Antara Palu, Doa, dan Tren Masa Kini: Sisi Lain Regenerasi Pengrajin Emas Klungkung
Di Desa Tegak, Klungkung, emas ditempa bukan dengan mesin cetak, melainkan dengan palu, api, dan kesabaran bertahun-tahun. Namun berbeda dari dugaan banyak orang, keahlian ini ternyata tidak diwariskan berdasarkan garis keturunan, melainkan tumbuh dari ketekunan personal I Kadek Suana, salah satu pengrajin yang masih bertahan di tengah gempuran perhiasan pabrikan dan derasnya arus generasi muda yang berpaling ke dunia digital.
Api menyala di atas tatakan, tempat sekeping emas 24 karat diletakkan sebelum dilebur. Di tangan I Kadek Suana, sekeping logam itu akan melewati puluhan tahap sebelum berubah menjadi kalung yang dikenakan di pura, di upacara adat, atau di acara keluarga. Prosesnya panas, kotor, dan memakan waktu dua hari penuh untuk satu kalung saja. Tidak ada mesin cetak, tidak ada template digital, Â hanya palu, tenaga, dan jam terbang.
Selama 18 tahun, Suana menekuni profesi ini di Desa Tegak, Klungkung, salah satu kantong pengrajin perhiasan emas tradisional di Bali. Ia mengawali perjalanannya bukan langsung dari emas, melainkan dari perak. Baru setelah tiga bulan berlatih, ia dipercaya memegang emas untuk pertama kalinya.
"Awal-awal cukup kaget dengan cara pembuatannya yang sulit, terutama karena kebanyakan menggunakan api. Jadi harus terbiasa dulu dengan panas api setelah melebur atau membakar perhiasan," kenang Suana.
Banyak yang mengira keahlian menempa emas sakral di Bali hanya boleh diwariskan kepada garis keturunan tertentu, sebagaimana yang berlaku pada keluarga Pande yang menekuni pande besi. Namun menurut Suana, anggapan itu tidak sepenuhnya berlaku pada pengrajin emas.
"Pengrajin emas itu tidak ada warisan, karena ini kembali ke hobi atau kesenangan pribadi. Berbeda dengan keluarga Pande yang menekuni pande besi, yang memang harus diwariskan. Kalau pengrajin emas, itu kembali kepada personal, apakah dia senang mengrajin atau tidak," jelasnya.
Fakta ini menggeser pandangan umum tentang profesi ini. Yang menjaga kelangsungan kerajinan emas di Desa Tegak bukanlah kewajiban adat yang mengikat darah keturunan, melainkan minat dan ketekunan individu, Â sesuatu yang menurut Suana justru lebih rapuh di tengah godaan zaman, karena siapa pun bisa berhenti kapan saja tanpa merasa melanggar aturan apa pun.
Meski begitu, unsur spiritual tetap hadir dalam prosesnya, meski tidak dalam bentuk mantra khusus. Sebelum mulai bekerja, Suana biasa menghaturkan pejati, sarana persembahyangan sederhana yang dimaksudkan agar ia tetap tekun dan hasil kerjanya maksimal.
"Kalau mantra khusus sebenarnya tidak ada, tapi kalau sarana itu ada, seperti pras pejati, saat kita mau memulai bekerja, agar tekun dan hasilnya bisa maksimal serta lancar dalam proses bekerja," ujarnya.
Penentuan dewasa ayu, atau hari baik, juga masih diperhatikan, bukan sebagai syarat mutlak yang kaku, melainkan sebagai penjaga suasana hati agar pengrajin tetap senang menjalani pekerjaannya dari hari ke hari.
Bahan Emas yang Sedang Dilebur (Sumber : Koleksi Pribadi)
Proses membuat sebuah kalung emas dimulai jauh sebelum bentuknya mulai terlihat. Bahan baku emas 24 karat dicampur dengan logam lain hingga menjadi kadar 22 karat, lalu dilebur. Setelah itu, bahan tersebut dicamplong, yaitu dipukul dengan palu, kemudian dilindes menggunakan alat khusus untuk memipihkan dan memanjangkan bahan. Proses bakar-pukul-pipihkan ini diulang berkali-kali hingga bahan memanjang sekitar satu meter, sebelum akhirnya melalui proses pengaudan, ditarik hingga menjadi kawat tipis.
