Anak Wungsu: Penguasa Terlama dan Penjaga Warisan Warmadewa di Pulau Dewata
Raja Anak Wungsu adalah raja Bali Kuno dari Dinasti Warmadewa yang memerintah selama 28 tahun, dari Saka 971 (1049 M) hingga Saka 999 (1077 M), dengan pusat pemerintahan di Tampaksiring, Gianyar. Ia merupakan putra bungsu Raja Udayana dan Sri Gunapriya Dharmapatni, serta adik dari Airlangga dan Marakata Pangkaja. Pemerintahannya dianggap sebagai masa keemasan Bali Kuno karena berhasil membawa kemajuan dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
Raja Anak Wungsu adalah salah satu raja Bali Kuno dari Dinasti Warmadewa yang memerintah cukup lama, yaitu dari tahun Saka 971 (1049 M) hingga Saka 999 (1077 M). Selama 28 tahun pemerintahannya, Anak Wungsu berhasil membawa Bali ke masa kejayaan, baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, maupun kebudayaan. Pusat pemerintahannya berada di Tampaksiring, Gianyar, yang pada masa itu menjadi salah satu pusat penting kerajaan Bali. Pemerintahannya dianggap sebagai salah satu periode terpanjang dalam sejarah kerajaan-kerajaan Bali Kuno, sehingga meninggalkan warisan yang berharga bagi perkembangan budaya dan peradaban masyarakat Bali.
Ilustrasi AI Raja Anak Wungsu (sumber : koleksi pribadi)
Anak Wungsu merupakan putra bungsu Raja Udayana dari Dinasti Warmadewa dengan permaisurinya, Sri Gunapriya Dharmapatni, yang berasal dari Dinasti Isyana di Jawa Timur. Dari perkawinan ini lahirlah tiga orang putra, yakni Airlangga, Marakata Pangkaja, dan Anak Wungsu. Airlangga kemudian menjadi raja besar di Jawa Timur menggantikan mertuanya, Raja Dharmawangsa Teguh, sementara Marakata Pangkaja naik takhta di Bali setelah Udayana wafat. Sepeninggal Marakata, barulah Anak Wungsu diangkat menjadi raja dengan gelar Paduka Haji Anak Wungsu. Beberapa prasasti menyebutnya sebagai “anak wungsunira kalih Bhatari lumah i Buruan, Batara lumah i Banu Weka” yang menegaskan bahwa ia merupakan putra bungsu Sri Gunapriya Dharmapatni dan Udayana.
Ilustrasi AI Anak Wungsu, Airlangga, dan Marakata Pangkaja (Sumber : Koleksi Pribadi)
Dalam menjalankan pemerintahan, struktur kekuasaan pada masa Anak Wungsu tersusun rapi dalam beberapa tingkatan. Pada lapisan teratas, raja menempati posisi tertinggi sebagai pemegang kuasa penuh atas kerajaan. Di bawahnya terdapat para penasihat yang terdiri dari kerabat kerajaan serta pejabat-pejabat yang ahli dalam urusan pemerintahan, dan mereka diberi gelar samgat atau senapati. Di bawah kelompok penasihat, terdapat para pegawai kerajaan yang berwenang pada bidang-bidang tertentu. Selanjutnya, di tingkat desa, terdapat rama atau kepala desa yang memiliki kekuasaan terbatas pada wilayahnya saja. Masyarakat umum terdiri atas petani, tukang, dan penduduk desa pemilik tanah yang menjadi penopang utama ekonomi kerajaan. Di lapisan paling bawah terdapat para hulun atau budak yang statusnya muncul karena berbagai sebab, mulai dari tawanan perang, orang yang berutang tetapi tidak mampu membayar, hingga mereka yang melakukan pelanggaran hukum.
Ilustrasi AI Raja Anak Wungu dengan Penasihat Kerajaan (Sumber : Koleksi Pribadi)
Kehidupan ekonomi masyarakat Bali pada masa pemerintahan Anak Wungsu terutama bergantung pada sektor pertanian. Tanaman padi, palawija, serta padi gaga yang disesuaikan dengan musim menjadi sumber pangan utama. Selain bercocok tanam, masyarakat juga mengembangkan perdagangan. Komoditas yang diperjualbelikan tidak hanya terbatas pada hasil pertanian dan perkebunan, melainkan juga barang-barang kerajinan. Pakaian dan hasil kerajinan logam menempati posisi penting karena banyak digunakan dalam keperluan upacara keagamaan, sehingga memperlihatkan adanya keterkaitan erat antara ekonomi dan ritual keagamaan.
Dalam kehidupan sosial, masyarakat Bali pada masa itu masih terikat pada sistem Catur Warna yang membagi masyarakat ke dalam empat golongan, yakni Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Hubungan antargolongan diatur dengan norma yang ketat, terutama dalam hal perkawinan. Misalnya, laki-laki dari golongan bawah tidak diperbolehkan menikahi perempuan dari golongan Brahmana kecuali dengan membayar pamucuk atau denda tertentu. Aturan semacam ini menunjukkan bahwa struktur sosial pada masa itu sangat dijaga ketat demi menjaga tatanan dan keharmonisan masyarakat.
