Jejak Mpu Ghana : Penjaga Tatanan Spiritual di Pulau Dewata (1000 M)
Mpu Ghana adalah salah satu dari Panca Pandita yang tiba di Bali sekitar tahun 1000 Masehi pada masa pemerintahan Raja Udayana Warmadewa. Mpu Ghana menganut ajaran Ghanapatya dan menjalani kehidupan sebagai sukla brahmacari. Tempat pemujaannya berada di Pura Dasar Buana Gelgel, Klungkung, Bali. Bersama para Mpu lainnya, Mpu Ghana berperan dalam menata kembali kehidupan keagamaan di Bali, termasuk merumuskan konsep Kahyangan Tiga. Atas jasanya dalam menjaga keseimbangan antara adat dan agama, beliau dikenang sebagai “Penjaga Tatanan Spiritual” di Bali.
Bali merupakan pulau yang tidak hanya dikenal akan keindahan alamnya saja. Namun, Bali juga kental akan tradisi dan spiritualitasnya. Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah kebudayaan di Bali dan masih dikenang sampai saat ini yaitu Mpu Ghana. Beliau adalah sosok spiritual yang mempunyai peranan vital dalam menjaga tatanan spiritual di Bali. Mpu Ghana merupakan bagian dari Panca Pandita. Jejaknya tidak hanya dapat ditemukan dalam cerita babad, tetapi juga terdapat dalam wujud pura dan praktik keagamaan yang masih ada sampai sekarang.
Tokoh suci Mpu Ghana erat kaitannya dengan lima tokoh bersaudara yang dikenal dengan Panca Pandita atau Panca Tirtha. Tokoh suci tersebut terdiri atas Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, dan Mpu Bharadah. Kelima tokoh tersebut dalam perjalanannya mempunyai kaitan yang erat dengan berdirinya berbagai tempat suci di Bali. Mereka mempunyai peranan penting dalam mengembangkan konsep ajaran Siwa-Buddha dan Hindu Dharma yang menjadi pemersatu di Pulau Bali.
Mpu Ghana datang ke Pulau Bali pada tahun 1000 Masehi pada saat pemerintahan Raja Udayana Warmadewa bersama Gunapriya Dharmaptani. Beliau berasal dari Jawa Timur datang ke Bali dan berparahyangan di Pura Dasar Buana Gelgel, Klungkung. Beliau menganut aliran Ghanapatya yang artinya aliran yang berpusat pada pemujaan Dewa Ganesha. Selain itu, Mpu Ghana juga menerapkan sukla brahmacari seumur hidupnya, yang berarti beliau hidup selibat sepanjang hayat demi pengabdian penuh kepada spiritualitas. Hal ini menunjukkan bahwa beliau merupakan seorang brahmana teladan dalam tapa brata dan pengendalian diri.
Ilustrasi AI Raja Udayana Warmadewa dan Gunapriya Dharmaptani (Sumber: Koleksi Pribadi)
Mpu Ghana dijuluki sebagai “Penjaga Tatanan Spiritual” karena beberapa alasan, yaitu beliau bersama para Mpu lainnya menyusun kembali struktur keagamaan di Bali. Sistem Khayangan Tiga (pura desa, pura puseh, dan pura dalem) yang hingga kini menjadi dasar kehidupan adat Bali merupakan gagasan yang lahir dari Panca Pandita, terutama Mpu Kuturan dengan dukungan Mpu Ghana dan para Mpu lainnya. Pada masa itu, kerajaan Bali berada dalam arus besar pengaruh Jawa. Kehadiran Mpu Ghana membantu menyesuaikan ajaran Hindu Jawa dengan tradisi Bali, sehingga masyarakat dapat menerima perubahan tanpa kehilangan akar budaya lokalnya.
Jejak fisik Mpu Ghana berada di Pura Dasar Buana, Gelgel, Klungkung, Bali. Pura ini berdiri di lokasi yang dipercaya sebagai tempat Mpu Ghana bersemadi. Kemudian, Mpu Dwijaksara membangun pura tersebut pada tahun 1267 Masehi sebagai bentuk penghormatan kepada Mpu Ghana. Hingga saat ini, Pura Dasar Buana menjadi Pura Dang Hyang Khayangan Jagat yang disungsung oleh umat Hindu dari seluruh Bali. Setiap enam bulan sekali, umat Hindu melakukan upacara piodalan di Pura Dasar Buana Gelgel yang jatuh pada hari Soma Kliwon Kuningan. Selain itu, setiap Purnama Kapat dilaksanakan upacara besar yang dinamakan dengan Ngusaba Kapat sebagai bentuk syukur atas anugerah dan hasil bumi yang diberikan oleh Tuhan. Tradisi ini menjadi bentuk nyata dari ajaran Mpu Ghana mengenai keseimbangan antara alam, manusia, dan Sang Hyang Widhi.
Pura Dasar Buana (Sumber: Koleksi Pribadi)
Ketika umat Hindu Bali melakukan persembahyangan di Pura Dasar Buana atau menyebut nama Mpu Ghana dalam cerita, sejatinya mereka sedang merawat ingatan kolektif. Sosok ini mengajarkan bahwa agama dan adat bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan dapat berpadu dalam harmoni.
Jejak Mpu Ghana menegaskan bahwa spiritualitas Bali bukan sesuatu yang lahir seketika, melainkan hasil dari dialog panjang, penataan, dan dedikasi tokoh-tokoh suci di masa lalu. Inilah yang membuat Bali hingga kini tetap dijuluki Pulau Dewata, bukan semata karena pura-pura yang berdiri megah, tetapi karena tatanan spiritual yang telah dijaga selama lebih dari seribu tahun.
Sumber Referensi :
Mas, R.B.D.M., Gingsir, I.N.D. (2000). Seri Babad Brahmana. Jakarta: Yayasan Diah Tantri.
Pemerintahan Desa Sukawana. (2018, 29 Oktober). Sejarah Adanya Desa Sukawana. Diakses pada 23 September 2025, dari https://sukawana.desa.id/index.php/artikel/2018/10/29/sejarah-adanya-desa-sukawana.
Soebandi, J.M.G.K. (2004). Babad Warga Brahmana : Pandita Sakti Wawu Rauh (Asal-Usul Peninggalan dan Keturunan Danghyang Nirartha). Denpasar: PT Pustaka Manikgeni.