Sanggar Penderang: Dari Gemerincing Gender Wayang hingga Rindik, Tempat Jiwa Kecil Menemukan Cahaya Melalui Denting Gamelan
Terletak di Jl. Raya Uluwatu No.13, Jimbaran, Kec. Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Kedonganan, tepat di sebelah Pasar Kedonganan, Sanggar Seni Penderang menjadi rumah bagi denting gamelan yang menenangkan jiwa. Di tengah hiruk pikuk kawasan Jimbaran yang ramai dengan aktivitas wisatawan, tempat ini hadir sebagai ruang sunyi yang dipenuhi irama tradisi dan semangat pelestarian budaya leluhur.
Sejarah dan Awal Mula Penderang
Didirikan pada 15 Juli 2015 oleh I Putu Ikka Darmawan, S.Sn., M.Sn., Sanggar Penderang lahir dari cinta terhadap seni dan rasa tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya Bali. Nama “PENDERANG” sendiri memiliki makna yang mendalam, berasal dari gabungan kata Penabuh (Pen), Gender (Der), dan Wayang (Ang). Gabungan ini melambangkan identitas sanggar sebagai wadah para penabuh gender wayang, sekaligus bentuk penghormatan terhadap para seniman di Desa Jimbaran yang telah mewariskan gamelan dan gending-gending suci kepada generasi berikutnya.
Kegiatan Latihan Sanggar Penderan ( Sumber : Koleksi Pribadi )
Jadwal Latihan Sanggar Penderang
Setiap sore, dari pukul 3 hingga 6, denting gender wayang dan rindik menggema lembut di halaman sanggar. Anak-anak dan remaja datang dengan penuh semangat, menata posisi, menyentuh bilah gamelan, dan perlahan menyalakan harmoni yang khas Bali. Latihan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk disiplin terhadap seni yang menumbuhkan kesabaran serta rasa hormat terhadap budaya sendiri. Suasana sore di Sanggar Penderang selalu terasa hangat cahaya matahari yang mulai redup berpadu dengan pantulan bilah gamelan menciptakan kesan magis yang sulit dilupakan. Tawa kecil para penabuh muda berpadu dengan suara dentingan gamelan, menghadirkan harmoni semangat muda. Di tengah ritme yang berulang, mereka belajar tentang ketekunan, kebersamaan, serta makna mendalam dari menjaga warisan leluhur. Setiap nada yang terlahir bukan hanya bunyi, melainkan doa dan rasa cinta terhadap budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.