsa tidak pernah menjadi penghalang dalam membangun hubungan sosial.
Hal tersebut dapat terlihat ketika masyarakat Desa Cucukan mendapatkan undangan untuk mengikuti kegiatan di desa lain. Mereka tetap hadir untuk bersilaturahmi, mengikuti kegiatan masyarakat, maupun melakukan ngayah atau gotong royong bersama.
Identitas sebagai desa dengan mayoritas krama adat keturunan Brahmana tidak kemudian menjadi sekat yang memisahkan masyarakat Desa Cucukan dari lingkungan sekitarnya. Mereka tetap menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang lebih luas.
Selain itu, keseragaman tersebut tidak berarti bahwa seluruh penduduk yang tinggal di wilayah Desa Adat Cucukan harus berasal dari wangsa Brahmana. Dalam kehidupan desa adat dikenal istilah krama adat dan krama tamiu.
Krama adat merupakan masyarakat yang menjadi bagian dari kehidupan dan struktur adat desa, sedangkan krama tamiu adalah masyarakat yang tinggal di wilayah desa tetapi berasal dari luar keanggotaan adat tersebut. Di Desa Adat Cucukan terdapat masyarakat dengan latar belakang wangsa yang berbeda yang tinggal sebagai krama tamiu.
Hal inilah yang membuat keunikan Desa Adat Cucukan semakin menarik. Keseragaman terdapat pada garis keturunan krama adatnya, tetapi kehidupan sosial masyarakatnya tetap berjalan di tengah keberagaman.
Menyatukan Persaudaraan dalam Satu Desa
Keunikan lain Desa Adat Cucukan juga dapat dilihat dari sejarah kehidupan keagamaannya. Dari penuturan jro bendesa dahulu kala terdapat dua pura dadia di wilayah Cucukan, yaitu Pura Dadia Griya Gede dan Pura Dadia Griya Tengah.
Namun, seiring berkembangnya masyarakat, kedua kelompok tersebut kemudian dipersatukan melalui pembangunan sebuah Pura Desa oleh Ida Pedanda Gede Rai. Pura tersebut tidak hanya menjadi tempat suci, tetapi juga menjadi simbol penyatuan hubungan persaudaraan masyarakat Desa Adat Cucukan.
Dari hubungan keluarga, berkembang menjadi kelompok pasemetonan. Dari pasemetonan tumbuh sebuah banjar, hingga akhirnya terbentuk sebuah desa adat dengan identitas yang tetap bertahan hingga sekarang.
Desa Adat Cucukan pada akhirnya bukan hanya menarik karena banyaknya nama Ida Bagus dan Ida Ayu di antara krama adatnya. Lebih dari itu, desa ini menyimpan cerita tentang perjalanan leluhur, hubungan kekerabatan, tradisi, serta usaha masyarakat dalam menjaga identitas mereka.
Di tengah desa-desa sekitar yang memiliki masyarakat lebih heterogen, Desa Adat Cucukan tetap mempertahankan jejak sejarahnya. Sebuah desa dengan akar garis keturunan yang kuat, tetapi tetap terbuka untuk hidup berdampingan dan menjalin menyama braya dengan masyarakat dari berbagai latar belakang. Desa Adat Cucukan menjadi salah satu cerita unik tentang bagaimana sejarah, keturunan, dan kehidupan sosial dapat membentuk wajah sebuah desa di Bali.