Dari Tabanan ke Jepang: Sanggar Nolin Membawa Kesenian Mandolin Tabanan Mendunia
Di tengah derasnya arus modernisasi, musik Bali menemukan kembali napas barunya melalui Neo Nolin—inovasi alat musik berdawai hasil kreasi I Nengah Raka Angga Nurbawa dari ISI Denpasar. Melalui Sanggar Neo Nolin, tradisi Mandolin Bali direkonstruksi menjadi genre musik baru yang memadukan nilai estetika klasik dengan spirit eksperimental modern.
Latar Sejarah Singkat
Musik Mandolin atau Nolin pertama kali dikenal di Bali sekitar tahun 1930-an di daerah Pupuan, Tabanan, sebagai hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Bali. Dahulu alat ini dimainkan dalam lingkungan keluarga bangsawan dan rakyat sebagai hiburan, sebelum berkembang menjadi ansambel kecil lengkap dengan kendang, suling, gong pulu, dan ceng-ceng.
Namun seiring modernisasi dan perubahan selera musik, kesenian Mandolin sempat terpinggirkan dan nyaris dilupakan. Dari kondisi inilah lahir upaya revitalisasi oleh generasi muda Bali melalui riset akademik dan eksplorasi musik eksperimental yang kemudian melahirkan alat musik baru bernama Neo Nolin.
Neo Nolin menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan musikal Pupuan, Tabanan—wilayah yang dikenal sebagai tanah kelahiran Mandolin Bali. Kata “Neo” berarti “baru”, simbol lahirnya kembali semangat tradisi dalam wujud kontemporer. Sanggar ini resmi berdiri sekitar tahun 2018 sebagai ruang kolaborasi antara seniman, akademisi, dan mahasiswa ISI Denpasar.
Peran dan Inovasi Sanggar Neo Nolin
Didirikan oleh I Nengah Raka Angga Nurbawa, alumnus pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Sanggar Neo Nolin menjadi wadah eksplorasi antara tradisi dan teknologi.
Angga merekonstruksi alat Mandolin tradisional menjadi Neo Nolin—instrumen tiga oktaf (angkepan tinggi, sedang, rendah) dengan 20 tuts dan sistem nada kromatis layaknya gitar atau piano. Neo Nolin dapat dimainkan dengan cara dipetik maupun digesek, memperluas jangkauan sonoritas dan teknik permainan.
Selain mencipta karya, sanggar ini juga berfungsi sebagai pusat inovasi dan riset musik tradisional Bali berbasis pendidikan tinggi, yang secara aktif mengadakan lokakarya, kelas praktik, dan penelitian kolaboratif. Melalui kegiatan tersebut, Sanggar Neo Nolin tidak hanya menjaga tradisi musik Bali, tetapi juga membuka ruang regenerasi bagi seniman muda.
Struktur dan Gaya Musik Neo Nolin
Neo Nolin mengadopsi sistem kromatis dan poliritmik, berbeda dari struktur gending konvensional Bali. Komposisinya memanfaatkan teknik augmentasi–diminusi, transposisi, retrograde, canon, dan subdivisi tempo, menghasilkan karya yang ekspresif dan kompleks.
Meski modern, Neo Nolin tetap berakar pada konsep tradisional jajar pageh—pembagian kawitan, pengawak, dan penyet—yang menjaga keseimbangan estetika khas karawitan Bali. Bentuk musik ini menjadi jembatan antara karawitan klasik dan eksperimen modern, di mana teknologi suara dan tata panggung berpadu dengan filosofi tradisi.
Sistem Pertunjukan
Pertunjukan Neo Nolin disusun menyerupai konser modern dengan tata panggung yang terkonsep secara artistik. Delapan instrumen Nolin biasanya ditempatkan melengkung di atas panggung, dilengkapi dengan spool speaker, tata cahaya yang dinamis, serta sistem suara profesional yang menghadirkan pengalaman auditori khas musik eksperimental Bali. Format pertunjukannya terbagi menjadi dua bentuk besar, yaitu instrumentalia penuh, di mana Neo Nolin tampil sebagai musik utama dengan komposisi orisinal hasil riset sanggar.
Gambar Pementasan Neo Nolin secara Intrumentalia penuh (Sumber: Koleksi Pribadi)
Sedangkan untuk format instrumentalia kolaboratif, ketika Neo Nolin berpadu dengan instrumen lain seperti Gamelan Semar Pagulingan, gitar, flute, jimbe, hingga vokal pop Bali. Pendekatan pertunjukan yang adaptif dan terbuka terhadap lintas genre ini menjadikan Neo Nolin mampu menjangkau berbagai lapisan audiens, mulai dari kalangan akademik hingga festival internasional, serta mempertegas posisinya sebagai representasi musik tradisional Bali yang berevolusi secara kreatif di panggung global.
Gambar Pementasan Neo Nolin secara Kolaborasi (Sumber: Koleksi Pribadi)
Prestasi dan Pencapaian Sanggar Neo Nolin
Salah satu pencapaian terbesar Sanggar Neo Nolin adalah tampil di panggung internasional Expo 2025 Osaka, Jepang, mewakili inovasi musik kontemporer Bali di ajang budaya dunia. Selain itu, sanggar ini juga sering diundang dalam festival seni daerah dan pementasan akademik, seperti Ubud Food Festival dan Denpasar Art Festival, yang menampilkan karya hasil riset karawitan kontemporer. Prestasi ini menegaskan bahwa keberhasilan Neo Nolin tidak hanya diukur melalui penghargaan formal, tetapi juga melalui pengakuan akademik, kolaborasi lintas budaya, dan kontribusi nyata dalam menghidupkan kembali Mandolin Bali dengan wajah baru.