Tari Rejang Pande Suci Wedana: Widyadari Dewi Saraswati dalam Gerakan dan Pakaian
Desa Tihingan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung merupakan daerah yang terkenal karena sentra industri gongnya. Industri gong tersebut sangat terkait dengan keberadaan warga Pande Urip Wesi di desa setempat. Selain industri gong, Warga Pande di Desa Tihingan juga memiliki kesenian sakral yang disebut tari Rejang Pande Suci Wedana.
Tari Rejang Pande Suci Wedana Tihingan, sebuah persembahan seni tari yang khas, menciptakan landasan spiritual dan kultural yang mendalam di Pura Penataran Dalem Pande Urip Wesi, Tihingan. Diciptakan pada tahun 2016, tarian ini tidak hanya menjadi simbol penyucian dalam upacara piodalan di pura tersebut, tetapi juga menggambarkan kearifan lokal dan kekhasan adat.
Tari Rejang Pande ini adalah tari sakral, hanya dipentaskan di pura kawitan, pura pajenengan atau ibu, dan sempat pula ditarikan di Besakih. Proses penciptaan tari sepenuhnya melibatkan jero mangku dan para yowana Pande di desa, prosesnya pun terbilang cukup cepat, karena kepercayaan masyarakat bahwa proses tersebut telah dibimbing Ida Bhatara Kawitan. Penata gerak pun seolah-olah berada antara kondisi sadar dan tak sadar pada saat mengembangkan tari ini.
Tari Rejang Suci Wedana Tihingan memiliki asal-usul yang unik, diawali dengan Pawisik yang dirasakan oleh Pemangku Pamucuk, Ida Betara Kawitan, yang menyuarakan "Rejang pinaka Penyucian." Hal ini mendorong Kelihan Pura dan pengempon untuk menciptakan tarian ini, tari rejang tersebut diberi nama “Suci Wedana” yang terinsiprasi dari nama salah satu Caru yakni Caru Gelar Solas Suci Wedana. "Suci" meng andung arti bersih atau suci, sementara "Wedana" merujuk pada wajah-wajah suci.
Penari Rejang Pande (Sumber Photo : Koleksi Penulis)
Tari Rejang Pande Suci Wedana Tihingan tentunya tidak sama seperti Tari Rejang pada umumnya yang bisa ditarikan diberbagai Pura di Bali, namun sesuai awig-awig di Pura setempat, Tari Rejang Pande Suci Wedana Tihingan hanya boleh ditarikan di Pura Pande saja dan hanya boleh ditarikan oleh Para Wanita berkasta Pande yang masih remaja (Truni Yowana Pande). Jumlah penari bisa 5, 6, 9, dan 11 orang. Para penari yang disebut Truni Yowana Pande yang sudah nunas pawintenan disebut “Pawintenan Brahma Angga”. Sebelum disolahkan, penari muspa nuhur penugrahan taksu dan dihadapan para penari dipersembahkan upacara segeh agung ditujukan kehadapan taksu apsari/widyadari yang telah melingga pada diri penari.
Tari Rejang Pande Suci Wedana Tihingan tidak hanya mencuri perhatian melalui gerakannya, tetapi juga dengan iringan gambelan Semarandana yang melengkapi keindahan artistiknya. Setiap elemen musik seperti Terompong & Reong, Kendang (Wadon), Gangsa, Kantilan, Jegog, dan lainnya, memberikan nuansa spiritual yang mendalam pada setiap penampilan.
Tarian itu didominasi dengan penggunaan kostum berwarna merah, dengan aksara suci “Ang” di bagian dada. Aksara suci tersebut merupakan wujud penghormatan pada Dewa Brahma. Tari ini ditarikan gadis dari yowana Pande sesuai dengan arah mata angin. Selain itu saat menarikannya juga diiringi oleh Panca Gita, yakni genta, tambur, gagitan, gendongan dan tabuh, sehingga meningkatkan vibrasi kesakralan tari tersebut.
Fungsi tarian ini dalam konteks keagamaan sangat signifikan. Dalam setiap piodalan di Pura Penataran Dalem Pande Urip Wesi, Tari Rejang Pande Suci Wedana Tihingan menjadi bagian integral yang harus tampil. Diyakini sebagai "Rejang Pinaka Penyucian," tarian ini menyumbang pada kesucian upacara, membawa pemurnian pada areal Pura.
Sementara itu, dari segi spiritual, tarian ini bertujuan mensucikan seluruh areal Pura, khususnya Madya Mandala yang akan dijadikan sebagai tempat Tedunnya Tapakan Ida Bhatara Ratu Pande. Sehingga, Tari Rejang Pande Suci Wedana Tihingan bukan hanya sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah medium spiritual yang mendalam.
Dari segi sosial, tarian ini menunjukkan eksistensi trah/warga Pande kepada masyarakat luas. Dengan mempertahankan tradisi ini sebagai tarian wali/sakral yang hanya dapat dilakukan di Pura Pande dan oleh Truni Yowana Pande, masyarakat Desa Tihingan menjaga keaslian dan kekhususan seni budaya mereka.
Penari Rejang Pande (Sumber Photo : Koleksi Penulis)
Secara umum makna yang terkandung pada Tari Rejang Pande Suci WedanaTihingan, adalah sebagai representative widyadari/ancangan Dewi Saraswati sebagai Sakti-nya Dewa Brahma, yang turun “napak pertiwi” guna mensucikan areal Pura Penataran Dalem Pande Dalem Urip Wesi. Namun secara khusus, terdapat beberapa makna yang terkandung pada Gerakan dan juga Pakaian dari Tari Rejang Pande Suci Wedana Tihingan.
Menurutnya, ada beberapa orang yang berusaha meniru tarian ini lewat rekaman yang banyak beredar. Namun, banyak yang gagal menirunya, bahkan saat dipentaskan di tempat lain ada bagian-bagian yang hilang dan janggal. Hal tersebut disebabkan tari ini memang tidak sembarangan boleh ditarikan, sebelum memulai menarikannya pun terdapat beberapa ritus yang dilewati terlebih dahulu. Saat ini, tari Rejang Pande Suci Wedana telah mendapat pengakuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kemenkum HAM RI beberapa bulan yang lalu.
Tari Rejang Pande Suci Wedana Tihingan di Pura Penataran Dalem Pande Urip Wesi tidak hanya menjadi daya tarik visual, tetapi juga menyiratkan nilai-nilai keagamaan, spiritual, dan sosial yang kaya. Sebuah karya seni yang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan merawat warisan budaya yang bersifat sakral, sekaligus mengharukan dan memukau hati yang menyaksikannya.
Dengan keunikan dan kekhususan yang dimiliki, harapan untuk Tari Rejang Pande Suci Wedana Tihingan melibatkan dua aspek penting. Pertama, diharapkan tarian ini terus menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual keagamaan di Pura Penataran Dalem Pande Urip Wesi, meneruskan tradisi penyucian dan pembersihan yang telah diwariskan. Kedua, diharapkan pula bahwa keberadaan tarian sakral ini dapat terus diapresiasi dan dihormati oleh masyarakat luas, menjadi semacam jembatan yang menghubungkan generasi saat ini dengan kekayaan spiritual dan budaya Bali yang mendalam. Dengan demikian, Tari Rejang Pande Suci Wedana Tihingan tidak hanya menjadi warisan berharga bagi Desa Tihingan, tetapi juga berkontribusi dalam melestarikan dan merawat kearifan lokal yang membentuk identitas kultural Bali.