Sanggar Nakula Sidakarya dan Pewarisan Tari Bali Klasik di Lingkungan Perkotaan Denpasar
Sanggar Tari Nakula berperan sebagai ruang pewarisan seni tari Bali di lingkungan perkotaan Denpasar. Melalui pembinaan regeneratif yang berakar pada tradisi banjar, sanggar ini mencetak generasi muda yang terampil dan berkarakter. Di tengah tantangan modernitas, Sanggar Tari Nakula terus menjaga keberlanjutan seni tari Bali agar tetap relevan.
Denpasar, Bali - Sanggar Tari Nakula merupakan salah satu ruang kultural yang memiliki peran penting dalam pelestarian dan pewarisan seni tari Bali di wilayah perkotaan Denpasar. Sanggar ini berdiri pada tahun 2002 di Banjar Dukuh Mertajati, Sidakarya, sebagai bentuk kebangkitan kembali dari Sanggar Tari Bali Tunas Muda yang telah ada sejak awal tahun 1990-an, namun sempat mengalami kevakuman pada tahun 1995. Atas prakarsa kepengurusan ST. Tunas Muda, sanggar tari tersebut kemudian dihidupkan kembali dengan nama Sanggar Tari Nakula sebagai upaya melanjutkan tradisi seni yang telah lebih dahulu tumbuh di lingkungan banjar. Pada awal pendiriannya, I Made Andita ditunjuk sebagai ketua pertama dan bertanggung jawab atas keberlangsungan kegiatan serta arah pengembangan sanggar.
Penamaan “Nakula” diambil dari tokoh pewayangan dalam kisah Mahabharata, yaitu salah satu dari Pancapandawa. Nakula dikenal sebagai sosok yang memiliki paras tampan, kecakapan, serta kharisma yang menonjol. Filosofi tersebut melatarbelakangi pemilihan nama sanggar, dengan harapan agar para anak didik Sanggar Tari Nakula kelak mampu memiliki kecakapan teknis, sikap, dan kharisma dalam berkesenian, sebagaimana karakter Nakula yang dihormati dalam tradisi pewayangan Bali.
Latihan Tari untuk Ujian Kenaikan Tingkat (Sumber: Koleksi Pribadi)
Sejak awal berdiri hingga saat ini, perjalanan Sanggar Tari Nakula tidak terlepas dari berbagai dinamika. Fluktuasi jumlah dan kualitas anak didik menjadi tantangan yang kerap dihadapi, seiring dengan perubahan kondisi sosial dan kesibukan masyarakat perkotaan. Meskipun demikian, dengan semangat untuk terus membangun kemajuan dalam bidang seni tari Bali, Sanggar Tari Nakula tetap mampu mempertahankan eksistensinya dan menjalankan aktivitas pembinaan secara berkelanjutan.
Salah satu ciri khas utama Sanggar Tari Nakula terletak pada sistem pembinaan yang bersifat regeneratif. Sanggar ini merupakan sub dari organisasi kepemudaan ST. Tunas Muda di Banjar Dukuh Mertajati, sehingga memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial masyarakat setempat. Para pelatih yang mengajar di sanggar ini umumnya merupakan mantan anak didik Sanggar Tari Nakula sendiri. Pola pembinaan yang berlangsung secara turun-temurun ini tidak hanya menjaga kesinambungan pewarisan pengetahuan tari, tetapi juga memperkuat rasa memiliki dan tanggung jawab generasi muda terhadap keberlangsungan sanggar.
Latihan Tabuh di Sanggar Tari Nakula (Sumber: Koleksi Pribadi)
Dalam aspek pembelajaran, Sanggar Tari Nakula tidak menetapkan satu jenis tarian sebagai ikon khusus. Sanggar ini mengajarkan berbagai jenis tari, baik tari klasik Bali maupun tari kreasi baru, sehingga para anak didik memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai kekayaan repertoar tari Bali. Kegiatan rutin sanggar meliputi pelaksanaan kenaikan tingkat setiap tahunnya serta keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan dan event budaya yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Denpasar, seperti Melepas Matahari, Maha Bandana, dan kegiatan budaya lainnya.
Selain itu, Sanggar Tari Nakula juga kerap diundang untuk tampil dalam berbagai acara adat, budaya, dan festival, khususnya yang berkaitan dengan agenda kebudayaan Kota Denpasar. Partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan tersebut menjadi wujud nyata kontribusi sanggar dalam menghidupkan seni pertunjukan Bali di ruang publik, sekaligus memperluas pengalaman tampil dan mental berkesenian para anak didik.
Peran Sanggar Tari Nakula dalam pelestarian dan pengembangan seni tari Bali dinilai sangat signifikan. Melalui proses pembinaan yang berkelanjutan dan berbasis regenerasi, sanggar ini mencetak generasi muda yang memiliki keterampilan, disiplin, serta pemahaman nilai-nilai budaya yang terkandung dalam seni tari Bali. Dengan demikian, sanggar tidak hanya berfungsi sebagai tempat latihan, tetapi juga sebagai ruang pendidikan budaya yang membentuk karakter generasi penerus.
Latihan Tari di Sanggar Tari Nakula (Sumber: Koleksi Pribadi)
Di sisi lain, pelestarian seni tari Bali di lingkungan perkotaan seperti Denpasar tidak terlepas dari berbagai tantangan. Kesibukan anak didik yang padat akibat aktivitas sekolah dan kegiatan lainnya menjadi kendala utama dalam proses latihan. Oleh karena itu, pihak sanggar dituntut untuk memiliki strategi pengelolaan waktu dan sistem latihan yang fleksibel agar kegiatan sanggar tetap dapat berjalan secara sinergis dengan kehidupan sehari-hari para anak didik.
Meskipun menghadapi tantangan tersebut, minat generasi muda perkotaan terhadap tari Bali dinilai masih sangat baik. Hal ini tercermin dari antusiasme para anak didik dalam mengikuti pelatihan, serta dukungan orang tua yang cukup tinggi dalam mendorong anak-anak mereka untuk terlibat dalam kegiatan berkesenian. Ke depan, Sanggar Tari Nakula terus berupaya melakukan inovasi dan pemajuan sanggar dengan menyesuaikan diri terhadap perkembangan era digital, sehingga seni tari Bali tetap relevan, adaptif, dan diminati oleh generasi masa kini.