Harmoni Religius Bali Kuno: Dinamika Hindu dan Buddha dalam Kehidupan Masyarakat

Bali kerap dijuluki Pulau Dewata, bukan hanya karena alamnya yang indah, tetapi juga karena kekayaan spiritual dan budayanya. Jauh sebelum dikenal sebagai destinasi wisata dunia, Bali sudah menjadi tempat pertemuan dua ajaran besar: Hindu dan Buddha. Yang menarik, keduanya tidak sekadar hidup berdampingan, tetapi justru membangun harmoni yang indah dalam kehidupan masyarakat.

Jul 3, 2026 - 05:25
Jul 3, 2026 - 00:41
Harmoni Religius Bali Kuno: Dinamika Hindu dan Buddha dalam Kehidupan Masyarakat
Patung Buddha dan Ganesha (Sumber: Koleksi Pribadi Ilustrasi AI)

Sejak abad ke-9 hingga ke-14, masyarakat Bali tidak terpaku pada satu kepercayaan saja. Hindu dan Buddha berkembang bersama, bahkan di dalam Hindu sendiri ada berbagai sekte yang berbeda. Uniknya, keberagaman ini tidak menimbulkan perpecahan, melainkan melahirkan masyarakat yang toleran.

Jejaknya bisa dilihat di berbagai situs bersejarah. Di Pura Pegulingan, misalnya, sebuah stupa Buddha berdiri di tengah kompleks Hindu. Begitu pula di Goa Gajah, arca Dhyani Buddha ditemukan berdampingan dengan arca Ganesha dan lingga Siwa. Semua ini menjadi simbol nyata dari integrasi dan saling menghormati.

Stupa Buddha (Sumber: Koleksi Pribadi Ilustrasi AI)

Harmoni ini tidak lepas dari peran para raja dan tokoh spiritual. Mpu Kuturan, misalnya, menyatukan berbagai sekte Hindu lewat konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa). Sementara itu, Mpu Tantular lewat karyanya Kakawin Sutasoma memperkenalkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa yang artinya “Berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang mendua.” Falsafah ini kemudian menjadi fondasi persatuan spiritual di Bali, bahkan diadopsi sebagai semboyan Bangsa Indonesia.

Tri Murti (Sumber: Koleksi Pribadi Ilustrasi AI)

Pluralisme spiritual ini berkembang pesat selama periode Bali Kuno, khususnya dari abad ke-9 hingga abad ke-14 Masehi. Jejak awal pengaruh Hindu dan Buddha di Bali sudah mulai terlihat yang ditandai dengan penemuan arca Dewa Wisnu di Pura Patapan Lembean Kintamani, serta bukti arkeologis mengindikasikan keberadaaan agama Buddha seperti stupa tanah liat berisi mantra mantra Buddha yang pada masa ini aktivitas keagamaan Buddha sudah berlangsung di Pura Goa Gajah. Pada abad ke-10, sekte Siwa (Brahmana) dan Sogata (Buddha) telah menyebar luas di Bali. Para wakil pendeta dari kedua sekte ini bahkan menduduki posisi penting dalam struktur pemerintahan. Selanjutnya pada abad ke-11, konsep pura sebagai tempat suci agama Hindu mulai diperkenalkan secara luas. Pada saat yang sama, aktivitas keagamaan Hindu juga sudah mulai berkembang di Pura Goa Gajah. Terakhir pada abad ke-14, Terjadi penaklukan Bali oleh Kerajaan Majapahit yang membuat agama Hindu menjadi lebih dominan, tetapi harmoni antara Hindu dan Buddha tetap terjaga, sebagaimana tercermin dalam karya karya sastra dari jaman Majapahit.

