Mpu Gnijaya: Peranannya dalam Pembentukan Identitas Kawitan Pasek (Abad ke-11)
Identitas Kawitan Pasek di Bali tidak bisa dilepaskan dari sosok sentral bernama Mpu Gnijaya. Perannya sangat fundamental, bukan hanya sebagai leluhur biologis, tetapi juga sebagai fondasi spiritual, genealogis, dan kultural yang mengukuhkan jati diri Pasek hingga saat ini. Mpu Gnijaya bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi juga menjadi simbol pengikat identitas, kesadaran kolektif, dan landasan spiritual bagi ribuan keturunannya yang tersebar di berbagai penjuru Bali.
Asal-usul Silsilah Mpu Gnijaya
Kisah Mpu Gnijaya berawal dari silsilah agung yang mendahuluinya. Baliau adalah keturun dari Mpu Bhajrasattwa melalui putranya, Mpu Tanuhun, yang kemudian menurunkan lima putra suci yang dikenal sebagai Panca Tirtha atau Panca Pandita. Dari Panca Tirtha inilah lahir garis keturunan spiritual yang membawa misi besar dalam perkembangan agama, budaya, dan tradisi Bali.
Ayah Mpu Gnijaya, Sang Brahmana Pandita, merupakan putra sulung dari Panca Tirtha. Posisi sebagai anak tertua menempatkannya pada tanggung jawab besar, baik secara spiritual maupun sosial, untuk menjaga warisan leluhur. Dengan demikian, garis keturunan Mpu Gnijaya tidak hanya memiliki legitimasi biologis, tetapi juga mengandung otoritas religius yang sangat dihormati.
Silsilah Mpu Wthadarma dan Silsilah Lontar Kutara Kanda (sumber : Buku Babad Pasek)
Silsilah "Keturunan Mpu Withadarma" ini dimulai dari Mpu Withadarma, yang kemudian memiliki dua keturunan, yaitu Mpu Bhirastawwa (Mpu Wiradharma) dan Mpu Dwijendra (Mpu Rajakretha). Keturunan Mpu Bhirastawwa mencakup Mpu Lampita, Mpu Gniyaja, Mpu Sumecu, Mpu Ghana, dan Bhatari Dewi Manik Geni, serta dilanjutkan ke bawah dengan nama-nama seperti Mpu Ketek, Mpu Kanada, Mpu Wiradhyana, Mpu Withadarma, Mpu Ragatunting, Mpu Prateka, dan Mpu Dangka. Sementara itu, Mpu Dwijendra memiliki keturunan Bukbuksah, Brahmawisesa, Mpu Kuturan, Mpu Bradah, Mpu Saguna, dan Mpu Gandring. Silsilah ini juga mencatat pernikahan antara Diah Ratna Manggali dengan Mpu Bhula Putra Mpu Bradah, dan mencantumkan keterangan bahwa Mpu Kameraka merupakan Leluhur Pasek Kayu Selen dan keluarganya, serta Ki Lurah Kapandean adalah Leluhur Wong Bang Pande Wesi.
Silsilah kedua yakni "Silsilah pada Zaman Bahari, Berdasarkan Lontar Kutara Kanda Dewapurana Bangsul" dimulai dari Bhatara Hyang Pasupati, kemudian dilanjutkan ke Sanghyang Licin/Sanghyang Eka Aksara, dan Purusa Pradana. Dari Purusa Pradana, turun ke Hyang Putrajava, Hyang Dewi Dhanuh, dan Hyang Gnuyaja. Silsilah ini juga menunjukkan hubungan antara Bhatara Ghana dan Bhatari Dewi Manik Geni. Selain itu, terdapat garis keturunan Mpu Withadarma yang memiliki Sanghyang Sidhi-mantra Sakti dan Sang Kulputih, yang kemudian berlanjut ke Sanghyang Surya Rsiwu dan Sanghyang Guru Pasupathi. Terdapat pula nama Sanghyang Ammurwa Akasa Sakti dan Sanghyang Sakti Saptakadwa pada bagian bawah.
