Latihan Seni di Tengah Perbukitan: Kisah Sanggar Graha Kumara Santih di Desa Culik, Karangasem

Sanggar Seni Graha Kumara Santih merupakan ruang pembinaan seni tradisi Bali yang tumbuh dan berkembang di tengah perbukitan Desa Culik, Karangasem. Sanggar ini menjadi tempat belajar, mengabdi, dan menumbuhkan kecintaan terhadap seni bagi generasi muda melalui praktik budaya yang hidup dan membumi.

Jun 3, 2026 - 05:02
Jun 2, 2026 - 22:07
Latihan Seni di Tengah Perbukitan: Kisah Sanggar Graha Kumara Santih di Desa Culik, Karangasem
Sanggar Seni Graha Kumara Santih (Sumber: Koleksi Pribadi)

Sanggar Seni Graha Kumara Santih berlokasi di Banjar Geria, Desa Culik, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, dan telah menjadi bagian penting dari kehidupan seni masyarakat setempat. Sanggar ini berfungsi sebagai wadah pembinaan seni bagi anak-anak hingga orang dewasa, sekaligus ruang pelestarian nilai budaya dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.

Latihan Tari di Sanggar Seni Graha Kumara Santih (Sumber: Koleksi Pribadi)

Sanggar ini dipimpin oleh Ida Ayu Ketut Santi Wiryani, yang sejak sekitar tahun 1990 telah mulai mengajarkan tari tradisional Bali kepada anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Berangkat dari panggilan hati dan warisan seni dari orang tua, ia mengajar tanpa latar pendidikan seni formal, melainkan dari pengetahuan tradisi leluhur yang ia miliki dan hayati.

Pada masa awal, kegiatan latihan dilakukan secara sederhana di halaman rumah tanpa memungut biaya. Seiring waktu, anak-anak yang dibina kerap tampil ngayah di pura dan dalam berbagai kegiatan, sehingga minat masyarakat semakin meningkat. Pada tahun 2002, tempat latihan ini kemudian diberi nama Sanggar Seni Graha Kumara Santih dan mulai dikenal sebagai sanggar seni di Desa Culik.

Penari Tari Baris Gede (Sumber: Koleksi Pribadi)

Nama Graha Kumara Santih mengandung makna yang mendalam. Sanggar Seni dimaknai sebagai perkumpulan berbagai bidang seni, Graha berarti rumah atau tempat, Kumara berarti anak-anak, dan Santih bermakna damai. Secara utuh, nama ini mencerminkan harapan agar sanggar menjadi rumah bagi anak-anak untuk mencari kedamaian melalui seni, menumbuhkan rasa persaudaraan, keharmonisan, sopan santun, dan saling menghargai.

Dalam perkembangannya, sanggar ini mengajarkan beragam bidang seni, mulai dari Tari Rejang dan Baris Gede sebagai tarian wajib sesuai motto sanggar, hingga tari hiburan, sastra Bali modern seperti masatua, mendongeng, puisi, darmawacana, dan pidarta. Selain itu, sanggar juga membina drama berbahasa Bali dan Indonesia, serta pernah melatih baleganjur bersama ibu-ibu PKK Desa Culik untuk keperluan ngayah dan kegiatan adat.

Menari dalam Piodalan di Pura Tri Kahyangan Desa Culik (Sumber: Koleksi Pribadi)

Motto sanggar, “Menari untuk Yadnya”, diwujudkan secara nyata melalui keterlibatan rutin dalam piodalan di Pura Tri Kahyangan Desa Culik dan pecaruan di catur pata desa setiap Hari Raya Kesanga, dengan melibatkan puluhan penari. Meski menghadapi tantangan seperti keterbatasan dana, jumlah pembina yang masih minim, dan kebutuhan dukungan untuk pementasan, sanggar ini terus bertahan dengan harapan besar agar generasi muda tetap mencintai seni, serta memperoleh perhatian dan penghargaan dari pemerintah bagi keberlanjutan sanggar-sanggar kecil di Bali.