Konflik Ida Dalem Tarukan: Dari Tahta Kerajaan Hingga Jejak Pelarian di Tanah Bali Kuno

Ida Dalem Tarukan, seorang pangeran dari istana Samprangan , memicu konflik dengan kakaknya, Dalem Samprangan, setelah menikahkan anak angkatnya tanpa restu sang raja. Untuk menghindari pertumpahan darah, ia memilih mengorbankan tahtanya dan melarikan diri seorang diri , hidup dalam penyamaran sebagai petani hingga akhirnya menetap di Desa Pulasari dan dihormati sebagai tokoh suci karena kebijaksanaannya.

Aug 28, 2026 - 05:07
Aug 28, 2026 - 01:01
Konflik Ida Dalem Tarukan: Dari Tahta Kerajaan Hingga Jejak Pelarian di Tanah Bali Kuno
Ilustrasi Ida Dalem Tarukan (Sumber Photo : Koleksi Pribadi)

Ida Dalem Tarukan, putra Sri Aji Dalem Kresna Kepakisan dari istana Samprangan, adalah tokoh kunci dalam sejarah Bali Kuna. Hidupnya diwarnai konflik internal kerajaan dan pelarian panjang, yang membentuk warisan dan dampaknya bagi masyarakat Bali hingga kini. Ayahnya, Sri Aji Dalem Kresna Kepakisan, menjadi raja Bali pada abad ke-14. Ida Dalem Tarukan mendirikan puri di Tarukan, Pejeng Gianyar, dan dikenal peduli terhadap rakyatnya.

Ilustrasi AI, Pernikahan Tanpa Restu (Sumber Photo : Koleksi Pribadi)

Akar permasalahan dimulai dari sebuah janji. Ida Dalem Tarukan bernazar bahwa jika anak angkatnya, Kuda Pinandang Kajar, sembuh dari penyakit parah, ia akan dinikahkan dengan Dewa Ayu Muter, yang merupakan putri dari kakaknya sendiri, Dalem Samprangan. Ketika Kuda Pinandang Kajar sembuh, Ida Dalem Tarukan menepati janjinya. Namun, pernikahan tersebut dilaksanakan tanpa meminta izin atau restu dari Dalem Samprangan, sang penguasa tertinggi. Tindakan ini dianggap sebagai pelanggaran etika kerajaan yang serius dan sebuah penghinaan terhadap wibawa Dalem Samprangan.

Ilustrasi AI, Konflik dan Pengorbanan di Puri Tarukan (Sumber Photo : Koleksi Pribadi)

Kemarahan Dalem Samprangan memuncak. Merasa wibawanya diinjak-injak, ia mengerahkan pasukan kerajaan dalam jumlah besar untuk menyerbu dan menghancurkan puri kediaman adiknya di Tarukan. Dihadapkan pada ancaman serangan militer yang tak seimbang dan potensi pertumpahan darah di antara kerabat dan rakyat, Ida Dalem Tarukan mengambil sebuah keputusan yang heroik sekaligus tragis. Untuk meredam konflik dan mencegah kehancuran, beliau memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri. Beliau memutuskan untuk meninggalkan puri seorang diri, memerintahkan pasukannya untuk tidak melawan dan menyerah, serta merelakan istrinya yang sedang hamil untuk ditinggalkan.

Ilustrasi AI, Pelarian Ida Dalem Tarukan (Sumber Photo : Koleksi Pribadi)

Setelah memutuskan meninggalkan purinya seorang diri, Ida Dalem Tarukan memulai babak baru hidupnya sebagai seorang pelarian. Masa-masa awal pelariannya sangatlah berat, karena pasukan dari Samprangan tanpa henti memburunya. Tekanan ini memaksanya untuk terus-menerus bergerak dari satu tempat ke tempat lain dan selalu waspada agar identitasnya tidak terbongkar.

Untuk bertahan hidup dan menyembunyikan jejaknya, beliau menanggalkan seluruh atribut dan kemewahan kebangsawanannya. Beliau kemudian menyamar sepenuhnya sebagai seorang petani biasa, bahkan turut bekerja di ladang untuk berbaur dengan rakyat jelata. Perjalanan panjangnya membawa beliau melintasi berbagai desa terpencil yang berada di kawasan pegunungan. Rutenya tercatat melewati wilayah Taro di Gianyar dan kawasan Subak Pulesari, sebelum akhirnya beliau menemukan lokasi yang aman untuk menetap di Desa Pulasari, Tembuku, Bangli.

Dengan berhasil mengasingkan diri dan menghilangkan jejaknya, Ida Dalem Tarukan pada akhirnya berhasil meredam amarah Dalem Samprangan, yang kemudian mengakhiri pengejaran terhadapnya. Di Desa Pulasari inilah pelariannya berakhir dan ia memulai kehidupan baru, di mana ia sangat dihormati oleh masyarakat lokal karena kesederhanaan dan kebijaksanaannya.

Ilustrasi AI, Warisan Abadi di Pulasari: Dari Pangeran Terusir menjadi Tokoh Suci (Sumber Photo : Koleksi Pribadi)

Meskipun ia tidak pernah kembali ke takhta atau secara resmi berdamai dengan kakaknya, konflik ini menemukan resolusinya secara tidak langsung. Dengan mengasingkan diri, Ida Dalem Tarukan berhasil meredam amarah Dalem Samprangan dan mengakhiri pengejaran. Di Pulasari, beliau membangun kehidupan baru dan justru mendapatkan rasa hormat yang tulus dari masyarakat lokal karena kebijaksanaan dan kesederhanaannya. Warisannya tidak lagi diukur dari kekuasaan, melainkan dari keteladanan. Kisah pengorbanannya dilestarikan secara turun-temurun oleh rakyat dan keturunannya (Sentana Dalem Tarukan) melalui babad dan pendirian Pura Padharman Pusat di Pulasari. Inilah penyelesaian konfliknya: transformasinya dari seorang pangeran yang terusir menjadi seorang tokoh suci yang dihormati, yang warisannya hidup abadi dalam budaya dan spiritualitas Bali.

DAFTAR PUSTAKA

Pulasari, Jro Mangku, 2007. Babad Pulasari dan Bhisama Ida Bhatara Dalem Tarukan. Denpasar: Paramita

Wikarman, I Nyoman Singgih, 1998. Leluhur Orang Bali dari Dunia Babad dan Sejarah. Denpasar: Paramita

Sentana Dalem Tarukan, Para Gotra, 2011. Babad Dalem Tarukan Ketusan Saking Babad-Babad Pulasari. PT.Tohpati Grafika