Perhitungannya pun tidak sembarangan. Untuk kalung seberat 10 gram misalnya, dengan tambahan 1 gram sebagai serep (cadangan), dan target panjang 50 sentimeter, seorang pengrajin harus menghitung agar kawat yang dihasilkan mencapai sekitar 3,5 meter. Perhitungan ini dikenal dengan istilah klanji, semacam rumus baku yang dipegang pengrajin agar hasil akhirnya presisi dan proporsional saat dirangkai menjadi kalung.
Setelah kawat jadi, tahapannya berlanjut: dipotong, disambung dengan patri, dibentuk kembali melalui proses elup dan pelpel (dipipihkan), dilindes ulang, diaudin hingga licin dan mengkilap, lalu dikesod untuk membersihkan sisa material sesuai berat yang diinginkan. Tahap akhir adalah pembuatan ceklek (pengait), disusul proses penyepuhan, mencelupkan perhiasan ke dalam air sendawa yang dicampur garam dan tawas, sebelum disikat dan disangling hingga mengkilap sempurna dan siap dipakai.
Seluruh alat yang digunakan pun khas: palu, tang, pemaron (tatakan untuk menempa), penglindesan, pengaudan, kompor khusus pembakaran, taktakan sebagai penyangga emas saat dibakar, hingga gunting sepit. Di antara semua itu, pemaron menjadi salah satu alat yang paling dijaga karena statusnya sebagai warisan turun-temurun dalam praktik menempa.
Di tengah gempuran perhiasan pabrikan yang jauh lebih murah dan cepat diproduksi, Suana mengaku tidak merasa terlalu terancam. Menurutnya, ada perbedaan mendasar antara emas buatan tangan dan buatan pabrik yang tidak sekadar soal harga.
"Kalau buatan tangan lebih paten dan lebih kuat. Kalau buatan pabrik, kadarnya lebih muda dan lebih ringan, jadi lebih rentan putus, tidak sekuat buatan tangan," jelasnya. Emas pabrikan umumnya berkadar 18 hingga 21 karat, sementara emas buatan pengrajin Desa Tegak cenderung mempertahankan kadar yang lebih tua, karakteristik yang membuatnya lebih awet meski dipakai sehari-hari.
Perbedaan itu, menurut Suana, membuat emas pengrajin tetap punya pasarnya sendiri di kalangan masyarakat Bali, meski perhiasan cetakan massal terus membanjiri toko-toko.
"Emas pengrajin, bagaimanapun harganya, tetap diminati orang Bali karena harganya pasti tetap dan kualitasnya bagus. Kebanyakan emas massal pabrik itu hanya digunakan untuk berhias saja," katanya.
Di sinilah istilah taksu, roh atau karisma yang diyakini melekat pada sebuah karya, menemukan maknanya dalam konteks kerja Suana. Baginya, taksu lahir dari keterlibatan rasa dan pikiran manusia dalam setiap pukulan palu, sesuatu yang menurutnya tidak akan pernah bisa disamai oleh mesin.
"Pengrajin itu menggunakan tenaga dan pikiran manusia. Ketika manusia itu senang dengan pekerjaannya, apalagi pengrajin ini kan sebenarnya juga termasuk seniman, di sanalah taksunya ada. Rasa dari pengrajin dalam membuat suatu kerajinan itu tidak akan bisa disamakan dengan hasil kerja mesin," ujarnya.
Reputasi personal, menurutnya, menjadi bukti nyata dari nilai itu. Ketika seorang pengrajin sudah dikenal baik, pelanggan akan datang langsung membawa referensi desain yang mereka inginkan, alih-alih memilih perhiasan cetakan yang seragam.
