Jejak Prasasti Baturan: Perjalanan Desa Batuan Menjadi Desa Seni

Desa Batuan di Kecamatan Sukawati, Gianyar, dikenal sebagai desa seni yang memiliki sejarah yang panjang dan kaya akan tradisi. Pada zaman pemerintahan Paduka Haji Sri Dharmawangsa Wardana Marakata Pangkaja Stanottunggadewa tertatahlah sebuah prasasti berlempengan tembaga yang menginsyaratkan hubungan dan pengaturan krama batuan kuno terhadap seni kuno di bali. Prasasti tersebut dikenal sebagai prasasti Baturan dan masih lestari hingga saat ini

Apr 17, 2026 - 05:24
Apr 1, 2026 - 11:13
Jejak Prasasti Baturan: Perjalanan Desa Batuan Menjadi Desa Seni
Proses Pengupacaraan Prasasti Baturan, (Sumber: Koleksi Pribadi)

Bali merupakan salah satu pusat kebudayaan terbesar di Indonesia, di mana hampir setiap wilayahnya memiliki kekhasan tradisi dan nilai taksu yang diwariskan turun-temurun. Salah satunya adalah Desa Batuan di Kecamatan Sukawati, Gianyar. Desa ini memiliki potensi sejarah yang kuat sekaligus dikenal sebagai ruang hidup bagi berbagai seni tradisional yang hingga kini tetap lestari.

Pada masa pemerintahan Dinasti Warmadewa, desa ini dikenal dengan nama Baturan. Seiring berjalannya waktu, sebutan tersebut berubah menjadi Batuan, yang berasal dari kata batu. Nama ini mencerminkan kondisi wilayah desa yang memiliki kondisi berbatu. Perubahan penyebutan dalam keseharian masyarakat pada masa itu akhirnya membuat nama Baturan bergeser menjadi Batuan, dan sebutan ini terus digunakan hingga sekarang.


Seni Memahat Yang Masih Dilestarikan Hingga Saat Ini (Sumber: Koleksi Pribadi)

Desa Batuan kerap disebut sebagai gumi seni, dan sebutan itu bukan tanpa alasan. Berbagai kesenian masih dilestarikan secara turun-temurun hingga saat ini. Di Banjar Puaya dan Peninjoan, masyarakat tetap menjaga tradisi kerajinan barong, rangda, wayang kulit, topeng, serta gelungan tari. Sementara itu, Banjar Jeleka dikenal dengan keris, tombak, tongkat, dan suling. Seni lukis yang berkembang pesat di Pekandelan, Banjar Griya, dan Banjar Dlotunon atau yang dikenal dengan Citrakara. Adapun seni ukir kayu dan seni lukis tulis masih hidup di Banjar Tegeha, Bucuan, Penataran, dan Dentiyis. Ragam kesenian ini menjadi identitas Batuan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Keberlanjutan seni di Desa Batuan tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Prasasti Baturan. Prasasti tembaga ini berangka tahun Caka 944 atau 26 Desember 1022 Masehi, sehingga berusia lebih dari seribu tahun. Prasasti ini ditatah pada masa pemerintahan Paduka Haji Sri Dharmawangsa Wardana Marakata Pangkaja Stanottunggadewa, yang dikenal singkat sebagai Raja Marakata. Secara isi, prasasti Baturan menegaskan hubungan dan pengaturan karaman i baturan yang mencakup keberadaan seni dan budaya di Bali kuno. Pencatatan ini sekaligus menjadi bukti pengakuan raja terhadap kalangan profesional seni dan budaya setempat. Tidak mengherankan jika prasasti Baturan dinobatkan sebagai prasasti seni tertua di Bali, sekaligus menandai perjalanan panjang seni di pulau ini.


Salah Satu Lempengan Prasasti Desa Baturan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Prasasti Baturan lahir dari sebuah permohonan masyarakat. Pada 26 Desember 1022, para krama Desa Batuan Sepaksutani, dipimpin oleh Bhiksu Widiya sebagai petapa, Bhiksu Sukaji sebagai kepala desa, serta Mamudri Gawan sebagai juru tulis desa, menghadap Raja Marakata. Mereka diantar oleh seorang pendeta Siwa bernama Mpu Gupit dari Nguda Laya. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk memohon keringanan beban ayah-ayahan atau pajak panen yang saat itu dirasakan memberatkan masyarakat.

Lempengan Prasasti Baturan 1b (Sumber: Koleksi Pribadi)

Berikut adalah isi dari Prasasti Baturan yang memuat perjanjian tersebut

1. ⚬I śaka 944 posyamasa, tithi pratipāda śuklapaka, ma, wa, bu wara wukir, irikā diwasa nika karāmān i baturan sapasu 
2. k thāni, hulu kayu ma
aran bhiku widya, manurata tambĕ, mamudri gawan, rāma kabayan bhiku sukaji, mwa wanotara, sanduga, mana, bahi manamba 
3.
i pāduka haji śri dharmmawaśawardhanamarakatapakajasthānottugadewa, makasopāna mpuku ri udayalaya, aacaryya tikĕa, mwa samgat nā 
4. yakanāsba pu gupit, makasamban
a, majarakĕn bhara ni buñca hajinya makmitan kebwan pāduka haji sa siddha dewata luma ri er wka, i er paku, binaba 
5. danya 
akĕn pratipāda sukla, atĕhĕr makabuñcahaji ikana paudwan bhaara i baturan, mahanakĕn caru pamujā, yan hana pakon pāduka haji, anĕ 
6. hĕr ni
mikul ika palbur mare japura, makana rasa ni panamba nika karāmān i baturan sapasuk thani, kuna pwa saka ri kadharmmeṣṭan pāduka hal

