Tersembunyi di Balik Waktu, Pakakalan sebagai Tradisi Penentu Hari Sakral di Bali (Bagian 3)
Di balik setiap detail kehidupan di Bali ada aturan waktu yang diam-diam mengatur segalanya, mulai dari kapan sebaiknya membuat jaring ikan, kapan membangun pagar rumah, sampai hari apa keris ditempa agar punya taksu yang kuat, dan kapan hari baik untuk melaksanakan pernikahan. Semua ini tersimpan dalam berbagai kala yaitu warisan leluhur yang masih dipakai hingga sekarang.
Pakakalan merupakan bagian penting dalam sistem Wariga Bali yang berfungsi sebagai pedoman penentuan dewasa ayu dan dewasa ala (hari baik dan hari pantangan) berdasarkan kemunculan berbagai manifestasi Kala. Pada Bagian 3 ini, pembahasan difokuskan pada beberapa jenis Kala yang berkaitan erat dengan aktivitas pembuatan sarana, upacara yadnya, serta aspek perlindungan dan keselamatan hidup manusia. Uraian disusun mengikuti pola penulisan yang sama dengan bagian sebelumnya, yaitu memadukan penjelasan konseptual, fungsi dewasa, serta contoh dokumentasi kegiatan yang relevan.
Kala Atat: Dewasa Baik untuk Pembuatan Jaring Ikan (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Kala Atat merupakan kala yang kemunculannya membawa dewasa baik untuk membuat berbagai jenis tali temali. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali, dewasa ini sangat tepat dimanfaatkan untuk membuat tali pancing, tali kekang hewan, hingga jaring ikan yang digunakan oleh para nelayan. Energi Kala Atat dipercaya mendukung kekuatan, keawetan, serta fungsi tali agar dapat digunakan secara optimal.
Dalam perhitungan Wariga, Kala Atat datang pada Redite Wuku Uye, Anggara Wuku Watugunung, serta Budha Wuku Tambir. Pemanfaatan dewasa Kala Atat menekankan pentingnya keselarasan waktu dalam pembuatan sarana tali-temali agar memiliki kekuatan, keawetan, dan fungsi yang optimal dalam kehidupan sehari-hari.
Keris sebagai Sarana Perlindungan dalam Dewasa Kala Macan dan Kala Wikalpa (Sumber: Koleksi Pribadi)
Kala Macan dan Kala Wikalpa sama-sama berkaitan dengan dewasa baik dalam pembuatan senjata tradisional. Kala Macan membawa dewasa ayu untuk membuat keris, tumbal, serta sarana kewibawaan yang bertujuan menumbuhkan rasa hormat dan perlindungan diri. Energi kala ini mendukung terbentuknya kekuatan simbolis pada benda yang dibuat.Sementara itu, Kala Wikalpa dikenal sebagai salah satu dewasa yang paling baik untuk membuat keris, tombak, dan pedang yang berfungsi sebagai alat perlindungan atau penjaga diri.
Kala Wikalpa hadir pada Soma Wuku Uye dan Bala, serta Sukra Wuku Wayang dan Watugunung dan Kala Macan hadir pada Wrhaspati Wuku Tambir. Penggabungan Kala Macan dan Kala Wikalpa mencerminkan keselarasan antara fungsi spiritual, simbolik, dan praktis dari keris sebagai senjata tradisional Bali yang memiliki nilai perlindungan dan kewibawaan.
Kala Ngadeg: Dewasa Baik untuk Pembuatan Tembok sebagai Pelindung Rumah (Sumber: Koleksi Pribadi)
Kala Ngadeg merupakan kala yang membawa dewasa baik untuk membangun unsur pelindung rumah, seperti tembok dan pagar. Dewasa ini juga dianjurkan untuk membuat kori atau pintu masuk rumah, serta sangkar bagi unggas. Pemanfaatan Kala Ngadeg bertujuan agar bangunan yang dibuat memiliki kekuatan, kestabilan, serta fungsi perlindungan bagi penghuninya.
Kala Ngadeg hadir pada Redite Wuku Pujut dan Kerulut, Soma Wuku Tambir dan Kelau, serta Sukra Wuku Warigadean. Pemanfaatan dewasa Kala Ngadeg bertujuan agar unsur pelindung rumah memiliki kekuatan dan kestabilan sejak awal pembangunannya. Kala ini diyakini mendukung terciptanya tembok dan pagar yang berfungsi sebagai penjaga batas serta perlindungan bagi rumah tangga. Pemilihan dewasa yang tepat pada Kala Ngadeg dipercaya dapat menghadirkan rasa aman, ketahanan bangunan, dan keharmonisan bagi penghuni rumah di kemudian hari.
Kala Rahu: Dewasa Baik untuk Upacara Bhuta Yadnya Mecaru (Sumber: Koleksi Pribadi)
Kala Rahu merupakan dewasa pantangan untuk melaksanakan upacara besar seperti Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, dan Manusa Yadnya, serta tidak dianjurkan untuk membangun atau mengatapi rumah. Namun demikian, Kala Rahu justru membawa dewasa baik untuk melaksanakan Caru pada Bhuta Kala, yang tidak berkaitan langsung dengan catur yadnya lainnya.
