Ketika Bali Menyapa Dunia: Arsitektur dan Ragam Seni Asia Pasifik di Museum Pasifika Nusa Dua

Museum Pasifika di Nusa Dua menghadirkan perjumpaan seni Asia-Pasifik dalam ruang yang berakar pada nilai lokal Bali. Melalui arsitektur, koleksi lintas bangsa, serta karya-karya yang merekam spirit Pulau Dewata, museum ini menempatkan Bali sebagai titik temu budaya dunia.

May 25, 2026 - 05:31
May 24, 2026 - 23:34
Ketika Bali Menyapa Dunia: Arsitektur dan Ragam Seni Asia Pasifik di Museum Pasifika Nusa Dua
Museum Pasifika di kawasan Nusa Dua, Bali (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Museum Pasifika berdiri di dalam kawasan pariwisata ITDC Nusa Dua Bali bagian Selatan, sebuah lokasi strategis yang sejak lama menjadi ruang pertemuan wisatawan dari berbagai negara. Di tengah citra Nusa Dua sebagai kawasan modern dan internasional, Museum Pasifika hadir sebagai ruang budaya yang menawarkan pengalaman berbeda yaitu menyelami seni rupa Asia-Pasifik melalui perspektif Bali. Museum ini didirikan pada tahun 2006, digagas oleh Mochtar Riady bersama Philippe Augier, dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono.

 

Bangunan Museum Pasifika dirancang oleh arsitek Bali Popo Danes, yang dikenal dengan pendekatannya dalam mengolaborasikan desain modern dan kearifan lokal. Sejak pandangan pertama, museum ini tidak tampil megah secara berlebihan, melainkan menghadirkan kesan tenang dan berwibawa. Material batu paras, warna-warna alami, serta komposisi bangunan yang terbuka mencerminkan prinsip arsitektur Bali yang menekankan keseimbangan antara ruang, cahaya, dan lingkungan.

 

Detail arsitektur Museum Pasifika yang menampilkan sentuhan estetika lokal Bali (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Arsitektur Museum Pasifika bukan sekadar pelindung koleksi, melainkan bagian dari narasi budaya yang ingin disampaikan. Bukaan ruang yang luas memungkinkan cahaya alami masuk dengan lembut, menciptakan suasana yang mendukung kontemplasi. Ruang-ruang galeri dirancang agar karya seni tidak “menekan” pengunjung, melainkan berdialog secara perlahan, sejalan dengan cara Bali memaknai ruang sebagai tempat bernafas dan berelasi.

Museum ini memiliki lebih dari 600 karya seni dari sekitar 200 seniman yang berasal dari 25 negara Asia-Pasifik, yang dipamerkan dalam 11 ruang pamer utama yang tersebar di delapan paviliun. Setiap paviliun memiliki karakter pencahayaan dan tata ruang yang berbeda, sehingga pengalaman berkunjung terasa mengalir dan tidak monoton.

 


Suasana salah satu ruang galeri Museum Pasifika yang menampilkan koleksi seni (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

 

Koleksi Museum Pasifika mencerminkan keberagaman budaya kawasan Asia dan Pasifik. Karya-karya tersebut mencakup galeri Indonesia dan seniman Eropa yang berkarya di Nusantara, koleksi Asia Tenggara dari Laos, Vietnam, dan Kamboja, karya dari Polinesia dan kawasan Pasifik, hingga seni dari Jepang, Cina, dan negara Asia lainnya. Lukisan, patung, dan artefak yang dipamerkan tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga merekam kehidupan sosial, alam, spiritualitas, serta cara pandang budaya masing-masing wilayah.

 

Di tengah keragaman koleksi internasional tersebut, nilai lokal Bali tetap terasa kuat dan konsisten. Museum Pasifika secara sadar menempatkan karya seniman Bali dan karya yang terinspirasi oleh Bali sebagai bagian penting dari narasi pameran. Bali tidak hadir sebagai latar semata, tetapi sebagai subjek yang aktif dalam dialog seni Asia-Pasifik.

 

Salah satu karya yang merepresentasikan nilai lokal Bali adalah “The Legend of Men Brayut” karya Hadi Asmoro. Karya berbahan kayu mahoni ini mengangkat cerita rakyat Bali tentang sosok Men Brayut, figur ibu yang melambangkan keteguhan, pengorbanan, dan kasih sayang. Melalui visual figuratif yang kuat, karya ini menyampaikan nilai keluarga dan spiritualitas yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali.

 


Karya “The Legend of Men Brayut” oleh Hadi Asmoro (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Narasi Bali juga hadir secara monumental melalui lukisan Ramayana karya I Gusti Kobot, seniman Bali dengan gaya lukis klasik yang khas. Lukisan berskala besar ini menggambarkan kisah Ramayana dalam satu kanvas naratif yang kaya detail dan dinamika visual. Karya ini dikenal sebagai lukisan Ramayana terbesar di atas kanvas, dan menunjukkan bagaimana tradisi sastra dan mitologi Bali diterjemahkan ke dalam ekspresi seni rupa yang megah.

 


Lukisan Ramayana karya I Gusti Kobot (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Selain karya seniman Bali, Museum Pasifika juga menampilkan berbagai karya seniman asing yang terinspirasi oleh Bali. Melalui sudut pandang berbeda, seniman luar merekam lanskap alam, kehidupan masyarakat, serta atmosfer spiritual Pulau Dewata. Karya-karya ini memperlihatkan bagaimana Bali dipandang, dimaknai, dan diinterpretasikan dalam bahasa visual global, sekaligus menegaskan posisi Bali sebagai sumber inspirasi lintas budaya.

 


Karya “Ni Tjawan” oleh seniman Belanda W. Gerard Hofker (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Museum Pasifika ini sendiri dibuka setiap hari pukul 10.00-18.00 WITA, dengan harga tiket Rp100.000 untuk wisatawan asing, Rp70.000 untuk wisatawan lokal, dan Rp30.000 untuk universitas. Informasi lebih lanjut mengenai koleksi dan kunjungan dapat diakses melalui situs resmi museum.

 

Pada akhirnya, Museum Pasifika bukan sekadar galeri seni, melainkan ruang di mana Bali menyapa dunia melalui bahasa visual. Arsitektur yang berakar pada nilai lokal, koleksi seni Asia-Pasifik yang beragam, serta kehadiran karya seniman Bali dan karya terinspirasi Bali menempatkan pulau ini sebagai titik temu budaya yang hidup, tenang, dan bermakna.