Pura Penataran Agung Pucak Bon: Jejak Suci dari Bau Harum Dang Hyang Dwijendra yang Difitnah Guna-guna

Pura Penataran Agung Pucak Bon di Petang, Badung, merupakan pura bersejarah yang berdiri sejak abad ke-10 hingga ke-14. Tempat ini menjadi saksi perjalanan Dang Hyang Dwijendra yang sempat difitnah, namun membuktikan kesuciannya melalui peristiwa bau harum. Hingga kini, pura tetap dijaga dan dipuja, menjadi monumen sejarah sekaligus pusat spiritual umat Hindu Bali.

May 31, 2026 - 00:21
May 31, 2026 - 01:00
Pura Penataran Agung Pucak Bon: Jejak Suci dari Bau Harum Dang Hyang Dwijendra yang Difitnah Guna-guna
Pura Penataran Agung Pucak Bon (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Pura Penataran Agung Pucak Bon merupakan salah satu pura bersejarah yang berada di Banjar Adat Bon, Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Lokasinya berdiri megah di ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut, menjadikannya salah satu pura dengan panorama pegunungan yang sangat menawan. Sejak zaman Bali kuno, kawasan ini dipercaya sebagai tempat yang memiliki kekuatan magis dan spiritual. Para leluhur membangun pura di puncak pegunungan sebagai wujud pemujaan terhadap kekuatan alam semesta dan keseimbangan jagat raya. Lingkungan sekitarnya yang masih asri memperkuat keyakinan bahwa tempat ini adalah titik pertemuan antara manusia dan kekuatan suci.

Pura ini mulai dikenal sejak periode abad ke-10 hingga abad ke-14, bertepatan dengan masa pemerintahan Raja Sri Gunapriyadharmapatni. Catatan lontar dan tradisi lisan menegaskan bahwa Pucak Bon sudah menjadi pusat spiritual jauh sebelum struktur pura disempurnakan. Usia pura yang telah mencapai lebih dari enam abad menjadi bukti kuat betapa panjang perjalanan sejarah yang dilewati oleh pura ini. Keberadaannya tidak hanya sebagai tempat pemujaan, melainkan juga sebagai penanda perkembangan peradaban Bali pada masa kerajaan. Hingga kini, masyarakat masih menjaga kisah-kisah kuno yang melekat pada pura, memperlihatkan kesinambungan sejarah dari masa lalu hingga era modern.

Gerbang Utama Pura (Sumber : Koleksi Pribadi)

Tokoh suci yang meninggalkan jejak di Pucak Bon adalah Dang Hyang Dwijendra, atau dikenal pula dengan nama Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Beliau datang ke kawasan ini dalam rangka perjalanan penyebaran ajaran dharma yang berlangsung di berbagai wilayah Bali. Di Pucak Bon, beliau sempat mengalami cobaan berupa fitnah guna-guna dari pihak yang menentang pengaruh ajarannya. Fitnah tersebut dimaksudkan untuk merusak wibawa sang pendeta suci di hadapan masyarakat. Namun, alih-alih runtuh, wibawa beliau justru semakin meningkat karena kekuatan spiritualnya yang tak tergoyahkan. Kisah ini kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah Pura Penataran Agung Pucak Bon.

Peristiwa sakral terjadi ketika fitnah itu dilontarkan. Pada saat itu, tubuh Dang Hyang Dwijendra memancarkan bau harum yang sangat semerbak, menyebar ke seluruh kawasan Pucak Bon dan menimbulkan rasa kagum bagi siapa saja yang merasakannya. Peristiwa ini dipandang sebagai tanda nyata kesucian beliau, sekaligus bukti bahwa tuduhan yang diarahkan sama sekali tidak benar. Bau harum yang muncul bukanlah hal biasa, melainkan karunia ilahi yang membuktikan kebenaran dharma. Dari kisah inilah masyarakat meneguhkan keyakinannya bahwa Pucak Bon adalah tempat sakral yang menyimpan energi spiritual tinggi. Sampai saat ini, cerita tentang bau harum tersebut masih dilestarikan dalam tradisi lisan umat Hindu di Bali.

Arsitektur Pura Penataran Agung Puncak Bon (Sumber : Koleksi Pribadi)

Peninggalan sejarah yang terlihat jelas di kawasan pura dapat dilihat dari arsitektur tradisionalnya yang khas, terutama pada tata ruang dan bentuk bangunan yang berundak. Susunan pura yang berlapis dari bawah hingga puncak gunung mencerminkan perjalanan spiritual manusia menuju kesempurnaan rohani. Setiap undakan memiliki makna simbolis, seolah menjadi tahap penyucian diri yang harus dilalui oleh umat ketika bersembahyang. Selain sebagai tempat ibadah, struktur berundak ini juga merupakan wujud filosofi kosmologi Bali yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Arsitektur pura yang terintegrasi dengan alam pegunungan menjadikan kawasan ini bukan hanya tempat suci, tetapi juga monumen hidup dari sejarah dan spiritualitas leluhur Bali.

Area Utama Mandala Pura Penataran Agung Puncak Bon (Sumber : Koleksi Pribadi)

Pura Penataran Agung Pucak Bon tetap dijaga hingga kini karena memiliki nilai spiritual dan sejarah yang sangat tinggi. Masyarakat adat setempat bersama para pengempon melaksanakan tanggung jawab untuk merawat pura ini secara turun-temurun. Piodalan tetap dilaksanakan tiga kali setahun, yaitu pada Purnamaning Kasa, Kawulu, dan Kesanga, yang dihadiri oleh ribuan umat dari berbagai daerah. Dalam setiap upacara terdapat aturan unik berupa larangan menggunakan sarana upacara berwarna merah, sebuah tradisi kuno yang diwariskan oleh leluhur dan terus dipatuhi hingga sekarang. Keunikan ini memperlihatkan betapa kuatnya ikatan antara nilai sejarah, adat, dan keyakinan masyarakat Bali dalam menjaga kesucian pura.

Dengan demikian, Pura Penataran Agung Pucak Bon berfungsi sebagai monumen sejarah sekaligus pusat spiritual. Kisah bau harum Dang Hyang Dwijendra yang muncul saat difitnah guna-guna menjadi simbol bahwa kebenaran dan kesucian selalu bertahan menghadapi segala cobaan. Sejarah yang melekat pada pura ini tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga pedoman moral bagi umat untuk selalu berpegang pada dharma. Hingga kini, pura ini tetap menjadi saksi bisu perjalanan sejarah, spiritualitas, dan keagungan ajaran dharma di Bali.