Perkembangan kebudayaan pada masa pemerintahan Dinasti Warmadewa, khususnya sejak Raja Udayana hingga Anak Wungsu, mencapai puncaknya. Bali mengalami masa keemasan dalam perkembangan kesenian bercorak Hindu-Buddha. Berbagai bentuk kesenian tumbuh subur, mulai dari seni tari, drama, dan teater yang menjadi bagian penting dari seni pertunjukan, hingga seni musik tradisional seperti gamelan atau kerawitan. Seni rupa juga berkembang pesat, tercermin dari relief dan arsitektur candi seperti candi gunung kawi yang masih dapat kita saksikan peninggalannya hingga kini. Warisan seni dan budaya inilah yang menjadi dasar dari identitas kebudayaan Bali yang tetap bertahan bahkan hingga masa modern.
Selain warisan seni dan budaya, peninggalan terpenting dari Anak Wungsu adalah berbagai prasasti yang tersebar di Bali Selatan, Tengah, dan Utara. Hingga kini ditemukan sekitar 28 prasasti yang berkaitan dengan pemerintahannya, dan 18 di antaranya secara jelas menyebutkan nama Anak Wungsu. Prasasti-prasasti tersebut tersebar di berbagai daerah, misalnya di Trunyan, Bebetin, Sukawana, Batunya, Sangsit, Sembiran, hingga Klungkung. Isi prasasti tidak hanya menyinggung soal administrasi dan kehidupan masyarakat, tetapi juga memuat gambaran tentang karakter Anak Wungsu sebagai seorang raja. Dalam beberapa prasasti ia digambarkan sebagai sosok penuh kasih sayang dan bijaksana, bahkan dipandang sebagai perwujudan dharma yang senantiasa memikirkan kesejahteraan rakyatnya.
Beberapa prasasti yang dapat disebutkan diantaranya, Prasasti Trunyan menyuratkan tahun Saka 971 (1049 M), Prasasti Bebetin menyuratkan tahun Saka 972 (1050 M), Prasasti Dawan menyuratkan tahun Saka 975 (1053 M), Prasasti Sukawana dengan tahun Saka 976 (1054 M), Prasasti Batunya menyuratkan tahun Saka 977 (1055 M), Prasasti Sangsit menyuratkan tahun Saka 980 (1058 M), Prasasti Dausa menyuratkan tahun Saka 983 (1061 M), Prasasti Sawan Blantih menyuratkan tahun Saka 987 (1065 M), Prasasti Sembiran menyuratkan tahun Saka 987 (1065 M), Prasasti Serai menyuratkan tahun Saka 989 (1067 M), (11) Prasasti Pengotan menyuratkan tahun Saka 991 (1069 M), Prasasti Manikliyu yang tidak menyuratkan tahun Saka, Prasasti Pandak tahun menyuratkan Saka 993 (1071 M), Prasasti Sawan yang menyuratkan tahun Saka 995 (1073 M), dan 3 Prasasti Klungkung yang menyuratkan tahun Saka 995 (1073 M).
Candi Gunung Kawi (Sumber : Koleksi Pribadi)
Raja Anak Wungsu wafat pada tahun 1077 M. Setelah mangkat, ia didharmakan di kompleks Candi Tebing Gunung Kawi, Tampaksiring, Gianyar, sebuah kompleks candi yang hingga kini masih berdiri megah dan menjadi saksi bisu kejayaan Bali Kuno. Dengan wafatnya Anak Wungsu, berakhir pula masa keemasan Dinasti Warmadewa di Bali. Namun demikian, prasasti-prasasti, sistem pemerintahan, serta warisan seni dan budaya yang ditinggalkan tetap menjadi bukti kejayaan masa lalu, sekaligus memperlihatkan betapa pentingnya peran Anak Wungsu dalam perjalanan sejarah Bali pada abad ke-11.
Prihatmoko, H., & Wahyudi, W. R. (1926). Representasi Anak Wungsu Sebagai Penguasa Kerajaan Bali Kuno. Sang, 2. https://pdfs.semanticscholar.org/4a01/3beb91a35638726ff173f8a9a187c4db5180.pdf
Santosa, H. N. H. K. R. M., & Kustiyanti, D. (2017). Seni Pertunjukan Bali Pada Masa Dinasti Warmadewa. MUDRA Jurnal Seni Budaya, 32(1), 81-91. https://www.academia.edu/74499171/Seni_Pertunjukan_Bali_Pada_Masa_Dinasti_Warmadewa
AA Gede, R. R., I Gusti Ngurah, S., Ida Bagus, S., & I Kadek, D. N. (2021). Seni dan Prinsip Estetika Jaman Bali Kuno: Masa Pemerintahan Raja Udayana Sampai Anak Wungsu (989-1077 M). https://repo.isi-dps.ac.id/4595/1/Penelitian%201%20-%20Seni%20dan%20Prinsip%20Estetika%20Jaman%20Bali%20Kuno_compressed%20%281%29.pdf