Transformasi Politik dan Sosial pada Era Raja Bhatara Guru II di bawah bayangan Singasari
Kepemimpinan Raja Bhatara Guru II di bayang-bayang Singasari pada 1324 M
Bali, 1324 Masehi — Pulau Dewata yang kini identik dengan pariwisata dan budaya eksotis, pernah menjadi bagian dari percaturan politik besar Nusantara. Pada masa itu, seorang raja bernama Bhatara Guru II naik takhta di Bali. Namun kekuasaan sang raja tak sepenuhnya mandiri. Ia berdiri di bawah pengaruh kuat kerajaan besar di Jawa Timur: Singasari.
Raja Bhatara Guru II (Sumber: Koleksi Pribadi)
Singasari, kerajaan yang berdiri di Jawa Timur sejak abad ke-13, dikenal sebagai kekuatan ekspansionis. Raja Kertanegara (1268–1292) adalah tokoh utama yang mengembangkan politik luar negeri hingga menembus Sumatra, Semenanjung Malaya, bahkan mengincar Bali. Ekspedisi militer ke Bali disebut dalam beberapa sumber Jawa. Menurut Sejarah Nasional Indonesia (2010), Bali akhirnya masuk dalam orbit politik Jawa. Situasi ini memengaruhi penobatan Bhatara Guru II pada 1324 M, yang berlangsung di bawah bayangan hegemoni Jawa.
Candi terbuat dari Batu dengan arsitektur khas Hindu-Buddha (Sumber: Koleksi Pribadi)
“Bali saat itu bukan hanya menjalankan kekuasaan lokal, tetapi juga ikut dalam orbit hegemoni Jawa,” ungkap riset yang dipublikasikan BRIN melalui Amerta (2018).
Di masa Bali Kuno, raja bukan hanya pemimpin politik, tetapi juga dianggap sebagai wakil dewa di bumi. Bhatara Guru II memperkuat hal ini. Ia menyematkan gelar religius yang berhubungan langsung dengan Bhatara Guru, yakni perwujudan Dewa Siwa sebagai guru semesta. Kajian ikonografi arkeologi (Amerta, 2018; Suhardana, 2021) menemukan bahwa arca-arca dari periode ini menggambarkan sinkretisme Hindu-Buddha. Arca bukan hanya benda seni, tetapi simbol legitimasi. Dengan cara ini, raja memperluas otoritasnya ke ranah spiritual — membuat rakyat memandangnya sebagai pemimpin duniawi sekaligus suci. Di beberapa prasasti, gelar raja bahkan disandingkan dengan istilah religius, menandakan bahwa kekuasaan politik dan agama melebur menjadi satu.
Pengaruh Jawa bukan hanya soal politik. Struktur sosial masyarakat Bali ikut berubah. Sistem birokrasi kerajaan meniru pola Jawa. Ada pejabat dengan peran ganda: mengurus administrasi sekaligus berfungsi dalam kegiatan keagamaan.
Transformasi politik dan sosial pada masa pemerintahan Raja Bhatara Guru II (Sumber: Koleksi Pribadi)
Menurut dokumen Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Bali (Kemdikbud, 1977), struktur sosial Bali semakin berlapis. Bangsawan dan rohaniawan menempati posisi istimewa, sementara rakyat biasa ditempatkan dalam hierarki yang lebih ketat. Selain itu, sistem desa juga berkembang dengan aturan baru yang menekankan harmoni antara kepentingan kerajaan dan masyarakat adat. Inilah cikal bakal tradisi desa adat Bali yang bertahan hingga sekarang.
Perubahan juga tampak pada budaya material. Penelitian arkeologi menemukan gaya arsitektur pura dan candi di Bali yang mendapat sentuhan Jawa. Ukiran, tata letak, hingga bentuk gapura menunjukkan perpaduan antara seni Bali lokal dan pengaruh Jawa Timur (Prosiding ISI Denpasar, 2019).
Gaya arsitektur Bali yang terpengaruhi oleh gaya seni Jawa (Sumber: Koleksi Pribadi)
“Akulturasi ini menandakan bahwa Bali tidak sekadar dijajah secara politik, tetapi juga menyerap unsur budaya luar untuk memperkaya identitasnya,” tulis Berita Penelitian Arkeologi (1985).
Transformasi politik dan sosial pada masa Bhatara Guru II memberikan fondasi penting bagi perkembangan Bali selanjutnya. Kerajaan-kerajaan besar di Bali seperti Gelgel dan Klungkung lahir dari sistem yang dibentuk pada masa ini. Lebih dari itu, sinkretisme agama Hindu-Buddha yang berkembang pada abad ke-14 menjadi dasar praktik keagamaan Bali modern. Upacara, arsitektur pura, dan sistem kasta yang kini dikenal masyarakat Bali, berakar pada periode ini.
Patung Raja Bhatara Guru II (Sumber: Koleksi Pribadi)
Sejarawan menilai masa pemerintahan Bhatara Guru II adalah periode kunci. Bali tidak hanya menunjukkan kemampuannya bertahan di bawah tekanan politik luar, tetapi juga berhasil mengolah pengaruh Singasari menjadi bagian dari identitasnya. Jejak itu masih bisa dilihat hari ini: pura dengan gaya arsitektur Jawa-Bali, upacara yang memadukan Siwaisme dan Buddhisme, hingga struktur sosial desa adat. Semua itu adalah warisan dari era ketika Bali berada dalam bayangan Singasari, tetapi tetap menjaga jati dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Amerta. (2018). Menggali makna ikonografis pada arca .... Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah, BRIN. Diakses dari https://brin.go.id/amerta
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (1977). Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Bali. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Diakses dari https://repositori.kemdikbud.go.id
Prosiding ISI Denpasar. (2019). Citra Arok dan historiografi Pararaton: Tinjauan kembali narasi raja Singasari dan pengaruhnya di Bali. E-Proceeding ISI Denpasar. Diakses dari https://eproceeding.isibali.ac.id
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. (1985). Berita Penelitian Arkeologi: Laporan penelitian epigrafi Jawa Timur–Bali. Jakarta: Puslit Arkenas. Diakses dari https://repositori.kemdikbud.go.id
Suhardana, K. (2021). Bhatara Guru dalam kosmologi Hindu-Buddha di Bali: Kajian ikonografi dan arkeologi. Jurnal Etnika, 5(1). Institut Seni Budaya Indonesia.