Sorak dan Tombak pada tradisi Ngerebeg Matiti Suara Blahkiuh
Tombak bambu, sorak-sorai, dan arak-arakan menjadi bagian dari Ngerebeg Matiti Suara di desa adat Blahkiuh. Tradisi ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga menjadi cara masyarakat mengingat kembali hubungan mereka dengan Pura Luhur Giri Kusuma. Di balik prosesi yang terlihat meriah, tersimpan cerita tentang Singasari, kemenangan, dan pesan yang terus diwariskan kepada generasi seterusnya. Lalu, bagaimana semua cerita itu menyatu dalam Ngerebeg Matiti Suara?
Ngerebeg merupakan tradisi di desa adat Blahkiuh yang hanya dilakukan pada saat saat umanis kuningan atau 6 bulan sekali. Suara sorak-sorai pecah ketika warga mulai bergerak membawa tombak dan bambu runcing mengelilingi Desa Blahkiuh. Di beberapa titik, suara itu kembali terdengar sebagai tanda semangat dan kemenangan. Sekilas, suasananya memang terlihat seperti sebuah arak-arakan yang meriah. Namun bagi masyarakat Blahkiuh, Ngerebeg Matiti Suara bukan sekadar keramaian. Di balik tombak, tarian, dan suara yang bergema, ada cerita panjang tentang Singasari, Pura Luhur Giri Kusuma.
Cerita tentang tradisi ini tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Pura Luhur Giri Kusuma, kisahnya sudah berhubungan dengan masa ketika wilayah Blahkiuh masih berupa hutan belantara. Dalam cerita yang bersumber dari Lontar Pura Luhur Giri Kusuma, ada tokoh Bernama Geni Jaya yang datang ke wilayah tersebut. Dalam perjalanannya ke utara, ia mengalami berbagai musibah dan kemudian mendapatkan petunjuk untuk membangun tempat pemujaan ketika kembali ke tempat asalnya. Tempat pemujaan tersebut kemudian dikenal sebagai Pura Luhur Giri Kusuma. Nama itu memiliki makna tersendiri. “Giri” berarti gunung, “Luhur” mengarah pada sesuatu yang luhur atau mulia, sedangkan “Kusuma” berarti harum bunga. Tempat belantara yang sebelumnya belum memiliki nama kemudian disebut Singasari ujar Gusti Ngurah Made Oka.
Masyarakat dari berbagai banjar di Blahkiuh memeriahkan tradisi Ngerebeg Matiti Suara (Sumber : Dokumentasi Adat)
Menurut cerita dari Ngurah Made Oka, masyarakat Singasari mengalami masa kehidupan yang sejahtera. Hasil sawah baik dan perekonomian masyarakat berjalan dengan baik.Namun, masyarakat kemudian terlena dengan keadaan tersebut dan mulai lupa terhadap keberadaan pura hingga muncul berbagai musibah.
Cerita berlanjut ke sekitar abad ke-17 ketika Singasari menjadi bagian dari wilayah di bawah Kerajaan Mengwi. I Gusti Putu Pacung yang ditempatkan di Singasari bersama sejumlah orang. Pada masa itu, anaknya mengalami sakit-sakitan. Setelah dilakukan pencarian petunjuk, muncul cerita bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan masyarakat yang mulai tidak peduli terhadap keberadaan pura. Setelah hubungan dengan pura kembali diperhatikan dan Pura Luhur Giri Kusuma diperbaiki, kondisi anak tersebut dan kehidupan masyarakat dikisahkan kembali membaik.
Ketika terjadi peperangan dengan wilayah lain, Singasari digambarkan memiliki kekuatan yang besar. Ngerebeg kemudian menjadi bentuk perayaan kemenangan sekaligus cara untuk menunjukkan kekuatan desa. Karena itu, suasana membawa senjata dan sorak-sorai dalam Ngerebeg bukan muncul tanpa alasan. Ada gambaran tentang kemenangan yang diwariskan melalui tradisi tersebut.
