Meayunan di Pura Gunung Sari: Tradisi bagi Perempuan Menopause yang Telah Disucikan
Di Pura Gunung Sari, Gianyar, tersimpan sebuah tradisi langka bernama Meayunan. Ritual ini menjadi puncak dari rangkaian odalan pura, di mana para perempuan yang sudah tidak lagi menstruasi dan telah melalui upacara penyucian naik ke atas ayunan suci. Diputar tiga kali ke depan dan ke belakang oleh para Prajuru, tradisi ini konon hanya ditemukan di segelintir pura di Bali. Apa sebenarnya yang membuat ayunan ini begitu istimewa hingga dinanti setiap tahunnya?
Bicara soal pura di Desa Bedulu, Gianyar, mungkin banyak yang langsung teringat pada kemegahan Pura Samuan Tiga. Namun, hanya berjarak beberapa ratus meter dari sana, terselip sebuah Pura Kahyangan Tiga yang tak kalah memikat. Nama pura itu adalah Pura Gunung Sari. Berada di Banjar Wanayu, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, pura ini disungsung oleh masyarakat Banjar Wanayu dan Banjar Mas yang kini tergabung dalam satu kesatuan adat bernama Banjar Adat Wanayu Mas. Meski tak sepopuler tetangganya, Pura Gunung Sari justru menyimpan sebuah tradisi unik yang jarang ditemukan di tempat lain.
Di halaman tengah (jaba tengah) pura ini, berdiri sebuah ayunan yang menjadi pusat perhatian setiap kali odalan (upacara tahunan keagamaan Hindu untuk memperingati hari lahir atau hari jadi sebuah pura) digelar. Tradisi bermain ayunan inilah yang membuat Pura Gunung Sari memiliki ciri khas tersendiri di tengah gempuran modernisasi. Tradisi ini disebut sebagai Meayunan. Menurut penuturan Pemangku Pura Gunung Sari, I Gusti Ngurah Made Bagus (atau oleh masyarakat setempat juga disebut Gusti Mangku Gunung Sari), sejarah pasti berdirinya pura ini tidak tercatat secara tertulis. Namun, berdasarkan cerita turun-temurun, pura ini diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-11.
Halaman Tengah Pura Gunung Sari (Sumber: Koleksi Pribadi)
Pada masa lampau, di kompleks pura pernah berdiri sebuah Bale Agung megah yang ditopang oleh 108 saka (tiang penyangga). Sayangnya, bangunan tersebut kini sudah hilang karena sebab yang tidak diketahui, dan hingga saat ini belum pernah dibangun kembali. Meski begitu, satu peninggalan yang masih tersisa dan menjadi ikon adalah ayunan yang terbuat dari kayu majegau, kayu berkualitas tinggi yang kerap digunakan untuk bahan bangunan suci di Bali. Ayunan ini terletak di jaba tengah (halaman tengah) pura. Meskipun tiang penyangganya pernah direnovasi dari kayu menjadi beton, nilai sakralnya tetap dipertahankan. Ayunan ini pun dihiasi dengan wastra (kain suci) seperti halnya bangunan suci pada umumnya, menegaskan bahwa ia bukan sekadar mainan, melainkan sarana ritual.
Perayaan odalan di Pura Gunung Sari berlangsung selama empat hari penuh dan dilaksanakan setahun sekali, tepat pada saat Purnama Sasih Kapat (bulan keempat dalam penanggalan Bali). Pada hari pertama, rombongan Ida Bhatara (manifestasi dewa) dari Pura Samuan Tiga Bedulu dan Pura Dalem Wanayu lunga (datang) ke Pura Gunung Sari dan melinggih (menetap) di sana. Pada hari itu, dipersembahkan serangkaian banten (sesajen) seperti Peras Ajuman, Sayut Pengambian, Japitan, Pesucian, Tebasan Perascita Durmanggala, dan banten lainnya. Semua sesajen ini dipuput atau dihaturkan oleh Ida Pedanda (sulinggih atau pendeta tinggi). Usai upacara, warga dari Banjar Wanayu dan Mas melaksanakan persembahyangan bersama.
Dua hari berikutnya diisi dengan prosesi Penganyaran, yaitu mempersembahkan Banten Penganyaran yang dipimpin oleh pemangku pura. Masyarakat Wanayu Mas turut menghaturkan Banten Penyacah Ajuman dan Banten Gebogan, serta melanjutkan persembahyangan. Pada malam hari, mulai dari hari pertama hingga ketiga, suasana pura menjadi lebih semarak. Berbagai pertunjukan seni digelar seperti tarian hiburan, wayang kulit, drama gong, arja, dan lainnya. Ini menjadi momen bagi warga untuk bergembira sekaligus menjaga tradisi kesenian Bali.
