Tersembunyi di Balik Waktu, Pakakalan sebagai Tradisi Penentu Hari Sakral di Bali (Bagian 6)
Pakakalan Bagian 6 membahas beberapa dewasa ayu yang berperan penting dalam menentukan hari baik untuk berbagai aktivitas kehidupan masyarakat Bali. Setiap dewasa memiliki fungsi khusus yang berkaitan dengan upacara keagamaan, pekerjaan, hingga pembangunan fisik dan kreativitas sosial. Melalui pemahaman Pakakalan ini, masyarakat Bali tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis dalam bertindak, tetapi juga menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan nilai spiritual. Pada Pakakalan bagian 6 ini akan dijelaskan sebelas jenis Kala dan Padewasan yang sangat penting, yaitu: Kala Gacokan, Kala Sor, Kala Dangastra, Padewasan Ayu Nulus, Padewasan Merta Yoga, Merta Masa, Merta Dewa, Padewasan Merta Danta, Padewasan Sedana Yoga, Padewasan Subacara, dan Padewasan Gni Rawana.
Budaya Bali mengenal sistem penentuan hari baik yang sangat terstruktur dan sarat makna, salah satunya melalui ajaran Pakakalan. Dalam Pakakalan Bagian 6, terdapat beberapa dewasa yang dipandang sangat baik untuk melaksanakan kegiatan penting dalam kehidupan manusia. Penentuan hari ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan berdasarkan perhitungan wariga yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dengan memahami dewasa ayu, masyarakat diharapkan dapat menjalankan aktivitas dengan rasa aman, tenteram, dan selaras dengan kehendak alam semesta. Hal ini menunjukkan bahwa waktu memiliki nilai spiritual yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia Bali.
Hari Yang Baik Untuk Melakukan Upacara Manusa Yadnya (Sumber : Koleksi Pribadi)
Padewasan Merta Yoga dikenal sebagai hari yang sangat baik untuk melaksanakan upacara Manusa Yadnya, yaitu rangkaian upacara yang berkaitan dengan perjalanan hidup manusia. Dewasa ini dipercaya membawa energi kesucian, keseimbangan, dan keselamatan bagi individu yang menjalani upacara. Salah satu contoh upacara yang tepat dilakukan pada Padewasan Merta Yoga adalah Upacara Mepandes atau Potong Gigi. Upacara ini melambangkan pengendalian sifat-sifat negatif dalam diri manusia dan menjadi tonggak kedewasaan secara spiritual. Dengan memilih Padewasan Merta Yoga, diharapkan upacara dapat berjalan lancar serta memberikan pengaruh baik bagi kehidupan ke depan.
Padewasan Merta Danta mengacu pada penentuan hari baik (dewasa) dalam tradisi Hindu Bali untuk acara pernikahan (pawiwahan), yang menggabungkan unsur-unsur wariga (perhitungan pawukon dan wuku) untuk menemukan waktu yang dianggap membawa kebahagiaan, kesuksesan, dan keharmonisan dalam kehidupan pernikahan, dengan "Merta Danta" kemungkinan besar merujuk pada jenis dewasa atau kombinasi perhitungan yang spesifik untuk pernikahan.
Merta Dewa atau Amerta Dewa adalah predikat atau dewasa ayu yang menandakan hari baik untuk melaksanakan kegiatan spiritual, terutama yang berhubungan dengan Dewa Yadnya, seperti membangun tempat suci, membuat lumbung, dapur, atau melakukan upacara penting lainnya, menunjukkan kesuburan dan kemakmuran yang diberkahi para dewa. Istilah ini muncul dalam perhitungan wuku dan sasih untuk menentukan hari baik (dewasa) bagi berbagai aktivitas, mencerminkan hubungan erat antara aktivitas manusia dengan manifestasi spiritual.
Hari Yang Baik Untuk Membuat Alat Tajam (Sumber : Koleksi Pribadi)
Kala Gacokan merupakan dewasa yang dianggap baik untuk kegiatan yang berhubungan dengan alat-alat tajam. Pada hari ini, masyarakat Bali meyakini bahwa pembuatan, perbaikan, maupun pengasahan alat tajam akan menghasilkan fungsi yang optimal dan aman digunakan. Alat-alat seperti pisau, parang, atau peralatan kerja lainnya diyakini memperoleh kekuatan simbolis apabila dibuat atau diasah pada Kala Gacokan. Selain aspek fungsional, dewasa ini juga mengajarkan kehati-hatian dan tanggung jawab dalam menggunakan alat tajam. Dengan demikian, Kala Gacokan tidak hanya berkaitan dengan benda, tetapi juga dengan sikap manusia dalam bekerja.
