Di Balik Tirai Sanggar Seni Cilinaya Denpasar: Aktivitas Anak Muda dalam Pelestarian Tari Bali

Selama 19 tahun, Sanggar Seni Cilinaya Denpasar menjadi ruang tumbuh generasi muda Bali. Dari tari hingga tabuh, anak-anak TK hingga SMP dilatih untuk mencintai budaya leluhur. Semangat mereka tampak dalam latihan rutin dan penampilan seni di masyarakat sebagai wujud pengabdian tulus.

May 16, 2026 - 06:09
May 16, 2026 - 08:09
Di Balik Tirai Sanggar Seni Cilinaya Denpasar: Aktivitas Anak Muda dalam Pelestarian Tari Bali
Sanggar Seni Cilinaya (Sumber: Koleksi Pribadi)

Awal Berdirinya Sanggar

Sanggar Seni Cilinaya berdiri pada tahun 2006 di Denpasar atas prakarsa Bapak Ketut. Pada mulanya, kegiatan berlangsung sederhana di sebuah banjar dengan tujuan melestarikan seni dan budaya Bali, khususnya tari. Saat itu hanya sekitar 15 anak yang bergabung untuk berlatih. Meski sederhana, semangat yang dibangun adalah membina generasi muda agar tidak melupakan jati diri budaya leluhur.

Setelah berjalan lima tahun, jumlah peserta semakin bertambah sehingga ruang di banjar tidak lagi mencukupi. Sanggar akhirnya dipindahkan ke rumah, sehingga kegiatan dapat terus berjalan dengan lebih baik. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan sanggar menuju keberlanjutan. Hingga kini, Sanggar Seni Cilinaya tetap eksis sebagai wadah kreativitas anak-anak muda yang konsisten berkarya dalam seni pertunjukan Bali.

Wawancara dengan Bapak Ketut, pendiri Sanggar Seni Cilinaya (Sumber: Koleksi Pribadi)

Perkembangan Kegiatan Tari dan Tabuh

Sejak awal, Sanggar Seni Cilinaya hanya berfokus pada seni tari. Kini, kegiatan tari telah berjalan selama 19 tahun, dengan peserta dari berbagai jenjang usia mulai dari TK hingga SMP. Berbagai jenis tari Bali diajarkan sesuai kemampuan anak-anak, sehingga mereka dapat belajar teknik dasar, gerakan, dan ekspresi dalam menari. Melalui kegiatan ini, anak-anak diberi ruang untuk mengembangkan keterampilan seni sekaligus melestarikan budaya lokal.

Sekitar 11 tahun lalu, sanggar mulai mengembangkan kegiatan tabuh atau gamelan. Peserta tabuh umumnya terdiri dari anak-anak usia SD hingga SMP. Sejak saat itu, tabuh menjadi bagian penting dari aktivitas sanggar hingga kini. Kehadiran tabuh melengkapi peran sanggar sebagai ruang pembelajaran seni pertunjukan yang menyatukan gerak tari dan irama gamelan.

Anak-anak berlatih tari di sanggar (Sumber: Koleksi Pribadi)

Rutinitas Latihan dan Penampilan Seni

Kegiatan latihan diatur dengan jadwal tetap tiga kali seminggu, yakni pada hari Kamis, Sabtu, dan Minggu. Jadwal tersebut memberi ruang bagi anak-anak untuk menyeimbangkan kegiatan sekolah dan latihan seni. Melalui latihan yang disiplin, peserta dididik untuk memiliki rasa tanggung jawab dan konsistensi sejak dini.

Selain berlatih, anak-anak juga aktif tampil dalam kegiatan seni di masyarakat, termasuk di Lapangan Puputan yang biasanya menghadirkan banyak sanggar tari. Melalui kesempatan ini, mereka tidak hanya menyalurkan bakat seni, tetapi juga belajar nilai spiritual, kebersamaan, dan pengabdian.

Anak-anak berlatih tabuh di sanggar (Sumber: Koleksi Pribadi)

Harapan untuk Masa Depan

Sebagai pendiri, Bapak Ketut berharap Sanggar Seni Cilinaya dapat semakin berkembang di bidang tari maupun tabuh. Dengan semangat generasi muda yang terus tumbuh, sanggar diharapkan menjadi benteng pelestarian seni Bali serta ruang kreasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Keberadaan Sanggar Seni Cilinaya hingga hampir dua dekade menjadi bukti nyata bahwa seni budaya Bali tetap hidup, tumbuh, dan diwariskan melalui generasi muda. Semangat yang dipupuk di sanggar ini merupakan inspirasi bahwa seni tradisi bukan hanya bertahan, tetapi juga berkembang dalam kehidupan masyarakat modern—sebagai benteng kokoh yang melindungi keyakinan agar tetap teguh di jalan dharma, apapun tantangannya.