Memasuki hari keempat, tibalah puncak dari seluruh rangkaian odalan. Pada hari ini, Ida Bhatara dari Pura Samuan Tiga dan Pura Dalem Wanayu akan budal (pulang). Sebelum prosesi budal dimulai, Meayunan menjadi rangkaian ritual yang paling dinantikan. Sebelum Meayunan, terlebih dahulu digelar upacara Mapurwa Daksina lalu kemudian dilanjutkan dengan Tarian Nampyog yang ditarikan oleh sekelompok perempuan. Mereka bukanlah penari sembarangan. Mereka adalah para Sutri atau Permas, yakni perempuan yang sudah tidak lagi mengalami menstruasi dan telah melalui upacara Kalahyang. Upacara penyucian bagi Sutri Desa Adat Wanayu Mas ini biasanya dilangsungkan di Pura Samuan Tiga.
Setelah tarian usai, tibalah saat Meayunan. Para Sutri bergantian menaiki ayunan yang bentuknya unik, menyerupai kincir ria kecil. Ayunan ini memiliki empat tempat duduk dan berputar 360 derajat secara vertikal, mengayunkan para penumpangnya ke atas dan ke bawah dalam gerakan melingkar. Karena hanya ada empat kursi, dalam satu waktu hanya empat orang Sutri yang bisa naik. Namun, semua Sutri yang hadir akan mendapat giliran secara bergantian hingga semuanya merasakan pengalaman sakral ini.
Ayunan ini kemudian diputar oleh Prajuru atau Parekan yang semuanya adalah laki-laki. Prajuru atau Parekan ini juga adalah orang suci yang telah melalui prosesi upacara layaknya para Sutri. Ayunan diputar sebanyak tiga kali ke depan dan tiga kali ke belakang. Menariknya, anak-anak perempuan yang belum menstruasi pun diperbolehkan ikut Meayunan. Biasanya mereka akan menarikan Tari Rejang Dewa terlebih dahulu sebelum menaiki ayunan. Namun, dalam praktiknya, para Sutri menopause lah yang paling sering terlihat menjalani ritual ini.
Para Sutri yang akan Meayunan mengenakan pakaian serba putih di bagian atas dan hitam di bagian bawah. Kadang-kadang, mereka juga akan membawa beragam perlengkapan yang berbeda-beda, seperti Penastan (tirta), Canang Oyodan, serta 2 Tetabuh (alat untuk menumpahkan suatu cairan), yakni Tetabuh Tuak dan Tetabuh Arak (2 jenis minuman beralkohol yang biasa digunakan saat upacara di Pura). Hal ini menambah kesakralan momen tersebut.
Lantas, apa sebenarnya tujuan dari tradisi Meayunan ini? Menurut pengakuan masyarakat setempat, tidak ada yang mengetahui secara pasti makna filosofis di baliknya. Namun, setidaknya ada dua tafsir yang berkembang di dalam masyarakat. Pertama, mereka meyakini bahwa Meayunan adalah semacam hiburan untuk Ida Bhatara sebelum beliau berpamitan pulang ke tempat asalnya. Kedua, tradisi ini juga dianggap sebagai wujud kebahagiaan bagi para Sutri itu sendiri. Setelah melalui prosesi sakral yang panjang dan menari, mereka diberi kesempatan untuk “bermain” ayunan yang mana merupakan sebuah momen bahagia yang mungkin sudah jarang mereka rasakan. Perlu digarisbawahi, kedua penjelasan ini hanyalah tafsir dan kepercayaan lisan masyarakat, bukan catatan sejarah yang tertulis. Namun, justru inilah yang menjadikan tradisi ini begitu kaya akan misteri dan nilai kearifan lokal.
Dokumentasi dengan Narasumber, Gusti Mangku Gunung Sari (Sumber: Koleksi Pribadi)
Meayunan di Pura Gunung Sari bukan sekadar atraksi wisata atau permainan biasa. Tradisi tersebut adalah cerminan bagaimana budaya Bali mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat, termasuk para perempuan yang telah memasuki usia senja. Melalui ritual ini, mereka tidak hanya diakui secara spiritual melalui upacara Kalahyang, tetapi juga diberi ruang untuk bergembira dan merasakan kebahagiaan di hadapan Ida Bhatara. Pura Gunung Sari mungkin tak sepopuler Pura Samuan Tiga di sebelahnya. Namun melalui ayunan suci dan para Sutri yang menaikinya, pura ini memiliki cerita sendiri yang layak untuk terus dikenang dan dikisahkan.