Titik Temu Jawa dan Bali
Identitas Mpu Gnijaya menjadi titik temu antara garis keturunan spiritual dari Jawa dan Bali. Hal ini terjadi saat ayahnya, Sang Brahmana Pandita, menikahi Dewi Manik Gni, putri dari Bhatara Hyang Mahadewa di Bali. Pernikahan ini bukan sekadar ikatan keluarga, melainkan juga simbol pertemuan dua peradaban besar: Jawa sebagai pusat perkembangan ajaran Hindu-Buddha, dan Bali sebagai tanah suci tempat implementasi ajaran itu berlangsung dengan kuat hingga kini.
Ilustrasi Sang Brahma Pandita yang sudah menjalani dwijati dan bergelar Mpu Gnijayan (sumber : koleksi pribadi)
Setelah menjalani upacara penyucian diri tingkat lanjut yang disebut pudgala atau dwijati, Sang Brahmana Pandita dianugerahi nama Mpu Gnijaya. Nama ini mencerminkan kematangan spiritual dan statusnya sebagai seorang resī, yang kelak akan melahirkan generasi penerus berperan penting dalam pembentukan identitas Bali.
Sapta Pandita: Pewaris Langsung Mpu Gnijaya
Peran definitif Mpu Gnijaya sebagai cikal bakal Pasek terwujud ketika beliau menurunkan tujuh orang putra yang kemudian dikenal sebagai Sapta Pandita atau Sapta Rsi. Ketujuh putranya yang pertama adalah Mpu Ketek yang merupakan permulaan dari garis keturunan yang sangat luas dan berpengaruh. Dua putranya, Sanghyang Pemacekan dan Arya Kepasekan, menjadi pangkal dari banyak cabang. Keturunan Mpu Ketek tersebar dari Pasuruhan hingga Majapahit, sebelum akhirnya sebagian besar kembali dan menetap di Bali. Yang kedua adalah Mpu Kananda, beliau memiliki seorang putra, Sang Kula Dewa, yang kemudian dikenal sebagai Mpu Sweta Wijaya. Garis keturunan ini berfokus pada peran keagamaan dan pelestarian ritual. Yang ketiga adalah Mpu Wiradnyana yang hanya memiliki satu putra, Mpu Wiranatha (Mpu Purwanatha). Garis ini unik karena hubungannya dengan sejarah kerajaan di Jawa. Yang keempat adalah Mpu Withadharma dan putranya, Mpu Wiradharma, melanjutkan silsilah ke Pasuruhan. Keturunan Mpu Withadharma menjadi sangat penting dalam sejarah politik dan klan Pasek di Bali. Mpu Ragarunting, Rsi yang kelima, menurunkan Mpu Wira Runting (Mpu Paramadaksa). Keturunan ini menetap di Pasuruhan dan Majapahit sebelum kembali ke Bali dalam wujud tiga 'Lurah'. Yang keenam Mpu Prateka, beliau memiliki keturunan yang lebih sedikit. Putranya, Mpu Pratekajnana, juga berpindah ke Pasuruhan sebelum cucunya, Sang Prateka, kembali ke Bali. Dan yang terakhir adalah Mpu Dangka juga memiliki garis keturunan yang lebih ringkas. Putranya, Mpu Wira Dangkya, pergi ke Pasuruhan dan cucunya, Sang Wira Dangka, kembali ke Bali.
Ilustrasi Mpu Gnijaya bersama 7 Putranya (Sang Sanak Sapta Rsi) (Sumber : koleksi pribadi)
Para Sapta Pandita inilah yang melanjutkan ajaran leluhur, menikah, dan memiliki keturunan. Dari merekalah lahir berbagai cabang keluarga besar Pasek yang tersebar luas di Bali. Garis keturunan ini kemudian secara langsung membentuk nama “Pasek” melalui cucu Mpu Gnijaya, yakni Aryya Kapasekan, putra dari Mpu Ketek. Dari nama “Kapasekan” inilah muncul penanda genealogis yang jelas sekaligus menjadi titik lahirnya identitas Kawitan Pasek.