Arak arakan pembawa bambu runcing pada tradisi Ngerebeg Matiti Suara (Sumber : Dokumentasi Adat)
Ngerebeg kemudian dilaksanakan secara rutin setiap enam bulan, tepatnya pada Manis Kuningan. Pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat Desa Blahkiuh dan melibatkan banjar-banjar yang ada di desa. Seiring berjalannya waktu, muncul gagasan untuk mengembangkan bentuk Ngerebeg agar tidak hanya berulang dengan pola yang sama. Dari sinilah kemudian muncul Matiti Suara.
Menurut Gusti Ngurah Made Oka, Matiti Suara menjadi cara untuk memberikan unsur seni, kepercayaan, dan kesetiaan ke dalam pelaksanaan Ngerebeg. Setiap banjar memiliki kesempatan menampilkan kreativitasnya. Ada dorongan untuk membuat penampilan yang lebih baik dari pelaksanaan sebelumnya. Meski begitu, kreativitas tersebut tetap berada dalam batas pakem yang tidak boleh diubah.
Sebelum prosesi dimulai, ada tahapan persiapan dan pembersihan. Masyarakat yang mendapat tugas berkumpul untuk membawa tombak, gelanggang, bambu runcing, dan perlengkapan lainnya. Setelah itu, mereka kembali ke tempat pelaksanaan untuk mengikuti rangkaian upacara dan pementasan. Berbagai tarian juga hadir dalam prosesi, seperti Rejang Sari, Rejang Renteng, dan Rejang Dewa
Pementasan tari Rejang di Pura Luhur Giri Kusuma (Sumber : Dokumentasi Adat)
Salah satu bagian penting dalam Ngerebeg Matiti Suara adalah pembacaan Purana Giri Kusuma. Dalam prosesi tersebut, seseorang yang berperan sebagai patih membacakan isi Purana (Kitab Suci). Pesannya berkaitan dengan peringatan kepada masyarakat agar tidak melupakan keberadaan Pura Luhur Giri Kusuma. Pesan tersebut kemudian diteruskan kepada generasi muda melalui bagian yang berisi tutur atau nasihat. Jadi, Matiti Suara tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan pesan dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya.
Setelah rangkaian tersebut selesai, masyarakat bergerak mengelilingi desa mengikuti arah jarum jam sebanyak 3 kali. Di beberapa perempatan, mereka bersorak bersama. Setelah selesai berkeliling, rombongan kembali ke Pura Luhur Giri Kusuma dan disambut oleh keluarga masing-masing.
Ada pula penggunaan bambu runcing dan tombak dalam prosesi. Menurut Gusti Ngura Made Oka, tombak yang digunakan terlebih dahulu diproses secara ritual dan diperciki Tirta (air suci). Tombak tersebut juga dihias dengan daun plawa atau daun puring dan kwangen (sarana ritual di bali).
Pembacaan isi Purana Giri Kusuma oleh Patih (Sumber : Dokumentasi Adat)
Menariknya adalah bagaimana tujuh banjar di Blahkiuh ikut mengambil bagian. Bentuk penampilan masing-masing banjar bisa berbeda sesuai dengan potensi yang dimiliki. Ada banjar yang melibatkan banyak anggota, bahkan anak-anak juga mulai diikutsertakan. Bagi masyarakat, keterlibatan anak-anak bukan hanya soal membantu prosesi. Mereka diharapkan mengenal langsung apa yang sedang dilakukan sehingga tradisi tidak berhenti hanya pada generasi yang sekarang.
Pada akhirnya, Ngerebeg Matiti Suara bukan hanya tentang tombak yang diarak atau suara yang terdengar di jalan-jalan Blahkiuh. Ada cerita tentang kemenangan yang dirayakan, ada hubungan masyarakat dengan Pura Luhur Giri Kusuma, dan pesan yang terus disampaikan kepada generasi selanjutnya melalui Purana Giri Kusuma. Gusti Ngurah Made Oka selaku bendesa adat Blahkiuh berharap kedepanya para generasi muda tetap melestarikan tradisi Ngerebeg Matiti Suara serta merawat Pura Luhur Giri Kusuma agar kehidupan masyarakat tentram selalu.