Menelusuri Jejak Mpu Bharadah dalam Perkembangan Hindu Bali

Mpu Bharadah adalah resi besar abad ke-11 dari Jawa Timur yang menjadi penasihat Raja Airlangga, berperan dalam politik, spiritualitas, dan pembagian kerajaan menjadi Jenggala dan Kediri. Ia juga terkenal karena mengalahkan Calon Arang yang menebar teror dengan ilmu hitam, sehingga rakyat terbebas dari penderitaan. Ajaran dan dharmanya turut memengaruhi sistem keagamaan di Bali, menjadikannya tokoh penting penghubung spiritual Jawa–Bali serta teladan kebijaksanaan dan pengabdian.

Apr 24, 2026 - 05:44
Apr 1, 2026 - 13:31
Menelusuri Jejak Mpu Bharadah dalam Perkembangan Hindu Bali
Mpu Bharadah penasihat spiritual Raja Airlangga (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Sejarah perkembangan Hindu di Bali tidak dapat dilepaskan dari peran para resi dan pendeta yang menjadi penghubung antara kekuasaan politik dan spiritualitas masyarakat. Salah satu tokoh penting dalam konteks ini adalah Mpu Bharadah, seorang resi besar dari Jawa Timur pada abad ke-11 M. Beliau hidup pada masa pemerintahan Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan.                               

Sosok Mpu Bharadah dikenal luas melalui berbagai naskah tradisional seperti Serat Calon Arang dan Babad Tanah Jawi. Keberadaannya menjadi bukti eratnya hubungan politik dan spiritual antara Jawa dan Bali pada masa itu. Dalam pemerintahan Raja Airlangga, Mpu Bharadah memegang peran penting sebagai penasihat spiritual sekaligus tokoh keagamaan yang berwibawa. Kedudukannya tidak hanya terbatas pada urusan agama, tetapi juga dalam penyelesaian konflik politik.  

Ilustrasi AI Sosok Mpu Bharadah menyebrangi lautan dengan sehelai daun (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Ketika Raja Airlangga hendak turun takhta, muncul persaingan antara kedua putranya. Untuk menjaga keseimbangan politik, Raja Airlangga merencanakan agar salah satu putranya ditempatkan di Bali. Utusan yang dipercaya membawa pesan tersebut adalah Mpu Bharadah.

Dengan kesaktiannya, Mpu Bharadah dikisahkan dapat menyeberangi lautan hanya dengan sehelai daun. Setibanya di Bali, ia menyampaikan pesan kepada Mpu Kuturan. Namun, rencana itu ditolak karena Bali sudah diperintah oleh Anak Wungsu, adik Raja AirlanggaAkhirnya, Raja Airlangga memutuskan untuk membagi kerajaannya menjadi dua bagian yakni Kediri dan Jenggala. Tugas pembagian wilayah ini dipercayakan kepada Mpu Bharadah.

Ilustrasi AI sosok Mpu Bharadah menuangkan air kendi dan membuat batas wilayah (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Mpu Bharadah kemudian membagi kerajaan dengan kesaktiannya, yakni menuangkan air dari kendi sambil terbang di udara. Batas wilayah tersebut disertai kutukan bahwa siapa pun yang melanggarnya akan ditimpa kesialan. Catatan mengenai peristiwa ini bahkan masih tersirat dalam Prasasti Mahaksobhya (1289 M), menunjukkan bahwa pengaruh spiritual Mpu Bharadah terus diingat berabad-abad setelahnya.

Selain peran politiknya, Mpu Bharadah juga terkenal karena kisahnya melawan Calon Arang, seorang janda sakti dari Desa Girah yang menguasai ilmu hitam dan menimbulkan bencana bagi rakyat melalui wabah penyakit dan gagal panen. 

Ilustrasi AI Pernikahan Mpu Bahula dengan Ratna Manggali (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Dalam Upaya mengatasi ancaman Calon Arang, Mpu Bharadah mengutus muridnya, Mpu Bahula untuk menikahi putri Calon Arang, Ratna Manggali.

Ilustrasi AI Pertarungan Mpu Bharadah dengan Calon Arang (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)

Melalui strategi ini, kitab sihir Calon Arang berhasil direbut. Pertarungan antara Calon Arang dan Mpu Bharadah pun terjadi, hingga akhirnya Calon Arang kalah dan masyarakat terbebas dari ancaman ilmu hitam. Kisah ini menunjukkan bagaimana Mpu Bharadah berperan sebagai penyelamat rakyat melalui jalan dharma.

Meskipun kisahnya lebih banyak terhubung dengan Jawa Timur, jejak Mpu Bharadah juga memengaruhi perkembangan Hindu di Bali. Beberapa lontar dan babad menyebutkan bahwa ajaran dharma dari Jawa Timur yang diwariskan oleh resi besar seperti Mpu Bharadah turut memberi dasar bagi penyusunan tata ritual di pura, struktur pawongan (kasta), serta sistem keagamaan di Bali. Dengan demikian, Mpu Bharadah menjadi salah satu figur penting dalam jembatan spiritual Jawa–Bali.

Jejaknya yang sampai ke Bali membuktikan bahwa hubungan antara Jawa dan Bali tidak hanya sebatas politik, tetapi juga spiritual dan kultural. Pengaruh Mpu Bharadah terhadap perkembangan Hindu Bali menjadi bagian penting dari sejarah Nusantara, di mana dharma dipelihara melalui kebijaksanaan, kesaktian, dan pengabdian seorang resi.

Selain dikenal sebagai tokoh sejarah, Mpu Bharadah juga menempati posisi penting dalam tradisi sastra dan kepercayaan masyarakat Jawa dan Bali. Dalam Serat Calon Arang, ia digambarkan sebagai sosok resi yang berwibawa, berilmu tinggi, serta mampu menundukkan kekuatan adharma dengan kesaktian sekaligus kebijaksanaannya. Penggambaran ini menunjukkan bahwa kehadirannya tidak hanya berfungsi secara praktis dalam bidang politik, tetapi juga sebagai simbol moral dan spiritual bagi masyarakat pada zamannya.

Dalam tradisi masyarakat Bali, sosok Mpu Bharadah sering disejajarkan dengan resi besar lain seperti Mpu Kuturan dan Mpu Gnijaya. Keberadaannya menjadi bagian dari rangkaian resi yang dianggap berjasa dalam merumuskan tata kehidupan beragama di Bali. Ajaran-ajaran yang dibawanya dari Jawa turut memperkaya praktik ritual serta mempertegas nilai dharma sebagai landasan spiritualitas masyarakat. Oleh karena itu, pengaruh Mpu Bharadah tidak berhenti pada masa hidupnya saja, melainkan terus hidup dalam memori kolektif masyarakat Nusantara.

Hingga kini, nama Mpu Bharadah masih dikenang, baik dalam babad, prasasti, maupun tradisi lisan. Beliau dianggap sebagai sosok teladan yang memadukan kebijaksanaan, kesaktian, dan pengabdian kepada rakyat. Melalui kisahnya, dapat dilihat bahwa perjalanan sejarah dan perkembangan Hindu di Bali serta Jawa bukan semata-mata hasil dari kekuatan politik, tetapi juga karena peran besar para resi yang menegakkan dharma demi terciptanya keseimbangan hidup.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           

Daftar Pustaka

Pigeaud, T. G. Th. (1960). Java in the 14th century: A study in cultural history. The Hague: Martinus Nijhoff.

Zoetmulder, P. J. (1983). Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.  

Abimanyu, Soejipto. 2025. Babad Tanah Jawi: Terlengkap dan Terasli. Yogyakarta: Diva Press.