Keberhasilan Bali Kuno dalam menciptakan harmoni spiritual dapat dijelaskan oleh beberapa faktor, yaitu masyarakat bali yang memiliki tradisi keterbukaan terhadap pengaruh budaya baru. Para Raja Bali Kuno menerapkan kebijakan yang mengakui dan melindungi kedua agama secara setara. Keterlibatan pemimpin spiritual Hindu dan Buddha dalam struktur pemerintahan adalah bukti nyata dari pendekatan ini. Meskipun ritual dan dewa yang disembah berbeda, Hindu dan Buddha di Bali memiliki tujuan yang sama yaitu pembebasan spiritual yakni Moksa dalam Hindu dan Nirwana/Nibbana dalam Buddha. Lontar agama Siwa-Buddha bahkan menyatakan bahwa pemahaman yang sempurna membutuhkan pengetahuan tentang kedua ajaran dan menegaskan bahwa Siwa dan Buddha adalah satu kesatuan meskipun berbeda sebutan.

Raja Bali Kuno (Sumber: Koleksi Pribadi Ilustrasi AI)

Harmoni spiritual di Bali Kuno termanifestasi dalam berbagai aspek kehidupan sehari hari di masyarakat yakni kehadiran bangunan suci Hindu dan Buddha yang berdampingan, bahkan tergabung dalam satu lingkungan seperti di Pura Goa Gajah yang menjadi bukti nyata toleransi. Artefak Buddha yang lebih tua tidak dihancurkan oleh penganut Hindu yang kemudian menggunakan situs tersebut, melainkan dilindungi dan dihormati sebagai bagian dari tradisi. Seni arsitektur seperti candi, patung, relief, tari, dan pertunjukkan seperti wayang kulit dan wayang orang, semua nya menunjukkan pengaruh Hindu yang mendalam. Kisah kisah seperti Ramayana dan Mahabharata diadaptasi dalam bentuk seni lokal yang menjadi sarana moral dan spiritual. 

Upacara Galungan (Sumber: Koleksi Pribadi Ilustrasi AI)

Upacara Keagamaan seperti Nyepi dan Galungan di Bali mencerminkan integrasi ajaran Hindu ke dalam kehidupan sehari hari. Sistem Kasta meskipun telah mengalami adaptasi, juga menunjukkan pengaruh Hindu dalam struktur sosial. Dalam agama Buddha sendiri sistem kasta sudah sepenuhnya dihilangkan dan tidak digunakan lagi. Karya sastra kuno seperti Kakawin yang dipengaruhi oleh literatur Hindu, menyebarkan nilai nilai dan ajaran agama. Bahasa Sanskerta juga memberikan kontribusi signifikan terhadap kosakata dan struktur Bahasa Indonesia yang dimana ini menunjukkan akulturasi yang mendalam. Konsep konsep filosofis Hindu dan Buddha seperti Dharma, Karma, dan Reinkarnasi menjadi bagian pandangan hidup masyarakat, membentuk etika dan moralitas individu serta memengaruhi ritual upacara.

Kisah Bali kuno mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan perpecahan. Hindu dan Buddha tidak hanya berdampingan, tetapi juga saling memperkaya dari seni, sastra, arsitektur, hingga filosofi hidup. Warisan toleransi ini adalah identitas sejati masyarakat Bali: melihat keberagaman sebagai anugerah, bukan hambatan. Nilai yang patut direnungkan, bahkan di era modern seperti sekarang.

Sumber Pustaka:

Subawa, Ida Bagus Gede, (2024). Agama Hindu dan Budaya Bali: Warisan Luhur dalam Kehidupan Modern. Jayapangus Press.

Srijaya, I Wayan & K. Dedy P. R., (2021). PLURALISME PADA MASA BALI KUNO ABAD IX-XIV BERDASARKAN REKAMAN ARKEOLOGI. Researcher Discovery.

Suci, G. A. K. L. P., Ermawati, N. W. E., Sulianti, N. M., Pertiwi, L. W. D. W., & Nurhayanti, N. P. L., (2023). Pengaruh Agama Hindu Terhadap Seni Dan Kebudayaan Di Indonesia. Gudang Jurnal. 

Laksmi, Ni Ketut Puji Astiti, Identitas keberagamaan masyarakat Bali Kuno pada abad IX-XIV Masehi: kajian epigrafi. UI Library.