Arti Dalam Bahasa Indonesia

  1. Pada tahun Saka 944 bulan Posya, hari pertama paroterang, maulu (sad wara), wage (pancawara), buda (saptawara) ukir (wuku),  itulah saatnya Desa Batuan sewilayahnya,
  2. yang diwakili oleh mantri kehutanan bernama Bhiksu Widya, Sekretaris desa bernama Tambeh, Mamudri, bernama Gawan, pemuka adat bernama Bhiksu Sukaji, Wanotara, Sandung, menghadap
  3. kepada Paduka raja Sri Dharmawangsa Wardhana Marakata Pangkajasthanottunggadewa dengan perantaraan pendeta di Udayalaya bernama Dang Acaryya Tiksena, dan Samgat Nayakan asba
  4. bernama Pu Gupit. Adapun sebabnya mereka menghadap raja yaitu, ingin menyampaikan keberatan tentang pekerjaan menjaga kebun Paduka raja yang telah menjadi dewata yang dicandikan di Air Wka dan Air Paku
  5. pada setiap hari pertama sukla paksa (paroterang) serta berbagai kewajiban kerja rodi (ngayah) ketika ada upacara untuk pemujaan bhatara di Baturan yang berupa ritual caru atas perintah raja,
  6. demikian pula tentang kewajiban-kewajiban di Japura. Demikianlah isi permohonan penduduk Desa Baturan sewilayahnya. Adapun karena kewibawaan paduka raja

Permohonan tersebut berisikan tiga hal penting, yaitu pembebasan dari kewajiban ngayah rodi atau kerja paksa, penghapusan tanggung jawab atas pajak-pajak tertentu, serta penghentian kewajiban menyuguhkan atau penangu kepada petugas kerajaan. Meski demikian, masyarakat tetap berkewajiban untuk menghaturkan persembahan dan menyungsung Pura Kahyangan Tiga yang menjadi pusat spiritual desa. Permohonan ini terlahir karena aspirasi rakyat yang ingin hidup lebih sejahtera tanpa terbebani kewajiban yang terlalu berat, namun tetap menjaga kewajiban religius mereka.

Pembacaan Prasasti Baturan Pada Hari Saraswati (Sumber: Koleksi Pribadi)

Mendengar permohonan tersebut, Raja Marakata menunjukkan kebijaksanaannya. Beliau merasa prihatin dengan kondisi rakyat Batuan, dan atas dasar kasih sayang serta ingatan akan anugerah leluhur, baginda berkenan mengabulkan permintaan masyarakat. Keputusan penting ini kemudian diabadikan dalam prasasti bertarikh Caka 944, yang hingga kini menjadi bukti nyata hubungan antara raja dengan rakyat sekaligus pengakuan terhadap eksistensi desa sebagai pusat kehidupan seni dan budaya.

Hingga sekarang, Prasasti Baturan tidak hanya dianggap sebagai dokumen atau objek sejarah, tetapi juga disungsung secara religius oleh masyarakat. Prasasti ini dipuja dengan sebutan “Ida Sanghyang Aji Saraswati” yang secara filosofis diyakini sebagai pelindung krama Desa Batuan dan wilayah sekitarnya. Piodalan atau upacara khusus terhadap prasasti ini jatuh pada hari Sabtu, Umanis Watugunung, yang dirayakan dengan penuh makna spiritual oleh warga.

Perawatan Prasasti Baturan Dilakukan Secara Hati Hati Oleh Masyarakat (Sumber: Koleksi Pribadi)

Lebih dari sekadar peninggalan sejarah, Prasasti Baturan merupakan simbol penting pengakuan terhadap seni dan budaya Bali sejak masa Bali kuno. Keberadaannya meneguhkan identitas Desa Batuan sebagai desa seni, serta menjadi saksi perjalanan panjang tradisi yang terus hidup dan berkembang hingga hari ini.

 Daftar Pustaka

Bandem, I. M. (1996). Etnologi Tari bali. Yogyakarta: Kanisius.

Budiarsa, I. W. (2022). Pengkajian Seni Dramatari: Nilai Pendidikan Pada Tokoh Potret Dalam Pertunjukan Dramatari Gambuh Gaya Desa Batuan Gianyar . Widyadharma 1, Inovasi Pembelajaran Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik.

Formaggia, M. C. (2000). Gambuh Drama Tari Bali, Wujud Seni Pertunjukan Gambuh Desa Batuan dan Desa pedungan Jilid 2. Jakarta: Yayasan Lontar.

Penyusun, T. (2021, September 13). Profil Perkembangan Desa Batuan. Retrieved from Batuan.id: https://www.batuan.desa.id