Sri Astasura Ratna Bumi Banten: Raja Terakhir Bedahulu Dalam Bayang-Bayang Kehancuran (1337 M)
Sri Astasura Ratna Bumi Banten merupakan raja terakhir Kerajaan Bedahulu pada abad ke-14. Beliau dikenal dengan pembangkangannya yang menolak untuk tunduk terhadap majapahit serta memiliki keinginan agar bali tetap merdeka tanpa kendali kerajaan jawa tersebut. Sikap pembangkangannya membuat pihak Majapahit menilai dirinya sebagai raja yang “jahat dan hina”, sebagaimana disebutkan dalam Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Bedahulu menghadapi tantangan karena dinamika internal dan ancaman luar yang membuat pondasi politik semakin rapuh. Perjalanan kepemimpinannya juga memainkan peran penting dalam pergeseran Bali Kuna menuju era Majapahit yang lebih luas.
Sri Astasura Ratna Bumi Banten mulai berkuasa sekitar tahun 1337 M di Kerajaan Bedahulu yang pusat pemerintahanya berada di wilayah Pejeng–Tampaksiring, Gianyar. Namanya terbaca dalam Prasasti Langgahan tahun 1259 Caka/1337 M dan Prasasti Gunung Panulisan. Pada masa pemerintahanya, ia menetapkan hukum. Hukum-hukum ini disusun dalam bentuk kata-kata yang diukir pada logam perunggu. Meski situasi saat ini semakin sulit, kepemimpinannya sangat mencerminkan tekad yang kuat untuk mempertahankan Bedahulu. Selain itu, kepemimpinan raja terakhir Bedahulu tersebut dianggap sebagai simbol dari masa pelestarian di Bali Kuno. Pemerintahannya dinilai cerdas dan bijaksana serta taat melaksanakan upacara keagamaan. Ia juga sangat menghormati para pendeta Ciwa, Budha, Resi Mahabrahmana, serta Pemuka Desa disamping pejabat pusat. Hal ini menunjukkan bahwa ia bukan penguasa otoriter, melainkan raja yang menjunjung tinggi musyawarah dan keagamaan.
Ilustrasi AI Sri Astasura Ratna Bumi Banten dikelilingi oleh para bangsawan
Namun dibalik semua itu, Sri Astasura Ratna Bumi Banten menghadapi tantangan yang besar. Ketidakstabilan politik sering terjadi karena para bangsawan dan pendeta yang seharusnya mendukung kerajaan memiliki kepentingan yang berbeda . situasi ini memperlemah fondasi politik kerajaan. Meskipun Bedahulu tetap menjadi pusat budaya dan spiritual yang dihormati. Keadaan ini lebih mencerminkan fase transisi politik.
Dalam beberapa naskah Bali, Sri Astasura Ratna Bumi Banten juga dikenal dengan berbagai gelar seperti Cri Tapolung , Cri Beda Muka , Cri Beda Murdi , atau Dalem Bedahulu . Gelar-gelar ini mengandung makna yang mirip seperti “Beda Muka/Murdi/Bedahulu” yang berarti “berbeda kepala”, yaitu pemandangan berbeda dengan kerajaan pusat (Majapahit). Sementara sebutan “Cri Tapolung” diartikan sebagai raja pertapa yang sakti, berkaitan dengan pertapaan yang ia tetapkan pada prasasti Langgahan. Beberapa indentitas ini menunjukkan bahwa bagaimana tradisi Bali Kuna memaknai sosok raja sebagai tokoh religius sekaligus politik.
Ilustrasi AI Pemandangan udara kompleks candi Bedahulu di Pejeng, Gianyar
Pusat kerajaan Pejeng–Tampaksiring memiiki peran yang strategis sekaligus sakral. Adanya candi-candi seperti Pura Penataran Sasih menjadi warisan serta bukti kekayaan budaya dan spiritual kerajaan bedahulu, walaupun kondisi wilayah secara geografisnya yang berbukit dan berlembah menyebabkan penyatuan politik tidak mudah dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Bedahulu memiliki warisan keagamaan dan budaya yang kuat, letak dan kondisi wilayahnya justru membatasi kemampuan kerajaan untuk memperkuat kekuasaan di dalam perpecahan politik internal. Kerapuhan inilah yang akhirnya membuka celah bagi Majapahit untuk melancarkan serangan besar terhadap Bedahulu
Ilustrasi AI Sri Astasura Ratna Bumi Banten memimpin pasukannya
Ketegangan memuncak ketika Majapahit di bawah perintah Ratu Tribhuwana Tunggadewi mengutus Mahapatih Gajah Mada untuk menyerang Bali. Sri Astasura Ratna Bumi Banten , sebagai raja, berusaha keras untuk mengatasi krisis masa . Sri Astasura Ratna Bumi Banten mengutamakan diplomasi, berusaha merangkul pihak-pihak yang berseberangan, dan memperkuat legitimasinya melalui berbagai upacara keagamaan. Selain itu, Sri Astasura Ratna Bumi Banten berusaha mempertahankan simbol-simbol budaya agar rakyat tetap merasa dilindungi kerajaan. Namun, tindakan ini hanya dapat mencegah kerusakan yang semakin tidak terhindarkan. Serangan pertama gagal karena kuatnya pertahanan Bedahulu, tetapi pada serangan kedua tahun 1343 M , Gajah Mada dengan bantuan Arya Damar dan para Arya lainnya berhasil menaklukkan Bedahulu.
Ilustrasi AI Sri Astasura Ratna Bumi Banten berdiri di gerbang istana yang rusak
Sering disebut sebagai “bayang-bayang kehancuran”, masa kepemimpinan Sri Astasura Ratna Bumi Banten akhirnya mencapai titik akhir. Runtuhnya Kerajaan Bedahulu bukan hanya dipicu oleh satu faktor saja, melainkan dipicu oleh beberapa faktor seperti rapuhnya politik di dalam Kerajaan Bedahulu dan ganasnya tekanan dari luar yakni dengan meningkatnya tekanan eksternal, yaitu ekspedisi Majapahit. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan kerajaan untuk mempertahankan pelestariannya semakin terbatas. Warisan terbesar dari kepemimpinan Sri Astasura Ratna Bumi Banten adalah pengingat bahwa persatuan dan keharmonisan tetap menjadi fondasi penting bagi ketahanan sebuah kerajaan, lebih dari sekedar mengandalkan kekuatan militer.
Daftar Pustaka
Alit, DM (2019). Strategi politik Majapahit menaklukan Kerajaan Bali 1352–1380 M. Ilmu Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 9 (1), 45–56. https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/socialstudies/article/view/585
Anak Agung Gede Raka. (2020). Pejeng-Bedulu, pusat kerajaan zaman Bali Kuna. Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/pejeng-bedulu-pusat-kerajaan-zaman-bali-kuna-oleh-anak-agung-gede-raka-universitas-warmadewa/
Armadira, EP, Susanto, H., & Imanita, M. (2019). Penaklukan Bali oleh Kerajaan Majapahit tahun 1343 M. PESAGI (Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah), 7 (2), 1–12. https://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/PES/article/view/19730
Jaya, IBS (2018). Kronologi pemerintahan raja-raja Bali abad XIII–XIV. Gudang Universitas Udayana. https://repositori.unud.ac.id/protected/storage/upload/repositori/ID3_19741004200212100121081404813kronologi-raja-raja-bali-abad-xiii-xiv-sejak-penaklukan-gajah-mada-(validasi)-sip.pdf