Dangsil, Pendet, Telek: Rangkaian Sakral dalam Tradisi Napak Pertiwi Kiadan Desa Plaga
Napak Pertiwi di Desa Adat Kiadan adalah tradisi sakral yang melambangkan turunnya Hyang Widhi untuk menganugrahkan kesejahteraan. Upacara ini menghadirkan tapakan Barong dan Rangda sebagai manifestasi kekuatan kosmis penyeimbang sekala dan niskala. Artikel ini mengulas rangkaian prosesi mulai dari filosofi Dangsil hingga Tari Telek yang sarat makna spiritual dan pelestarian budaya.
Napak Pertiwi berasal dari kata napak yang artinya menginjak dan pertiwi artinya tanah atau jagat. Konsep dari napak pertiwi ini bisa dimaknai sebagai turunnya Hyang Widhi dan segala manifestasi serta wujud simboliknya, untuk menganugrahkan kehidupan dan kesejahteraan kepada seluruh makhluk hidup.
Di Desa Adat Kiadan, Napak Pertiwi merupakan salah satu tradisi sakral yang masih lestari hingga kini. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur dan tetap dijalankan sebagai wujud pengabdian masyarakat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta penghormatan terhadap alam semesta. Keunikan dari tradisi ini terletak pada tarian sakral yang menghadirkan perwujudan Ida Bhatara Ratu Sesuhunan Desa Adat Kiadan dalam bentuk tapakan Barong dan Rangda. Barong dan Rangda dalam konteks ini bukan sekadar simbol, melainkan perwujudan kekuatan kosmis yang diyakini sebagai penjaga keseimbangan antara sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia gaib). Kesakralan Napak Pertiwi terletak pada perpaduan antara tabuh gamelan, tarian sakral, dan rangkaian upacara yang penuh makna spiritual.
Iring-iringan sakral Ida Bhatara Ratu Sesuhunan dalam wujud tapakan Barong dan Rangda yang dipercaya sebagai penyeimbang kekuatan alam semesta. (Sumber: Koleksi Pribadi)
Rangkaian prosesi Napak Pertiwi diawali dengan tabuh petegak bebarongan yang dikenal dengan sebutan Dangsil. Dangsil tidak hanya dipandang sebagai sebuah pertunjukan musik dan tari, tetapi juga sarat akan filosofi. Pertunjukan ini melambangkan bentuk persembahan serta rasa syukur masyarakat atas anugerah kesuburan dan keberlimpahan hasil panen.
Dangsil sendiri dibuat dari anyaman bambu yang dihias dengan berbagai sesajen, menandakan hubungan erat manusia dengan alam yang memberikan kehidupan. Komposisi tabuh dalam Dangsil terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu kawitan, pengawak, dan pengecet.
Dangsil yang terbuat dari anyaman bambu berhias sesajen, melambangkan rasa syukur masyarakat atas kesuburan dan kelimpahan hasil panen. (Sumber: Koleksi Pribadi)
Setelah pertunjukan Dangsil, prosesi dilanjutkan dengan Tari Pendet Pemendak Ratu. Tari ini memiliki fungsi utama sebagai persembahan suci untuk menyambut kehadiran Ida Bhatara Ratu Sesuhunan yang berwujud tapakan Barong dan Rangda. Kehadiran tari pendet bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah ritual penyucian tempat di mana tradisi Napak Pertiwi dilaksanakan.
Dalam tarian ini, biasanya diawali dengan kemunculan tokoh Wijil yang membawakan kisah-kisah penuh nilai kearifan lokal. Pesan utama yang dibawakan adalah tentang pentingnya menjaga dan melestarikan budaya yang telah diwariskan leluhur, sekaligus menegaskan identitas masyarakat Desa Adat Kiadan. Melalui tarian ini, terlihat jelas bahwa seni pertunjukan Bali tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga memiliki peran sakral dalam konteks spiritual dan sosial.
Sebagai penutup dari rangkaian Napak Pertiwi, dipersembahkan Tari Telek. Tari ini mengangkat kisah kosmis yang sangat mendalam, yakni turunnya Sang Hyang Tri Semaya ke dunia untuk meredam kekuatan negatif Dewi Durga dan Kala Ludra yang bertemu di Setra Gandamayu.
Pada saat itu, Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Iswara turun ke dunia dengan menjelma ke dalam wujud Jauk, Telek, dan Barong; di mana Dewa Brahma menjelma sebagai Jauk, Dewa Wisnu sebagai Telek, dan Dewa Iswara sebagai Barong. Kehadiran ketiga dewa tersebut melambangkan kekuatan kosmis yang bekerja bersama untuk menetralisir energi negatif, mengembalikan keseimbangan, serta menjaga keharmonisan alam semesta. Tari Telek dengan demikian tidak hanya menjadi hiburan visual, tetapi juga menjadi media ritual untuk meneguhkan keyakinan masyarakat terhadap kekuatan suci yang melindungi kehidupan.
Penari Telek dengan ekspresi dan gerak yang khas, menyimbolkan kehadiran kekuatan suci pelindung kehidupan. (Sumber: Koleksi Pribadi)
Dengan keseluruhan rangkaian tersebut, Napak Pertiwi di Desa Adat Kiadan, Plaga, menjadi sebuah tradisi yang sarat makna. Ia bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga sebuah cerminan filosofi hidup masyarakat Bali yang senantiasa menghormati keseimbangan antara manusia dan alam. Tradisi ini juga memperlihatkan bahwa seni tari dan tabuh gamelan tidak bisa dilepaskan dari spiritualitas, karena keduanya merupakan media komunikasi dengan dunia niskala.
Lebih jauh lagi, Napak Pertiwi menjadi bukti nyata bahwa budaya Bali mampu bertahan di tengah arus modernisasi, sekaligus menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Desa Adat Kiadan.