Pemanfaatan Kala Rahu untuk Bhuta Yadnya bertujuan menjaga keseimbangan antara alam sekala dan niskala, sehingga keharmonisan kosmis tetap terpelihara. Kala Rahu datang pada Redite Wuku Sinta, Sukra Wuku Gumbreg, serta Saniscara Wuku Ukir, Kulantir, dan Merakih.
Kala Kilang-Kilung: Dewasa Baik untuk Kerajinan Anyaman (Sumber: Koleksi Pribadi)
Kala Kilang-Kilung dikenal sebagai dewasa baik untuk membuat berbagai jenis barong, serta aneka kerajinan berbahan bambu dan rotan. Dewasa ini sangat mendukung pembuatan anyaman seperti keranjang, nampan, dan tempat raka yang digunakan umat Hindu dalam aktivitas keagamaan. Energi kreatif yang muncul pada Kala Kilang-Kilung dipercaya mendukung terciptanya berbagai sarana anyaman yang rapi, kuat, dan bernilai guna tinggi untuk menunjang aktivitas keagamaan.
Dewasa ini sangat tepat dimanfaatkan untuk pembuatan sarana upakara dan perlengkapan yadnya yang membutuhkan ketelitian serta kerapian. Pemilihan Kala Kilang-Kilung diyakini dapat menghasilkan karya yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki nilai estetika dan ketahanan dalam penggunaannya. Kala ini hadir pada Soma Wuku Kulantir dan Wrhaspati Wuku Tambir.
Kala Cakra: Dewasa Baik untuk Dewa Yadnya Piodalan (Sumber: Koleksi Pribadi)
Kala Cakra merupakan dewasa baik yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan upacara yadnya, khususnya Panca Yadnya. Kala ini sangat dianjurkan untuk melakukan sembahyang dan melaksanakan Dewa Yadnya, termasuk upacara piodalan di pura. Kemunculan Sang Kala Cakra ditentukan oleh wara dan wuku tertentu, salah satunya Saniscara Wuku Menail. Pemanfaatan dewasa Kala Cakra mencerminkan kesakralan dan keharmonisan energi yang mendukung pelaksanaan Dewa Yadnya dalam kehidupan spiritual masyarakat Bali. Kala ini diyakini membawa vibrasi suci yang mendukung kelancaran jalannya upacara serta ketulusan umat dalam melakukan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Oleh karena itu, Kala Cakra sangat dianjurkan untuk digunakan dalam pelaksanaan piodalan dan kegiatan persembahyangan agar tercipta keseimbangan antara bhakti, waktu, dan tata upacara.
Kala Patijengkang merupakan kala yang kemunculannya membawa dewasa baik untuk membuat sarana weweg atau sarana spiritual yang bertujuan mengusir kekuatan magis negatif (hitam), serta membuat sarana untuk keperluan peperangan. Namun demikian, kala ini dipandang tidak baik digunakan untuk pelaksanaan upacara Panca Yadnya. Dalam perhitungan Wariga, Kala Patijengkang datang pada Anggara Wuku Tambir, Budha Wuku Kuningan, Wrhaspati Wuku Langkir dan Dukut, Sukra Wuku Uye, serta Saniscara Wuku Ugu.
Kala Kingkingan: Dewasa Pantangan untuk Upacara Pernikahan (Sumber: Koleksi Pribadi)
Kala Kingkingan dikenal sebagai dewasa jelek yang secara tegas dipantangkan untuk melangsungkan upacara pernikahan atau wiwaha. Tradisi Wariga menyebutkan bahwa penggunaan dewasa ini dapat membawa dampak penderitaan dan kesedihan dalam kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu, masyarakat Bali sangat menghindari Kala Kingkingan untuk kegiatan yang berkaitan dengan penyatuan dua insan. Kala Kingkingan muncul pada hari Wrhaspati yang bertepatan dengan Wuku Kerulut.
Kala Wong merupakan dewasa pantangan yang berkaitan dengan aktivitas yang bertujuan memperindah atau mempercantik diri. Dewasa ini tidak dianjurkan untuk melakukan peminangan, upacara pernikahan, mencukur rambut, maupun kegiatan lain yang berhubungan dengan usaha manusia memperindah diri. Keberadaan Kala Wong dipandang dapat mengganggu keharmonisan hasil dari aktivitas tersebut. Kala Wong datang pada hari Budha saat Wuku Medangkungan.
Kala Pati termasuk dewasa larangan yang sangat kuat dalam Wariga Pakakalan. Kala ini dipandang tidak baik untuk menyelenggarakan segala jenis upacara, baik Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, maupun Bhuta Yadnya, serta dianggap jelek untuk segala macam pekerjaan. Karena sifatnya yang sangat berat, masyarakat umumnya menghindari segala aktivitas penting pada saat Kala Pati hadir. Kala Pati muncul pada hari Wrhaspati yang bertepatan dengan Wuku Matal.