Kala Sor dalam konteks kalender Hindu Bali adalah suatu waktu yang tidak baik (ala), khususnya untuk aktivitas yang berhubungan langsung dengan tanah seperti membajak, bercocok tanam, membuat terowongan, atau pekerjaan menggali, karena dianggap akan mendatangkan kesialan atau kegagalan.
Merta Masa merujuk pada fase bulan Sukla Paksa (paruh terang), yaitu periode dari bulan baru (tilem) menuju purnama (bulan penuh), melambangkan pertumbuhan, pengembangan diri, dan pencarian kebijaksanaan, kebalikan dari Kersna Paksa (paruh gelap) atau panglong. Konsep ini, bersama dengan Penanggal (awal bulan) dan Panglong (akhir bulan), mencerminkan siklus hidup dan spiritualitas, di mana manusia diharapkan menyeimbangkan kehidupan lahir dan batin, seperti bulan yang terus bersinar terang dan redup secara bergantian.
Hari Yang Baik Untuk Membangun Tembok Pekarangan (Sumber : Koleksi Pribadi)
Kala Dangastra dipandang sebagai waktu yang baik untuk membangun tembok atau batas pekarangan rumah. Pembangunan pada dewasa ini dipercaya mampu memberikan perlindungan dan kestabilan bagi penghuni rumah. Tembok pekarangan tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga memiliki makna simbolis sebagai pelindung dari pengaruh negatif. Dengan memulai pembangunan pada Kala Dangastra, masyarakat berharap rumah yang dibangun menjadi tempat yang aman, harmonis, dan membawa ketenteraman. Dewasa ini mencerminkan pentingnya keselarasan antara ruang tinggal manusia dan energi lingkungan sekitarnya.
Padewasan Subacara adalah penentuan waktu atau hari baik (dewasa) untuk melaksanakan upacara keagamaan Hindu Bali menggunakan perhitungan wariga (ilmu astronomi Hindu) seperti wewaran, wuku, penanggal, dan sasih, untuk memastikan kegiatan berjalan lancar dan sesuai ajaran, misalnya untuk pawiwahan (pernikahan) atau atiwa-tiwa (kematian).
Hari Baik Untuk Melakukan Segala Jenis Pekerjaan (Sumber: Koleksi Pribadi)
Padewasan Ayu Nulus dikenal sebagai dewasa yang bersifat umum dan baik untuk melakukan berbagai jenis pekerjaan. Hari ini dipercaya membawa kelancaran, kreativitas, dan hasil yang maksimal dalam aktivitas yang dilakukan. Salah satu contoh kegiatan yang tepat dilakukan pada Padewasan Ayu Nulus adalah merancang ogoh-ogoh di banjar. Proses perancangan ogoh-ogoh membutuhkan kreativitas, kerja sama, dan semangat kebersamaan, yang selaras dengan energi dewasa ini. Dengan memilih Padewasan Ayu Nulus, pekerjaan diharapkan berjalan harmonis dan memberikan kepuasan bagi semua pihak yang terlibat.
Padewasan Gni Rawana adalah salah satu perhitungan hari baik (dewasa) dalam kalender Bali, yang menandakan saat api berada di puncak kejayaan dan kekuatan, sangat baik untuk aktivitas yang berhubungan dengan api seperti membuat penjor, menempa logam, atau kegiatan memasak/pembakaran, agar prosesnya lancar dan hasilnya sempurna, dengan 'Gni' berarti api dan 'Rawana' merujuk pada kekuatannya.
Padewasan Sedana Yoga adalah sebuah konsep dalam sistem Wariga (kalender Hindu Bali) yang menggabungkan perhitungan waktu baik (Padewasan) dengan ilmu Yoga, khususnya terkait "Sedana" atau unsur-unsur yang berkaitan dengan kekayaan, kemakmuran, dan kesejahteraan material, untuk menentukan hari yang sangat baik guna melakukan kegiatan yang membutuhkan kesuksesan finansial, bisnis, atau meningkatkan kemakmuran spiritual dan duniawi.