Tangkas Putra Arya Kanuruhan: Tragedi Kesalahpahaman yang Hampir Mengakhiri Garis Keturunan
Menceritakan sejarah perjalanan keluarga besar Arya Kanuruhan, sebuah keturunan bangsawan yang berasal dari Kerajaan Kediri di Jawa Timur, kemudian menetap di Bali pada masa kejayaan Majapahit. Fokus kajian berada pada tokoh Pangeran Tangkas, putra Arya Kanuruhan, yang mengalami peristiwa tragis akibat kesalahpahaman terhadap surat perintah raja. Peristiwa tersebut hampir mengakhiri garis keturunan keluarga Tangkas, namun akhirnya terselamatkan berkat kebijakan raja yang menjunjung tinggi nilai kesetiaan, kelangsungan garis keturunan, serta harmoni sosial-politik pada masa itu. Artikel ini menunjukkan bahwa sejarah keluarga Tangkas bukan sekadar kisah lokal, melainkan refleksi dari dinamika kekuasaan, kesetiaan seorang abdi, dan makna penting penerus dalam tradisi masyarakat Hindu-Bali.
Arya Kanuruhan Melakukan Ekspedisi Ke Bali, Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)
Arya Kanuruhan berasal dari garis keturunan kerajaan Kediri. Pada abad ke-13, Kerajaan Kediri dipimpin oleh Raja Kertajaya, yang memiliki seorang putra bernama Jaya Katwang. Dari garis inilah lahir Jaya Katha, yang setelah kekalahan Kediri oleh Ken Arok terpaksa melarikan diri ke Tumapel bersama istrinya yang sedang hamil.
Di Tumapel, keluarga Jaya Katha disambut oleh kerabat sang istri serta keluarga Kebo Ijo. Dari perkawinan tersebut lahir tiga putra: Arya Wayahan Dalem, Arya Katanggaran, dan Arya Nudhata.
Keturunan Arya Kanuruhan berawal dari garis Arya Katanggaran. Dari sinilah, melalui Kebo Anabrang sebagai ayahnya, lahirlah Arya Kanuruhan yang kelak menjadi tokoh penting dalam sejarah Bali.
Dalam ekspedisi Gajah Mada ke Bali, Arya Kanuruhan turut serta bersama para bangsawan Jawa lainnya. Pasukan Majapahit sempat kewalahan menghadapi perlawanan Ki Pasung Grigis. Namun melalui kecerdikan diplomasi, Gajah Mada berhasil membawa Ki Pasung Grigis ke Majapahit. Penempatan pasukan Majapahit di Bali kemudian menjadi strategi untuk menjaga keamanan, salah satunya adalah menempatkan Arya Kanuruhan di daerah Tangkas.
Arya Kanuruhan Setia Terhadap Raja, Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)
Berbekal kemampuan dalam pemerintahan serta garis keturunan yang dihormati, Arya Kanuruhan diangkat sebagai Menteri Sekretaris Negara. Ia kemudian dikaruniai tiga putra: Arya Brangsinga, Arya Kanuruhan, dan Arya Pegatepan.
Tiga Orang Putra Dari Arya Kanuruhan, Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)
Dari ketiga putra tersebut, Arya Tangkas / Pangeran Tangkas menjadi tokoh yang paling menonjol. Ia dipercaya raja untuk memimpin wilayah Kertalangu, menggantikan keturunan Arya Demung Wangbang yang meninggalkan daerah tersebut.
Sebagai abdi raja, Pangeran Tangkas dikenal setia dan berintegritas tinggi. Ia memiliki seorang putra bernama Tangkas Dimade. Namun karena terlalu dimanjakan, Tangkas Dimade tumbuh tanpa keterampilan membaca dan menulis, yang kelak menyebabkan tragedi besar dalam keluarga Tangkas.
Suatu ketika, raja menjatuhkan hukuman kepada seseorang dan memberi surat hukuman mati bagi siapa pun pembawanya. Saat surat itu tiba di Kertalangu, Pangeran Tangkas tidak ada di rumah. Tangkas Dimade yang buta huruf menerima dan menyerahkan surat itu kepada ayahnya.
Setelah membaca isi surat, Pangeran Tangkas hancur hati. Menurut titah raja, Tangkas Dimade dianggap harus dihukum mati. Dalam dilema antara kasih sayang dan kesetiaan, ia memilih melaksanakan perintah raja. Tangkas Dimade menerima nasib dengan ikhlas setelah dinasihati oleh ayahnya.
Nasihat Terakhir Pangeran Tangkas, Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)
Diiringi isak tangis warga Kertalangu, Pangeran Tangkas menusukkan keris ke tubuh putranya setelah melakukan persembahyangan ke empat penjuru mata angin.
Sementara itu, orang yang bersalah justru kembali ke istana dengan selamat. Raja terkejut dan menyadari kesalahpahaman fatal telah terjadi, namun utusan yang dikirim untuk menghentikan tragedi sudah terlambat.
Mengetahui hal tersebut, raja sangat menyesal. Namun sejak kejadian itu, Pangeran Tangkas menolak menghadap raja meski dipanggil berkali-kali.
Untuk memulihkan hubungan dan menyelamatkan garis keturunan Tangkas, raja mengutus utusan khusus. Dengan berat hati, Pangeran Tangkas datang ke Puri Dalem Gelgel. Raja bahkan menghentikan rapat penting demi menyambutnya, wujud penghargaan atas kesetiaan Pangeran Tangkas.
Raja kemudian mengambil keputusan penting yaitu memberikan Ni Luh Kayu Mas yang pada saat itu sedang hamil untuk dinikahkan dengan Pangeran Tangkas. Bayi dalam kandungan itu kelak lahir sebagai Pangeran Tangkas Kori Agung.
Secara biologis, Tangkas Kori Agung adalah putra raja, namun secara adat ia diakui sebagai penerus keluarga Tangkas. Untuk memperkuat hubungan politik dan sosial budaya, Tangkas Kori Agung kemudian menikah dengan keluarga Arya Kepasekan.
Sejarah keluarga Tangkas memperlihatkan bahwa kesetiaan seorang abdi kepada raja bisa melampaui naluri seorang ayah. Tragedi Tangkas Dimade menunjukkan kuatnya budaya Bali, di mana pengabdian terhadap raja dianggap lebih tinggi daripada kepentingan pribadi.
Pada saat yang sama, kebijaksanaan raja dalam menjamin keberlanjutan garis keturunan melalui pengakuan Tangkas Kori Agung menunjukkan pentingnya kelangsungan kawitan dan stabilitas politik dalam pembentukan identitas sosial-budaya Bali.
Daftar Pustaka:
- Pengurus Pura Pusat Tangkas Kori Agung Klungkung. Riwayat Arya Kanuruhan dan Pangeran Tangkas Kori Agung. (1987). Klungkung: Pengurus Pura Pusat Tangkas Kori Agung.
- Seregig, I. K. Babad Tangkas Koriagung. (2014). Surabaya: Pramita.
- Supatra, Kanduk. Babad Arya Kanuruhan: Arya Singa Sardhula Bergelar Arya Kanuruhan. (2016). Denpasar: PT. Pustaka Bali Post.