Pura Dalem Tamblingan dan Kisah Tamba Eling: Jejak Air Penyembuh di Tanah Leluhur

Tidak semua kisah tentang Danau Tamblingan dimulai dari danaunya. Di kawasan Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terdapat Pura Dalem Tamblingan yang berada di sekitar Danau Tamblingan dan kawasan hutan Alas Merta Jati. Di balik suasana tenang kawasan ini, tersimpan cerita tentang wabah penyakit, air yang dipercaya membawa kesembuhan, dan perjalanan seorang tokoh bernama Dewa Bahem. Dari sebuah sumber air yang kemudian dikenal sebagai Tamba Eling, lahir kisah yang dipercaya berkaitan dengan nama Tamblingan. Cerita tersebut tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan nama sebuah danau, tetapi juga berkaitan erat dengan Pura Dalem Tamblingan dan tanah leluhur masyarakat yang sejak dulu hidup di kawasan Merta Jati.

Oct 13, 2026 - 05:19
Oct 12, 2026 - 08:43
Pura Dalem Tamblingan dan Kisah Tamba Eling: Jejak Air Penyembuh di Tanah Leluhur
Pura Dalem Tamblingan (Sumber : Koleksi Pribadi)

Ketika membicarakan Tamblingan, nama Alas Merta Jati juga tidak bisa dilepaskan begitu saja. Merta Jati merupakan kawasan hutan yang berada di sekitar Danau Tamblingan dan sejak dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Kawasan ini tidak hanya dianggap sebagai hutan biasa, tetapi juga dikenal sebagai tanah leluhur yang memiliki nilai sakral. Berdasarkan sejumlah prasasti kuno yang ditemukan di sekitar danau, berita tertua yang menyebutkan keberadaan Desa Tamblingan diduga berasal dari masa pemerintahan Raja Ugrasena yang memerintah di Bali pada 837–858 Saka, atau sekitar 915–936 Masehi, sehingga keberadaan masyarakat di kawasan ini diyakini telah ada sejak abad ke-10 Masehi. Air yang berasal dari kawasan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, sementara di dalam kawasan Merta Jati juga terdapat berbagai tempat suci yang berkaitan dengan kehidupan spiritual masyarakat Tamblingan.

Kawasan Merta Jati (Sumber : Koleksi Pribadi)

Di tengah kawasan inilah muncul kisah tentang Dewa Bahem. Dalam cerita yang diwariskanĀ masyarakat Adat Dalem Tamblingan, Dewa Bahem datang ke Alas Merta Jati ketika kawasan tersebut sudah dihuni oleh masyarakat seperti Pasek Tamblingan, Pasek Panji Landung, dan Pasek Kulisah. Kedatangannya kemudian diterima oleh masyarakat yang telah lebih dahulu tinggal di sana. Setelah memperoleh anugerah berupa keris dan wija ratus, Dewa Bahem kemudian dikukuhkan sebagai Dalem Tamblingan.

Bagian Lain Pura Dalem Tamblingan (Sumber : Koleksi Pribadi)

Sejak saat itu, nama Dalem Tamblingan menjadi bagian penting dari perjalanan kawasan tersebut. Namun, kisahnya tidak berhenti sampai di sana. Ada satu kejadian yang membuat nama Dalem Tamblingan semakin kuat dalam ingatan masyarakat, yaitu ketika wabah penyakit menyerang Merta Jati.

Peristiwa tersebut diceritakan terjadi pada saat Tilem Sasih Kanem. Banyak masyarakat mengalami sakit sehingga keadaan di kawasan Merta Jati menjadi sangat mengkhawatirkan. Melihat keadaan tersebut, Dalem Tamblingan kemudian mencari cara untuk membantu masyarakat. Ia pergi menuju sebuah empang yang berada di lembah kawasan Alas Merta Jati untuk mengambil air.

Pemandangan Danau Tamblingan yang Berada Di Sebelah Pura Dalem Tamblingan (Sumber : Koleksi Pribadi)

Air tersebut kemudian diambil menggunakanĀ sangku Sudamala, sebuah wadah yang digunakan untuk membawa air suci. Setelah mendapatkan air, Dalem Tamblingan melakukan penyucian melalui doa dan japa mantra. Dalam kisah yang diwariskan masyarakat, air tersebut kemudian dipercikkan kepada orang-orang yang sedang sakit.

Setelah air diberikan kepada masyarakat, keadaan perlahan membaik dan wabah yang menyerang Merta Jati akhirnya berakhir. Dari peristiwa inilah muncul nama Tamba Eling. Empang tempat air tersebut diambil kemudian dikenal dengan nama Tamba Eling, yang dalam kisah masyarakat berkaitan dengan air sebagai sarana penyembuhan. Nama tersebut kemudian mengalami perubahan penyebutan menjadi Tamba-Ling, hingga akhirnya dikenal sebagai Tamblingan.

Danau Tamblingan (Sumber : Koleksi Pribadi)

Empang itu masih ada sampai sekarang, tersembunyi di lembah Alas Merta Jati, jauh dari jalur wisata yang biasa dilewati orang menuju Danau Tamblingan. Tidak banyak yang tahu kalau di titik itulah, ratusan tahun lalu, seorang Dalem Tamblingan berlutut dengan sangku Sudamala di tangan, mengucap mantra sambil menunggu air suci itu siap dibawa turun ke desa yang sedang sekarat karena wabah. Warga yang masih bisa berjalan menunggu di pinggir empang, sementara yang lain terbaring di rumah masing-masing, berharap air itu datang tepat waktu.

Ketika akhirnya berhasil disembuhkan, masyarakat tidak cuma bersyukur lalu melupakannya. Mereka membangun Pura Dalem Tamblingan tepat di kawasan itu, sebagai tempat mereka kembali setiap kali ingin mengenang malam-malam mencekam sebelum air itu datang. Sampai hari ini, setiap purnama dan tilem, keturunan masyarakat Catur Desa yaitu Munduk, Gobleg, Gesing, dan Umejero masih datang membawa tirta ke pura tersebut, mengulang gerakan yang sama seperti yang dilakukan Dalem Tamblingan ratusan tahun lalu: memercikkan air suci, berharap kesucian itu tetap terjaga.

Sisi Lain Danau Tamblingan (Sumber : Koleksi Pribadi)

Ada juga kelompok kecil yang jarang diketahui wisatawan, disebutĀ jaga wana dan jaga teleng, penjaga hutan dan penjaga danau. Mereka bukan petugas yang ditunjuk sembarangan, melainkan keturunan langsung dari orang-orang yang dulu ikut menjaga kawasan ini sejak zaman Dewa Bahem. Tugas mereka diwariskan dari orang tua ke anak, terus begitu, tanpa pernah putus, bahkan ketika kawasan di sekitarnya sudah berubah jadi destinasi wisata dengan spot foto dan penyewaan kano.