Soal pemasaran digital, Suana mengaku belum menyentuhnya sama sekali. Ini bukan karena keterbatasan akses, melainkan karena pola kerja yang sudah berjalan lama: ia menerima pesanan langsung dari toko-toko perhiasan, memproduksi sesuai permintaan, lalu menyetorkan hasilnya. Toko itulah yang kemudian mendistribusikan perhiasan ke pelanggan akhir, sehingga pengrajin seperti Suana tidak perlu membangun etalase digital sendiri.
Suasana Ruang Kerja Pengrajin dengan Peralatan Pembuatan Emas (Sumber : Koleksi Pribadi)
Pertanyaan besar yang menggantung di atas kerajinan ini adalah soal regenerasi. Suana melihat sendiri bagaimana generasi muda di sekitarnya lebih memilih sektor pariwisata atau dunia digital ketimbang belajar menempa emas.
"Generasi muda sekarang lebih tertarik ke dunia digital karena memande emas itu membosankan. Kalau bekerja di sektor pariwisata atau digital kan enak, bisa jalan-jalan. Kalau jadi pengrajin emas, kerjanya berat dan kotor, jadi jarang yang mau melanjutkan," katanya.
Selain soal gengsi, faktor lain yang menurut Suana turut berperan adalah panjangnya proses belajar. Baginya, minat personal menjadi penentu apakah proses belajar itu terasa ringan atau justru menjadi beban.
"Kalau senang menekuni, bisa saja cepat. Tapi kalau kurang nyaman, jadinya seperti belajar matematika untuk orang yang kurang suka matematika malah suntuk, membosankan, dan jadi beban," ujarnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa keahlian ini sebenarnya bisa dikuasai dalam waktu yang relatif singkat bagi yang serius menjalaninya, sekitar enam bulan untuk benar-benar siap menggarap pekerjaan emas secara mandiri, mengingat bahan baku yang digunakan bernilai tinggi dan menuntut ketelitian sejak awal.
Soal pantangan yang sering dikaitkan dengan pekerjaan-pekerjaan tradisional yang bersinggungan dengan benda sakral, Suana meluruskan bahwa dalam praktiknya sehari-hari, pantangan yang paling ia jaga sebenarnya lebih praktis ketimbang mistis: kedisiplinan dan kebersihan kerja.
"Untuk pantangan, tidak ada yang secara spiritual, lebih ke kebersihan. Kalau kerjanya sembrono atau tidak becus, tidak cuci tangan, itu bisa membuat penyusutan bahan, dan itu ditanggung oleh pengrajin sendiri. Makanya setelah kerja harus cuci tangan dan selalu membersihkan ruang kerja," jelasnya. Sebuah detail kecil yang menunjukkan bagaimana kehati-hatian terhadap material bernilai tinggi menyatu dengan etos kerja yang telah ia jalani selama hampir dua dekade.
Hasil Perhiasan Emas yang Sudah Jadi dan Siap Pakai (Sumber : Koleksi Pribadi)
Di ujung wawancara, ditemani istrinya, Ni Made Budiani, Suana tidak banyak berharap. Ia tidak meminta pengakuan besar atau dukungan dana. Yang ia inginkan hanya satu: ada yang mau meneruskan.
"Harapannya semoga ada generasi muda yang ingin atau bersedia meneruskan kerjaan ini, walaupun kerjanya berat dan sulit, agar ada saja yang meneruskan warisan ini. Kalau tidak ada yang meneruskan, jadinya kasihan, tidak ada generasi penerus kerajinan emas di Bali, dan malah barang dari luar Bali yang banyak beredar di sini. Jadi biar kearifan lokal tetap hidup," katanya menutup perbincangan.
Kisah Suana menunjukkan bahwa yang menjaga kerajinan emas Desa Tegak tetap hidup bukanlah aturan adat yang mengikat, melainkan sesuatu yang jauh lebih rapuh dan personal: kesenangan dan ketekunan seseorang terhadap panas api, bunyi palu, dan proses panjang yang tidak bisa dipercepat oleh teknologi apa pun. Selama masih ada yang mau menekuninya dengan senang hati, taksu itu akan terus hidup, walau dengan jumlah pengrajin yang kian menipis dari tahun ke tahun.