Gender Berbisik, Selonding Mengalun: Sanggar Seni Cahya Art Baliqui, Jantung Gamelan Bali
Di sebuah sudut Bali, Sanggar Seni Cahya Art Baliqui tumbuh sebagai rumah bagi anak-anak dan generasi muda yang ingin menjaga denyut gamelan. Dari alunan sakral Selonding hingga lembutnya Gender, sanggar ini menjadi jantung pelestarian musik tradisi yang hampir terlupakan. Dipimpin oleh sosok pendiri yang penuh dedikasi, tempat ini bukan sekadar ruang latihan, melainkan wadah kebersamaan, pendidikan, dan kecintaan akan budaya.
Sanggar Seni Cahya Art Baliqui berdiri pada 11 Juni 2011 di Jalan Muding Indah II No. 5B, Lingkungan Petingan, Kerobokan Kaja, Kuta Utara, Badung, Bali. Sanggar ini lahir dari inisiatif I Wayan Cahya Hendra Sujana bersama ayahnya. Nama “Cahya Art Baliqui” punya makna khusus: “Cahya” dari nama pendirinya, “Art” berarti seni, “Bali” menegaskan identitas budaya lokal, dan “qui” diambil dari penggalan kata “kuwi” dari bahasa Jawa kuno atau Sansekerta yang berarti kuno. Nama ini menjadi simbol pertemuan antara identitas pribadi, seni, dan akar budaya Bali.
I Wayan Cahya Hendra Sujana, pemilik Sanggar Seni Cahya Art Baliqui (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Sejak awal, sanggar ini fokus mengajarkan seni karawitan Bali kepada anak-anak dan remaja. Latihannya mencakup berbagai instrumen gamelan, seperti Gender Wayang, Selonding, Rindik, Kendang, hingga barungan Semar Pegulingan. Tidak hanya instrumen, anak-anak juga belajar vokal tradisional, mulai dari megeguritan, mekidung, sekar alit, mesatua, hingga mepidarta. Semua kegiatan berlangsung dalam suasana kolektif, sehingga setiap anak, baik yang sudah berbakat maupun yang baru mencoba, bisa belajar bersama.
Salah satu gamelan yang diajarkan di sanggar, Selonding (Sumber Foto : Koleksi Sanggar)
Sanggar ini nyaris tidak pernah sepi. Latihan dilakukan setiap hari dengan dua sesi, pagi dan sore, mengikuti jadwal sekolah anak-anak. Jika ada yang bersekolah di pagi hari, mereka bisa berlatih sore, dan begitu juga sebaliknya. Fleksibilitas inilah yang membuat sanggar tetap hidup dan ramai.
Menurut Bapak Cahya Hendra, mengajar anak-anak dengan latar belakang yang beragam tentu penuh tantangan. Ada yang datang karena kecintaan pada seni, ada yang sekadar ingin mencoba, bahkan ada yang hadir karena dorongan orang tua. Menyatukan karakter dan ego anak-anak dalam latihan kolektif sering kali menjadi ujian tersendiri. Namun, dari proses inilah lahir kedisiplinan, kebersamaan, dan harmoni yang juga tercermin dalam tabuhan gamelan.
Gender Wayang, salah satu instrumen utama dalam latihan (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Kerja keras itu berbuah prestasi. Beberapa penghargaan yang pernah diraih sanggar ini antara lain Juara 2 Lomba Gender Wayang di Banjar Pande Mas Kuta Tahun 2022, Juara 3 Lomba Gender Wayang HUT LPD Canggu Tahun 2023, Juara 3 Lomba Gender Wayang Anak-anak Tingkat Provinsi Pesta Kesenian Bali 2019 sebagai duta Kabupaten Badung, serta berbagai penghargaan lomba gender wayang di tingkat SMP dan SMK. Sanggar ini juga berhasil meraih Juara 1 dan Juara Terfavorit Lomba Rindik Virtual FAD 2021 Kabupaten Badung, sebuah bukti bahwa suara gamelan mereka bisa menggema lebih luas.
Namun, tujuan utama sanggar ini bukan sekadar meraih piala. Menurut pendirinya, sanggar hadir untuk menjaga dan mewariskan seni karawitan Bali. Anak-anak yang belajar di sini diharapkan tidak hanya memperoleh keterampilan musik, tetapi juga mampu mengamalkannya di masyarakat, misalnya untuk ngayah di pura atau upacara adat. Lebih jauh lagi, mereka diharapkan bisa membawa gamelan Bali ke panggung internasional.
Harapan besar pun digantungkan pada generasi muda yang berlatih di sini. Dengan tekad untuk tetap berdampingan antara tradisi dan modernisasi, Sanggar Seni Cahya Art Baliqui berusaha menjaga agar gamelan Bali tetap hidup. Dari ruang kecil di Kerobokan Kaja, denting selonding dan bisikan gender wayang terus mengalun, menjadi bukti bahwa warisan budaya ini tidak akan hilang, melainkan terus diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.