Menjaga Nada Tradisi: Kisah I Ketut Warsa, Pengerajin Gamelan Larasjati Sejak 1980-an
I Ketut Warsa, pengerajin gamelan yang sejak tahun 1980-an mengabdikan hidupnya untuk menjaga dan melestarikan gamelan Bali. Berawal dari keturunan dan pembelajaran sejak usia muda, beliau menjadi sosok penting dalam dunia pengerajinan gamelan, khususnya melalui karya-karya gamelan larasjati yang hingga kini tetap hidup dan bermakna.
Kecintaan I Ketut Warsa terhadap dunia gamelan tidak lahir secara tiba-tiba. Perjalanan panjangnya sebagai pengerajin gamelan berawal dari lingkungan keluarga dan garis keturunan yang telah lebih dahulu bergelut dengan seni tradisi. Sejak usia muda, beliau tumbuh di tengah suara bilah dan gong, menyaksikan secara langsung proses pembuatan gamelan yang sarat dengan nilai budaya dan spiritual. Pengalaman inilah yang secara tidak langsung menjadi proses pembelajaran awal bagi beliau.
Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, I Ketut Warsa telah diajak terlibat langsung dalam proses pembuatan gamelan bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Dari situlah beliau mulai mengenal tahap demi tahap pengerjaan gamelan, mulai dari pembentukan bahan, teknik pembuatan bilah, hingga proses ngelaras yang membutuhkan ketelitian dan kepekaan rasa. Proses belajar yang berlangsung secara alami dan berkelanjutan ini menumbuhkan keinginan kuat dalam diri beliau untuk melanjutkan dan mengabdikan hidupnya pada dunia pengerajinan gamelan.
I Ketut Warsa Sedang Membuat Gamelan (Sumber : Koleksi Pribadi)
Keinginan tersebut kemudian diwujudkan dengan mendirikan pengerajin gamelan yang diberi nama Larasjati, sebuah nama yang mencerminkan keseimbangan antara laras (nada) dan jati diri tradisi. Tempat pengerajin gamelan Larasjati berlokasi di Desa Adat Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali, dan hingga kini masih aktif menjadi ruang berkarya sekaligus ruang pewarisan nilai-nilai tradisi.
Sebagai pengerajin gamelan, I Ketut Warsa dikenal memiliki keahlian yang luas dan mendalam. Beliau mampu membuat berbagai jenis gamelan Bali, seperti Semar Pegulingan, Gong Kebyar, Angklung, Selonding, Gender, dan jenis gamelan lainnya. Keahlian ini tidak hanya mencerminkan kemampuan teknis, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap karakter, fungsi, dan filosofi masing-masing gamelan.
Prapen Tempat Pengapian Bilah (Sumber : Koleksi Pribadi)
Salah satu karya yang paling identik dan melekat dengan sosok I Ketut Warsa adalah gamelan selonding. Kesenian ini memiliki nilai sakral dan sejarah panjang dalam tradisi Bali, sehingga proses pembuatannya menuntut ketelitian, kepekaan rasa, serta pemahaman mendalam terhadap pakem leluhur. I Ketut Warsa dikenal sebagai pencetus pengembangan jegog dengan bilah ganda (dua-dua), sebuah inovasi yang lahir dari pengamatan, pengalaman panjang, dan kecintaannya terhadap bunyi tradisi. Pengembangan tersebut tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui proses panjang yang tetap menghormati struktur nada, fungsi ritual, dan makna spiritual yang melekat pada gamelan selonding.
Inovasi bilah ganda ini menghadirkan karakter bunyi yang lebih kuat dan berlapis, namun tetap menjaga ruh kesakralan selonding sebagai gamelan tua Bali. Karya ini menjadi bukti bahwa tradisi tidak bersifat kaku, melainkan mampu berkembang secara bijaksana tanpa kehilangan jati dirinya. Melalui karya-karyanya, I Ketut Warsa menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti menolak pembaruan, selama pembaruan tersebut dilakukan dengan rasa hormat, kesadaran, dan tanggung jawab terhadap nilai-nilai leluhur.
Koleksi Gamelan I Ketut Warsa (Sumber : Koleksi Pribadi)
Bagi I Ketut Warsa, membuat gamelan bukan sekadar pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan sebuah bentuk pengabdian terhadap warisan budaya Bali. Setiap proses pembuatan gamelan dijalani dengan kesungguhan, kesabaran, dan rasa tanggung jawab moral untuk menjaga kualitas bunyi dan makna yang terkandung di dalamnya. Beliau meyakini bahwa gamelan bukan hanya alat musik, tetapi juga media spiritual yang menghubungkan manusia dengan tradisi dan nilai-nilai luhur.
Harapan I Ketut Warsa kepada generasi muda adalah agar mampu melanjutkan dan melestarikan warisan leluhur, khususnya dalam bidang pengerajinan gamelan Bali. Di tengah arus modernisasi yang semakin kuat, keberlanjutan seni tradisi sangat bergantung pada kesadaran, kepedulian, dan keterlibatan generasi penerus. Dengan terus belajar, berkarya, dan menghargai proses, generasi muda diharapkan mampu menjaga nada-nada tradisi agar tetap hidup, berkembang, dan bermakna bagi kehidupan masyarakat Bali di masa depan.