Istilah "Pasek" dalam Sejarah Bali
Awalnya, istilah Pasek bukanlah sebuah marga, melainkan sebuah gelar fungsional. Orang Bali Aga menggunakan istilah ini sebagai sebutan untuk pemimpin atau orang yang memiliki kedudukan penting, baik di bidang pemerintahan maupun sosial. Seiring perjalanan waktu, gelar ini berubah menjadi identitas keturunan. Keturunan Sapta Rsi yang berperan sebagai pemimpin di Bali tetap menggunakan gelar Ki Pasek meskipun mereka tidak lagi menduduki jabatan formal. Bahkan, gelar ini kemudian diadopsi oleh kelompok lain yang memegang peranan penting, seperti Warga Pulasari yang dikenal sebagai Pasek Pulasari.
Secara etimologis, kata pasek berasal dari bahasa Nusantara yang mirip dengan kata pasak dalam bahasa Indonesia. Pasak adalah benda sejenis paku atau baji yang berfungsi untuk menguatkan sesuatu. Dalam makna simbolis, pasak diartikan sebagai “peneguh negeri”, yakni orang besar yang menjadi dasar keteguhan masyarakat dan pemerintahan. Dengan demikian, istilah Pasek menunjukkan bahwa leluhur Pasek adalah figur penguat yang memiliki peran penting dalam menegakkan tatanan sosial dan spiritual Bali.
Fondasi Spiritual Kawitan Pasek
Lebih dari sekadar pewarisan darah dan keturunan, Mpu Gnijaya bersama para putranya meninggalkan ajaran spiritual yang mendalam, yang kemudian menjadi dasar terbentuknya identitas dan jati diri masyarakat Pasek. Warisan tersebut tidak hanya berupa tuntunan keagamaan, melainkan juga nilai-nilai kehidupan yang mengajarkan bagaimana manusia seharusnya berpikir, berbicara, dan bertindak selaras dengan dharma. Ajaran itu bersumber dari sabda suci Bhatara Hyang Paçupathi yang menekankan pentingnya menjalankan ajaran luhur, menjaga kemurnian perilaku melalui Trikaya Parisudha yakni kesucian pikiran, ucapan, dan perbuatan serta menumbuhkan rasa hormat kepada leluhur sebagai sumber kekuatan rohani.
Selain itu, ajaran tersebut menegaskan pentingnya menjaga hubungan batin dengan tanah Bali, yang dianggap sebagai ruang sakral tempat bersemayamnya keseimbangan antara manusia, alam, dan para dewa. Pesan suci ini kemudian dipertegas kembali oleh Sapta Pandita, yang mengingatkan bahwa ketekunan dalam melaksanakan upacara dan ajaran agama akan mendatangkan kesejahteraan dan ketentraman hidup. Sebaliknya, mengabaikan kewajiban spiritual dan melupakan nilai-nilai luhur akan menyebabkan kemunduran moral serta melemahkan ikatan spiritual dengan leluhur. Oleh karena itu, ajaran Mpu Gnijaya bukan hanya peninggalan sejarah, melainkan pedoman hidup yang terus menuntun generasi Pasek untuk menjaga kesucian, keharmonisan, dan identitas budayanya hingga kini.
Dengan demikian, peran Mpu Gnijaya tidak hanya sebatas melahirkan garis keturunan yang dikenal sebagai Kawitan Pasek, tetapi juga membangun pondasi spiritual, sosial, dan kultural yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat Bali hingga kini.
Mpu Gnijaya adalah simbol pengikat antara masa lalu dan masa kini, antara Jawa dan Bali, antara leluhur dan keturunan. Peranannya sebagai pendiri, guru, dan leluhur menjadikan beliau tokoh sentral yang tidak bisa dipisahkan dari identitas Kawitan Pasek.
Sumber :
Subandi, Jro Mangku Gde Ketut. (2003). Babad Pasek Maha Gotra Sanak Sapta Rsi. PT Pustaka Manikgeni. Denpasar