Periodisasi Prasejarah di Bali
Periode prasejarah di Bali menyingkap jejak panjang kehidupan manusia sejak masa Paleolitikum hingga Zaman Perundagian, ketika peradaban mulai mengenal logam dan pola hidup menetap. Beragam artefak, situs pemukiman, serta peninggalan seperti sarkofagus dan nekara mencerminkan kemajuan teknologi, kepercayaan, dan struktur sosial masyarakat masa itu. Jejak budaya dan spiritual prasejarah ini menjadi fondasi terbentuknya identitas dan tradisi masyarakat Bali hingga kini.
Pulau Bali memiliki sejarah panjang yang dimulai jauh sebelum era pencatatan tertulis, ketika manusia purba pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini. Zaman prasejarah Bali ditandai dengan kedatangan berbagai jenis manusia seperti Homo erectus dan Homo sapiens, serta migrasi beberapa ras Homo sapiens seperti ras Melanesoid dan Mongoloid yang membentuk cikal bakal populasi Bali modern.
Ilustrasi AI Kedatangan Homo Sapiens di Bali (Sumber : Koleksi Pribadi)
Bukti tertua keberadaan manusia di Pulau Bali ditemukan melalui penemuan artefak berupa alat-alat batu dan sisa-sisa kerangka manusia yang diperkirakan berusia sekitar 40.000 tahun yang lalu. Penemuan penting lainnya termasuk sarkofagus batu dan berbagai peralatan dari zaman prasejarah yang tersebar di berbagai lokasi di Bali. Bangsa yang datang dan menetap di Pulau Bali memiliki akar bahasa Austronesia, yang membuktikan bahwa leluhur orang Bali adalah pelaut ulung yang melakukan migrasi maritim dari daratan Asia Tenggara. Teori migrasi Austronesia ini didukung oleh kesamaan bahasa, budaya, dan artefak yang ditemukan di kepulauan Nusantara, menunjukkan adanya jaringan pelayaran dan perdagangan yang luas pada masa prasejarah.
Periodisasi zaman prasejarah di Bali dapat dibagi menjadi empat fase utama: Paleolitikum (Zaman Batu Tua), Mesolitikum (Zaman Batu Tengah), Neolitikum (Zaman Batu Muda), dan Zaman Perundagian (Zaman Logam). Perlu dipahami bahwa istilah "prasejarah" tidak hanya merujuk pada penggunaan batu sebagai material utama, tetapi lebih kepada periode sebelum masyarakat mengenal sistem tulisan. Bahkan peradaban yang telah mengenal logam seperti perunggu dan besi tetap dikategorikan sebagai zaman prasejarah apabila mereka belum mengembangkan sistem pencatatan tertulis.
Ilustrasi AI empat zaman di Masa Prasejarah (Sumber : Koleksi Pribadi)
Pada zaman Paleolitikum, manusia Bali menggunakan alat-alat sederhana yang terbuat dari batu. Penemuan arkeologis menunjukkan adanya kapak perimbas (chopper) dan alat pembelah yang digunakan untuk berburu dan mengolah makanan. Memasuki zaman Mesolitikum, teknologi pembuatan alat batu mengalami kemajuan dengan ditemukannya kapak genggam (hand axe) dan alat serpih yang lebih halus dan tajam. Zaman Neolitikum menandai revolusi dalam kehidupan manusia Bali dengan ditemukannya kapak lonjong atau kapak persegi yang diasah halus, beliung batu, dan berbagai peralatan pertanian yang menunjukkan bahwa masyarakat telah beralih dari berburu-meramu ke bercocok tanam. Pada Zaman Perundagian, masyarakat Bali mulai mengenal pengolahan logam, terutama perunggu dan besi, yang menghasilkan berbagai benda seperti nekara, moko, kapak perunggu, dan perhiasan.
