Sanggar Seni Tindak Alit: Menghidupkan Tradisi Lewat Parade Ngelawang di Pesta Kesenian Bali

Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu menjadi panggung besar yang mempertemukan ragam ekspresi seni dan budaya dari berbagai pelosok daerah di Bali. Dalam acara ini, masyarakat tidak hanya disuguhi keindahan estetika seni, tetapi juga diajak menyelami makna, filosofi, dan energi spiritual yang menyertainya. Salah satu penampilan yang memberi warna berbeda dalam perhelatan PKB kali ini adalah parade Ngelawang yang dipersembahkan oleh Sanggar Seni dan Budaya Tindak Alit bekerja sama dengan Duta Kabupaten Badung serta Yowana Desa Adat Sempidi dengan tema Nangiang Warih.

Mar 22, 2026 - 06:08
Mar 21, 2026 - 21:53
Sanggar Seni Tindak Alit: Menghidupkan Tradisi Lewat Parade Ngelawang di Pesta Kesenian Bali
Suasana Parade Ngelawang Sanggar Seni Tindak Alit di Pesta Kesenian Bal (Sumber: Koleksi Pribadi)

Parade ini bukan sekadar pertunjukan hiburan, melainkan sebuah panggilan jiwa untuk kembali merawat warisan leluhur yang hampir terlupakan. Di tengah gegap gempita modernisasi, Sanggar Seni Tindak Alit hadir dengan semangat membangkitkan kembali seni pertunjukan Barong Sempidi yang pernah berjaya pada era 1960-an. Pada masa itu, Barong bukan hanya menjadi daya tarik wisatawan, tetapi juga menjadi simbol identitas sekaligus media spiritual masyarakat. Sayangnya, seiring waktu, pertunjukan tersebut meredup dan meninggalkan kenangan serta artefak yang nyaris tak terawat. Dari kondisi inilah muncul tekad untuk menghidupkan kembali semangat berkesenian itu melalui panggung PKB.

Ngelawang sendiri memiliki makna yang sangat dalam. Tradisi ini diambil dari kata lawang yang berarti pintu, yang secara simbolis dimaknai sebagai perjalanan dari satu tempat ke tempat lain untuk membawa energi pembersihan dan perlindungan. Barong yang diusung dalam tradisi ini diyakini mampu menolak bala dan membersihkan lingkungan dari hal-hal negatif. Lebih dari sekadar tontonan, Ngelawang adalah sarana ritual yang menyatukan nilai religius, sosial, dan spiritual masyarakat.

 


Pertunjukan Barong Sempidi yang kembali dihidupkan melalui parade Ngelawang
(Sumber: Koleksi Pribadi)

 

Ketika Sanggar Seni Tindak Alit menampilkan parade Ngelawang di PKB, nuansa sakral dan semarak berpadu indah. Tidak hanya gerak dan tabuh yang disajikan, tetapi juga nilai filosofi yang coba dihidupkan kembali. Generasi muda yang tergabung dalam Yowana Desa Adat Sempidi berperan besar dalam pergelaran ini. Mereka bukan hanya sekadar pelaku seni, melainkan pewaris budaya yang berkomitmen untuk menjaga keberlangsungan tradisi.

Kehadiran parade Ngelawang di PKB juga mengingatkan publik bahwa seni bukan semata milik masa lalu. Justru dari warisan yang pernah hampir terlelap, lahir semangat baru untuk menghadirkan karya yang berakar kuat pada tradisi, namun tetap terbuka bagi generasi muda untuk menafsirkan kembali sesuai konteks kekinian. PKB menjadi ruang ideal bagi upaya semacam ini, karena acara tersebut tidak hanya merayakan estetika, tetapi juga menjadi wadah edukasi dan pewarisan nilai budaya.

 


Generasi muda Yowana Desa Adat Sempidi sebagai pewaris tradisi
(Sumber: Koleksi Pribadi)

 

Parade Ngelawang oleh Sanggar Seni Tindak Alit membawa pesan bahwa melestarikan warisan leluhur tidak cukup hanya dengan menjaga benda-benda peninggalan atau menyimpan cerita dalam ingatan, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk nyata yang bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Melalui panggung PKB, pesan itu tersampaikan dengan indah.

Dengan tampil di ajang sebesar PKB, Sanggar Seni Tindak Alit berhasil menunjukkan bahwa revitalisasi seni tradisi tidak hanya mungkin dilakukan, tetapi juga bisa menjadi sumber kebanggaan dan inspirasi. Ngelawang yang mereka hadirkan adalah bentuk penghormatan pada leluhur sekaligus persembahan bagi generasi masa kini dan mendatang.