Pie Susu Bali: Oleh-Oleh Khas yang Menghidupkan UMKM

Berwisata ke Bali rasanya belum lengkap tanpa membawa pulang pie susu sebagai oleh-oleh. Kue mungil dengan kulit pastry yang tipis dan renyah ini memiliki isian vla susu dan kuning telur yang manis, lembut, dan khas. Tak heran jika pie susu menjadi salah satu buah tangan favorit wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Di balik bentuknya yang sederhana, pie susu ternyata memiliki peran penting bagi perekonomian masyarakat Bali, terutama bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadikannya sebagai salah satu produk andalan.

Oct 12, 2026 - 05:03
Oct 11, 2026 - 00:59
Pie Susu Bali: Oleh-Oleh Khas yang Menghidupkan UMKM
Pie Susu Bali (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Siapa yang tidak kenal pie susu Bali? Kudapan mungil dengan kulit pastry yang renyah dan isian manis ini telah menjadi salah satu oleh-oleh yang paling banyak dicari wisatawan ketika berkunjung ke Pulau Dewata. Hampir di setiap toko oleh-oleh, baik gerai besar maupun kios kecil di pinggir jalan, pie susu mudah ditemukan dengan berbagai merek, rasa, dan kemasan.

Menariknya, pie susu bukanlah jajanan tradisional Bali yang telah ada selama ratusan tahun. Kudapan ini justru lahir dari kreativitas masyarakat yang mengadaptasi teknik pembuatan kue bergaya Barat, kemudian mengolahnya menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan dan menyesuaikannya dengan selera masyarakat Indonesia. Dari ide sederhana tersebut, pie susu berkembang menjadi salah satu produk kuliner yang memiliki daya tarik tersendiri.

Popularitas pie susu juga membawa dampak bagi perekonomian masyarakat Bali. Produksinya tidak hanya dilakukan oleh perusahaan besar, tetapi banyak pula dijalankan oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam skala rumahan. Meskipun produksinya tidak sebesar pabrik, kualitas yang ditawarkan mampu bersaing. Kreativitas para pelaku usaha juga terlihat dari semakin beragamnya pilihan rasa. Selain rasa original, kini tersedia varian seperti cokelat, keju, matcha, stroberi, hingga durian.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kuliner sederhana dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Wisatawan yang berkunjung ke Bali kini tidak hanya membawa pulang kaos, kerajinan, atau makanan khas tradisional, tetapi juga kotak-kotak pie susu untuk diberikan kepada keluarga, teman, maupun rekan kerja. Dengan demikian, pie susu tidak sekadar menjadi buah tangan, tetapi telah berkembang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Dokumentasi Bares’ta Cake & Cookies (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Salah satu UMKM yang turut memproduksi pie susu adalah Bares’ta Cake & Cookies milik Ibu Sayu Made Jastrini yang beralamat di Jalan Bisma Nomor 25, Denpasar. Usaha ini telah berjalan sejak 2012 dan mampu menghasilkan sekitar 200–500 buah pie susu setiap hari, tergantung pada jumlah pesanan. Dalam kegiatan produksinya, Bares’ta Cake & Cookies dibantu sekitar lima orang karyawan yang berasal dari lingkungan sekitar. Produk pie susu kemudian dipasarkan melalui toko-toko oleh-oleh dan media sosial untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Selain Bares’ta Cake & Cookies, terdapat pula Asih Kitchen yang berada di kawasan Renon dan dikelola oleh Ibu Suastiti Asih. Usaha ini bermula dari kebiasaan membuat pie susu sebagai camilan untuk anak. Seiring waktu, muncul keinginan untuk memperkenalkan hasil buatannya kepada masyarakat sekaligus menjadikannya sebagai peluang usaha. Berbeda dengan usaha yang memproduksi dalam jumlah besar, Asih Kitchen masih menjalankan proses produksi secara rumahan dengan melibatkan anggota keluarga. Pemasarannya dilakukan melalui pesanan langsung serta media sosial, terutama Facebook dan WhatsApp.

Kisah Asih Kitchen menunjukkan bahwa memulai usaha pie susu tidak selalu membutuhkan modal besar atau produksi dalam jumlah banyak. Dengan memanfaatkan kemampuan yang dimiliki, dukungan keluarga, serta pemasaran sederhana, usaha rumahan pun dapat berkembang dan menghasilkan pendapatan.

Dokumentasi Asih Kitchen (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Di tengah semakin ramainya pasar oleh-oleh, persaingan antarprodusen pie susu tentu semakin ketat. Merek-merek baru terus bermunculan dengan berbagai strategi, mulai dari membuat kemasan yang menarik hingga memanfaatkan media sosial dan bekerja sama dengan influencer. Persaingan tersebut justru mendorong para pelaku UMKM untuk terus berkreasi, baik dalam menciptakan rasa baru, memperbaiki kemasan, maupun meningkatkan pelayanan.

Pada akhirnya, perjalanan pie susu Bali membuktikan bahwa sesuatu yang sederhana dapat berkembang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi besar. Pie susu mungkin tidak memiliki sejarah panjang seperti sejumlah kuliner tradisional Bali lainnya, tetapi kepopulerannya lahir dari kreativitas, keberanian mencoba, dan ketekunan dalam menjaga kualitas. Selama wisatawan masih ingin membawa pulang cita rasa Bali sebagai oleh-oleh, dapur-dapur UMKM akan terus berproduksi dan membuka peluang penghidupan bagi masyarakat. Dari sebuah kue kecil, tumbuh cerita besar tentang kreativitas dan roda ekonomi yang terus bergerak.