Pola pemukiman manusia purba di Bali mengalami evolusi seiring perkembangan zaman. Pada Paleolitikum, masyarakat masih menjalani kehidupan nomaden dan tinggal di gua-gua sebagai tempat berlindung. Beberapa gua yang pernah ditempati manusia purba di Bali antara lain Goa Sembiran dan gua-gua di kawasan Bali Selatan. Bukti hunian gua ini ditemukan melalui peninggalan artefak, dan sisa-sisa makanan berupa tumpukan kerang dan tulang hewan. Memasuki zaman Mesolitikum hingga Neolitikum, pola hidup masyarakat berangsur berubah menjadi semi-menetap dan akhirnya menetap dengan membangun pemukiman permanen. untuk pencarian pangan pada masa ini dilakukan dengan cara yaitu berburu (hunting), mengumpulkan (collecting), memungut (foraging), dan meramu (gathering) Laki-laki dewasa dengan persenjataan yang beragam seperti panah dan tombak melakukan cara berburu untuk mengumpulkan makanan, sedangkan pengumpulan, memungut dan meramu biasa dilakukan oleh wanita
Salah satu situs prasejarah paling penting di Bali adalah peradaban Gilimanuk yang terletak di bagian barat Pulau Bali, tepatnya di ujung Semenanjung Prapat Agung. Menurut para arkeolog, Gilimanuk menjadi lokasi pemukiman strategis karena berada di dekat muara Selat Bali yang menghubungkan Pulau Bali dengan Jawa. Lokasi ini memiliki sumber makanan melimpah dari laut dan hutan, serta menjadi jalur perdagangan dan migrasi antar pulau. Ekskavasi arkeologis di Gilimanuk menemukan puluhan rangka manusia yang dikubur dalam posisi terlipat bersama bekal kubur berupa perhiasan, gerabah, dan alat-alat dari perunggu dan besi. Temuan ini memberikan gambaran jelas tentang kehidupan sosial, teknologi, dan sistem kepercayaan masyarakat prasejarah Bali. Situs Gilimanuk diperkirakan aktif dari periode Neolitikum hingga awal era sejarah, sekitar 500 SM hingga 500 M.
Ilustrasi AI Gilimanuk pada Masa Prasejarah (Sumber : Koleksi Pribadi)
Sistem kepercayaan masyarakat prasejarah Bali didominasi oleh Animisme dan Dinamisme. Animisme adalah kepercayaan bahwa semua benda, baik hidup maupun mati, memiliki roh atau jiwa yang harus dihormati. Masyarakat percaya bahwa roh nenek moyang, hewan, tumbuhan, bahkan batu dan gunung memiliki kekuatan spiritual yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka. Sementara itu, Dinamisme adalah kepercayaan terhadap kekuatan gaib yang ada pada benda-benda tertentu seperti keris, batu besar, atau pohon tua. Bukti praktik kepercayaan ini terlihat dari bekal kubur yang ditemukan di situs Gilimanuk, termasuk perhiasan manik-manik, gelang perunggu, dan gerabah yang dipercaya akan digunakan oleh arwah di alam baka. Tradisi pemujaan terhadap roh nenek moyang ini kemudian berkembang dan berpadu dengan pengaruh Hindu-Buddha yang datang kemudian, membentuk sistem kepercayaan unik yang masih dapat dilihat dalam agama Hindu Bali modern. Selain itu terdapat temuan patung-patung sederhana di Bali. Patung prasejarah di Bali merupakan bagian dari tradisi megalitik yang berkembang ketika masyarakat mulai menetap dan membangun sistem kepercayaan terhadap roh leluhur yang terjadi di Masa Perundagian. Patung-patung ini berfungsi sebagai media pemujaan dan simbol kehadiran leluhur yang diyakini memiliki kekuatan sakral untuk melindungi masyarakat, menjaga kesuburan, dan menolak gangguan gaib. Temuan patung sederhana di daerah seperti Trunyan, Poh Asem, Depeha, dan Bugbug menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah Bali memerlukan representasi visual yang menjadi perantara antara dunia manusia dan dunia spiritual, sehingga patung ditempatkan pada ruang-ruang yang dianggap sakral dan memiliki nilai religius tinggi.
