Menggenggam Warisan Leluhur: Kiprah Sanggar Sandhi Swara di Dunia Pedalangan
Mengulas peran Sanggar Sandhi Swara sebagai ruang pelestarian seni pedalangan Bali yang membina generasi muda melalui pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan berbasis tradisi. Didirikan oleh I Made Raka Sukada dan dikembangkan bersama dalang muda Alit Widi Ariadnyana, sanggar ini memadukan penguasaan teknik mendalang, penggunaan peralatan pedalangan, serta visi pengembangan manajemen seni agar wayang Bali tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan selera generasi muda, seni pedalangan Bali tetap menemukan ruang hidupnya. Salah satu ruang penting itu hadir melalui Sanggar Sandhi Swara, sebuah sanggar seni pedalangan yang tumbuh dan berkembang di Kota Denpasar. Sanggar ini menjadi tempat belajar, berproses, sekaligus menjaga kesinambungan warisan budaya leluhur Bali.
Pendiri Sanggar Sandhi Swara (Sumber Foto: Koleksi Sanggar)
Sanggar Sandhi Swara berdiri sekitar tahun 2012, dicetuskan oleh I Made Raka Sukada, seorang praktisi seni pedalangan di kota Denpasar. Kehadiran sanggar ini dilatarbelakangi oleh keinginan menyediakan ruang bagi anak-anak dan remaja yang memiliki minat pada seni pedalangan, khususnya bagi mereka yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang. Nama Sandhi Swara sendiri merepresentasikan pertemuan berbagai suara dan asal-usul yang menyatu dalam satu wadah seni.
I Made Alit Widi Ariadnyana Penggerak Aktif Sanggar Sandhi Swara (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Dalam perjalanannya, Sanggar Sandhi Swara tidak hanya menjadi tempat belajar teknik mendalang, tetapi juga ruang pembentukan karakter. Salah satu penggerak aktif di sanggar ini adalah I Made Alit Widi Ariadnyana atau akrab disapa Alit, lulusan Institut Seni Indonesia Denpasar Jurusan Pedalangan, yang merupakan putra dari pendiri Sanggar Sandhi Swara. Ia menjelaskan bahwa seni pedalangan pada dasarnya serupa dengan teater, namun memiliki kekhasan karena seorang dalang harus mampu memerankan banyak tokoh sekaligus, lengkap dengan karakter suara, dialog, serta alur cerita yang kompleks.
Proses pembelajaran di Sanggar Sandhi Swara tidak terikat pada kurikulum yang kaku. Metode yang diterapkan lebih menekankan pada pendekatan dasar dan menyenangkan, terutama bagi anak-anak. Mereka diperkenalkan pada pedalangan melalui permainan sederhana, penguatan tradisi, dan pembiasaan mendengar serta menirukan dialog. Unsur inovasi baru diberikan setelah siswa dapat menguasai dasar dari seni pedalangan. Dengan cara ini, minat belajar tumbuh secara alami dari dalam diri siswa, bukan karena paksaan.
Latihan Rutin Sanggar Sandhi Swara (Sumber Foto: Koleksi Sanggar)
Siswa di sanggar ini berasal dari berbagai rentang usia, bahkan ada yang mulai belajar sebelum memasuki taman kanak-kanak. Anak-anak yang belum bisa membaca dilatih melalui kekuatan daya ingat dan pendengaran. Dialog wayang yang sering ditonton dan didengar menjadi modal awal, lalu diperhalus dan diperbaiki secara bertahap, terutama pada penggunaan sor singgih basa atau tingkatan bahasa Bali. Pendekatan ini terbukti efektif melahirkan dalang-dalang muda berprestasi, termasuk yang pernah tampil hingga tingkat nasional.
Dalam praktik pementasan, seni pedalangan tidak dapat dilepaskan dari berbagai peralatan utama yang menunjang pertunjukan. Selain wayang kulit sebagai tokoh utama, pementasan wayang memerlukan kelir, yaitu kain putih yang dibentangkan sebagai media bayangan. Sumber cahaya berasal dari blencong, lampu minyak tradisional yang memancarkan cahaya ke arah kelir sehingga bayangan wayang dapat terlihat jelas. Unsur musikal juga menjadi bagian penting melalui iringan gamelan, seperti gendér pat pada wayang Parwa, serta kendang, suling, dan batél pada pementasan wayang Ramayana. Meskipun Sanggar Sandhi Swara tidak secara khusus mengajarkan mengenai musik iringan, beberapa siswa mampu memainkan gendér secara mandiri dan saling mengajarkan satu sama lain.
Selain pembelajaran rutin, Sanggar Sandhi Swara juga aktif di berbagai panggung pertunjukan. Sanggar ini kerap mengikuti lomba dan festival pedalangan, baik di tingkat kabupaten, provinsi, hingga institusi seni. Berbagai prestasi berhasil diraih, mulai dari ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) hingga kompetisi yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan seni. Di luar kompetisi, para siswa juga sering ngayah, yakni mementaskan wayang dalam konteks upacara keagamaan di pura-pura sesuai daerah asal masing-masing siswa.
Siswa Sanggar Sandhi Swara (Sumber Foto: Koleksi Sanggar)
Dari sisi materi cerita, Kunti Yadnya dijadikan dasar pembelajaran karena dianggap paling baku dan relevan dengan konteks upacara yadnya. Cerita ini menjadi bekal utama bagi dalang untuk dapat tampil di berbagai kesempatan. Sementara itu, cerita besar seperti Perang Bharatayudha dipandang sebagai cerita yang cukup sulit untuk ditampilkan karena menuntut penguasaan kakawin dan literasi sastra yang mendalam. Selain itu juga, terdapat cerita Ramayana yang memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam kekuatan vokal dan penokohan, seperti peniruan suara kera yang harus lantang dan berkarakter kuat.
Pertunjukkan Cerita Lontar Lipyakara (Sumber Foto: Koleksi Sanggar)
Di tengah tantangan minimnya ruang pertunjukan dan menurunnya minat generasi muda, Sanggar Sandhi Swara tetap optimis memandang masa depan seni pedalangan. Keyakinan bahwa seni ini tidak akan punah berakar pada perannya yang melekat dalam ritual dan upacara keagamaan di Bali. Ke depan, sanggar ini memiliki visi untuk mengembangkan manajemen seni pertunjukan, agar para siswa tidak hanya terampil mendalang, tetapi juga mampu mengelola pertunjukan, menyusun produksi, dan memperkenalkan wayang Bali ke panggung yang lebih luas, termasuk ke luar daerah dan luar Bali.
Melalui konsistensi pembinaan, penguasaan tradisi, pemanfaatan peralatan pedalangan secara utuh, serta keterbukaan terhadap perkembangan zaman, Sanggar Sandhi Swara membuktikan bahwa seni pedalangan bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Sebuah warisan leluhur yang terus digenggam, dijaga, dan diwariskan dari generasi ke generasi.