Harmoni Masa Lalu dan Kini: Jejak Majapahit yang Hidup Kembali di Galeri Bali Abode

Satu kurasi yang hidup di Galeri Bali Abode menautkan kembali warisan Majapahit, tradisi Bali, dan narasi Nusantara dalam ruang yang hangat dan modern. Lewat Ider-Ider, artefak upacara, patung suci, hingga lontar, pengunjung diajak menyelami bagaimana budaya Bali terus bertumbuh di tengah arus zaman. Kunjungan ke galeri ini menjadi perjalanan menapaki jembatan waktu membuktikan bahwa masa lalu tetap berdenyut dan menemukan bentuk barunya di masa kini.

Feb 19, 2026 - 05:57
Feb 18, 2026 - 21:43
Harmoni Masa Lalu dan Kini: Jejak Majapahit yang Hidup Kembali di Galeri Bali Abode
Bali Abode Galeri (Sumber: Koleksi Pribadi)

Di tengah modernisasi Pulau Bali, Galeri Bali Abode di KEK Kura-Kura, Pulau Serangan, menghadirkan ruang tenang yang mempertemukan masa lalu dengan masa kini. Galeri ini memperlihatkan bagaimana pengaruh Majapahit, tradisi Bali, dan narasi budaya Nusantara terus hidup dan berdenyut hingga sekarang. Di bawah arahan Deasih S. Sudarman, galeri ini dibuka pada momen KTT G20 tahun 2022 dan cepat menarik perhatian para pengunjung yang ingin memahami akar budaya Bali dari perspektif yang lebih dalam. Begitu memasuki galeri, pengunjung langsung disuguhi koleksi yang penuh makna, mulai dari patung perunggu Dewi Sri yang melambangkan kesuburan dan keharmonisan alam, hingga artefak khas Majapahit yang menunjukkan betapa kuatnya jejak kerajaan besar itu dalam membentuk arsitektur, seni, hingga sistem kepercayaan masyarakat Bali.

Ider-Ider Khas Bali(Sumber: Koleksi Pribadi)

Di antara koleksi yang menarik perhatian, terdapat Ider-Ider, kain hias panjang khas Bali yang dipenuhi motif naratif. Ider-Ider di Bali Abode menampilkan berbagai cerita lintas budaya, salah satunya kisah legendaris Sampek Ingtai dari Tiongkok, kisah cinta klasik yang sering disebut sebagai “Romeo dan Juliet” versi Tionghoa. Tidak berhenti di sana, Ider-Ider juga memuat penggambaran cerita Rama, sekaligus beberapa kisah epos lainnya yang lazim hadir dalam seni visual Bali. Melalui detail motif dan teknik pembuatannya, pengunjung dapat melihat bagaimana masyarakat Bali sejak dulu menggunakan kain bukan hanya untuk dekorasi, tetapi sebagai media penceritaan.  

Alat Upacara(Sumber: Koleksi Pribadi)

Selain itu, galeri juga menampilkan beragam alat upacara yang digunakan masyarakat Bali untuk yadnya atau persembahan, seperti bokor, dulang, perangkat pemujaan, hingga peralatan ritual yang menunjukkan hubungan erat antara manusia dan ranah spiritual. Koleksi ini membantu pengunjung memahami bahwa upacara bukan sekadar tradisi, tetapi cara hidup masyarakat Bali dalam menjaga keseimbangan alam dan rasa hormat kepada leluhur. Tidak kalah penting, Bali Abode juga menyimpan lontar, manuskrip tradisional yang menjadi sumber pengetahuan, hukum adat, pengobatan, sastra, hingga ajaran spiritual. Lontar-lontar ini tersimpan rapi bersama tempat lontar, yaitu kotak atau wadah berukir yang dibuat dengan detail halus untuk melindungi naskah suci tersebut dari cahaya, kelembapan, dan kerusakan.

 Bali Abode Museum(Sumber: Koleksi Pribadi)

Keseluruhan pengalaman mengunjungi Bali Abode terasa seperti berjalan di atas jembatan waktu, melihat bagaimana jejak Majapahit, tradisi Bali, dan pengaruh lintas budaya dapat hidup berdampingan dalam satu kurasi yang hangat, modern, dan menggugah rasa ingin tahu. Galeri ini terbuka untuk siapa saja dan dapat dikunjungi setiap hari dari pukul 09.00 hingga 17.30 WITA, memungkinkan pengunjung menikmati setiap koleksi dengan tenang. Melalui ruang ini, Bali Abode tidak hanya mengajak orang memahami sejarah, tetapi juga merasakannya bahwa budaya adalah sesuatu yang hidup, diceritakan ulang, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.