Patung Sederhana dari Poh Asem, Buleleng (Sumber : Buku Tinjauan Patung Sederhana di Bali dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan)
Secara artistik, patung prasejarah Bali memiliki bentuk sederhana dengan wajah bulat, mata membelalak, hidung besar, bibir tebal, dan tubuh yang dibuat tanpa proporsi anatomis realistis. Banyak patung digambarkan telanjang dengan alat kelamin ditonjolkan sebagai simbol kesuburan dan kelangsungan hidup masyarakat agraris. Gaya primitif ini bukan sekadar keterbatasan teknis pemahat, tetapi merupakan representasi filosofis tentang kesakralan, perlindungan, dan hubungan manusia dengan kekuatan kosmik pada masa prasejarah. Dengan demikian, patung prasejarah tidak hanya menjadi bukti perkembangan awal seni pahat Bali, tetapi juga mencerminkan pandangan hidup masyarakat Bali kuno tentang dunia yang penuh dengan kekuatan tak kasat mata.
Organisasi sosial masyarakat Bali pada masa prasejarah mengalami perkembangan yang dinamis seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan pola hidup manusia. Pada tahap awal, masyarakat Bali hidup secara nomaden atau berpindah-pindah (band society). Mereka merupakan kelompok kecil yang menggunakan perkakas batu sederhana khas zaman Paleolitikum dan Mesolitikum. Aktivitas utama mereka adalah berburu dan meramu, dengan jumlah anggota kelompok yang relatif sedikit umumnya kurang dari seratus orang. Kelompok ini biasanya terbentuk dari satu keluarga inti atau beberapa keluarga inti yang hidup bersama dan saling bergantung untuk bertahan hidup.
Seiring dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan, masyarakat prasejarah mulai hidup menetap serta mengenal kegiatan bercocok tanam dan beternak. Berdasarkan klasifikasi bentuk organisasi sosial yang dikemukakan oleh Elman Service, masyarakat pada masa Neolitikum dapat digolongkan sebagai Segmentary Society atau masyarakat yang tersegmentasi, dengan jumlah penduduk yang mencapai sekitar seribu orang. Pada masa ini, budaya Neolitik di kawasan Asia Tenggara, termasuk Bali, dipengaruhi oleh penyebaran penutur bahasa Austronesia yang berasal dari ras Mongoloid. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa pada masa tersebut masyarakat telah mengembangkan sistem pertanian sederhana dengan membudidayakan berbagai jenis tanaman seperti buah-buahan, umbi-umbian, dan padi-padian.
Menjelang akhir masa prasejarah, struktur sosial masyarakat Bali berkembang menuju bentuk organisasi kesukuan atau chiefdom. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya sejumlah fragmen cetakan nekara di Pura Puseh, Desa Manuaba, Tegallalang, Gianyar. Temuan tersebut mengindikasikan adanya perkembangan teknologi perunggu serta munculnya kelompok pengrajin logam yang memiliki status sosial tinggi. Penggunaan sarkofagus oleh kalangan tertentu juga menandakan bahwa masyarakat pada masa itu telah mengenal perbedaan status sosial. Selain itu, masyarakat kesukuan di Bali diduga telah memiliki pusat-pusat pemukiman yang berbenteng dan berfungsi tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial.
Ilustrasi AI Organisasi Sosial Masyarakat Kesukuan di Bali (Sumber : Koleksi Pribadi)
Studi tentang zaman prasejarah Bali terus berkembang melalui penelitian arkeologi, antropologi, dan linguistik. Penemuan-penemuan baru terus menambah pemahaman kita tentang bagaimana manusia purba hidup, bermigrasi, dan mengembangkan peradaban di Pulau Bali. Warisan prasejarah ini tidak hanya penting dari sisi akademis, tetapi juga menjadi bagian integral dari identitas budaya Bali yang kaya dan beragam hingga saat ini.