Sabo Tegen: Jejak Sakral Persembahan kepada Siwa dan Parwati di Kedisan Kintamani

Sabo Tegen merupakan tradisi sakral masyarakat Kedisan, Kintamani yang memiliki nilai keagamaan dan budaya. Tradisi ini menjadi bagian dari warisan leluhur yang mencerminkan hubungan masyarakat dengan Tuhan, sesama, dan alam, serta pentingnya menjaga keberlangsungan budaya lokal Bali.

Oct 11, 2026 - 05:07
Oct 11, 2026 - 00:44
Sabo Tegen: Jejak Sakral Persembahan kepada Siwa dan Parwati di Kedisan Kintamani

Sabo Tegen, yang dalam sejumlah sumber lokal juga dikenal sebagai Ngusaba Tegen atau Ngusaba Tatag, merupakan salah satu tradisi keagamaan masyarakat Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Tradisi ini dilaksanakan secara rutin dan berpusat di kawasan Pura Dalem Agung dan Pura Dalem Prajapati. Salah satu ciri khasnya terlihat dari cara masyarakat membawa banten. Kaum laki-laki membawa persembahan dengan cara ditegen, yaitu dipikul menggunakan bambu di bahu, sedangkan kaum perempuan membawa persembahan dengan cara disunggi di atas kepala. Cara tersebut bukan sekadar bentuk membawa persembahan, tetapi telah menjadi bagian dari identitas pelaksanaan Sabo Tegen di Desa Kedisan.

Keunikan Sabo Tegen juga terlihat dari aturan dalam mempersiapkan sarana persembahan. Dalam pelaksanaannya, terdapat ketentuan bahwa jajan dan ikan yang digunakan sebagai bagian dari banten tidak boleh digoreng. Bahan-bahan tersebut diolah dengan cara dikukus, direbus, dibakar, dipanggang, atau ditimbung. Aturan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat memiliki tata cara khusus dalam mempersiapkan sarana upacara dan tidak dilakukan berdasarkan kebiasaan sehari-hari. Cara pengolahan tersebut menjadi bagian dari aturan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan harus diperhatikan dalam pelaksanaan upacara.

Harmoni Sabo Tegen Desa Kedisan

Banten dalam Sabo Tegen juga memiliki bentuk dan makna simbolis tertentu. Beberapa sarana yang digunakan antara lain bantal, ketipat, jaje uli atau tatongkok, pisang, buah-buahan, dan lauk tertentu. Bantal dipahami sebagai simbol purusa, sedangkan ketipat dikaitkan dengan pradhana. Jaje uli atau tatongkok juga memiliki makna tersendiri dalam kelengkapan persembahan. Keberadaan berbagai sarana tersebut menunjukkan bahwa banten tidak hanya berupa makanan atau hasil alam yang dibawa ke pura, tetapi memiliki makna simbolik dan nilai keagamaan yang berkaitan dengan keyakinan masyarakat dalam menjalankan ritual.

Hubungan Sabo Tegen dengan pemujaan kepada Siwa dan kekuatan sakral di kawasan Dalem menjadi salah satu bagian penting dalam memahami tradisi ini. Dalam sumber yang membahas tradisi Kedisan, pelaksanaan upacara berkaitan dengan penghormatan kepada Dewa Siwa serta Bhatari Durga di kawasan Pura Dalem Siwa dan Pura Dalem Prajapati. Tirta yang berasal dari kawasan Dalem Siwa juga digunakan dalam rangkaian ritual dan dikaitkan dengan proses penyucian leluhur. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan dengan Siwa dalam Sabo Tegen tidak hanya terlihat dari nama atau simbol, tetapi berkaitan dengan tempat suci, penggunaan tirta, penghormatan kepada leluhur, dan pelaksanaan ritual yang dilakukan masyarakat.

Selain hubungan dengan tempat suci dan pemujaan, Sabo Tegen memiliki aturan ritual yang telah tersusun secara khusus. Salah satunya adalah konsep sarwa atau serba dua puluh yang terdapat dalam banten tegenan. Beberapa bahan persembahan disusun berdasarkan jumlah dan ketentuan tertentu serta menggunakan hasil yang tersedia dalam kehidupan masyarakat, seperti hasil pertanian, buah-buahan, sayuran, dan sumber pangan lainnya. Ketentuan tersebut memperlihatkan bahwa pembuatan banten dalam Sabo Tegen merupakan bagian dari pengetahuan budaya masyarakat Kedisan yang memiliki aturan tersendiri dan membedakannya dari bentuk persembahan lainnya.

Momen Warga Berjalan Beriringan Membawa Banten Tegenan

Keunikan lain dalam tradisi ini terdapat pada sistem Nyungkit, yaitu adanya siklus tertentu dalam penggunaan sarana persembahan. Dalam pelaksanaannya, tiga kali upacara menggunakan daging itik atau bebek, sedangkan pada tahun keempat menggunakan daging banteng atau sapi. Adanya pergantian tersebut menunjukkan bahwa Sabo Tegen bukan sekadar upacara yang dilakukan setiap tahun tanpa pola, melainkan memiliki sistem dan aturan yang diwariskan. Siklus tersebut juga memperlihatkan bahwa pengetahuan mengenai pelaksanaan tradisi masih dijaga melalui pemahaman masyarakat terhadap aturan yang telah diteruskan dari generasi sebelumnya.

Sabo Tegen juga memiliki fungsi sosial yang terlihat melalui keterlibatan masyarakat dalam seluruh rangkaian upacara. Salah satu bagian yang menarik adalah cacah jiwa, yaitu pendataan masyarakat yang berkaitan dengan pelaksanaan tradisi. Masyarakat mengumpulkan uang kepeng sebagai bagian dari proses tersebut, kemudian uang kepeng ditanam di halaman pura sebagai penyampaian mengenai jumlah masyarakat Desa Kedisan. Cacah jiwa menunjukkan bahwa Sabo Tegen tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga melibatkan kebersamaan dan partisipasi masyarakat dalam menjalankan sebuah tradisi yang dimiliki bersama.

Hubungan Sabo Tegen dengan kehidupan masyarakat juga terlihat dari pemanfaatan hasil alam sebagai bagian dari persembahan. Beberapa bahan yang digunakan berasal dari lingkungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Kedisan, termasuk ikan dari kawasan Danau Batur serta hasil pertanian dan pangan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi berkembang dari kehidupan masyarakat dan tidak berdiri terpisah dari lingkungan tempat mereka hidup. Dengan demikian, Sabo Tegen memperlihatkan hubungan antara kehidupan keagamaan, lingkungan, adat, dan kehidupan sosial masyarakat, bukan hanya sebagai konsep, tetapi melalui sarana dan kegiatan yang benar-benar digunakan dalam pelaksanaannya.

Pada akhirnya, Sabo Tegen bukan hanya sebuah bentuk persembahan, tetapi merupakan tradisi yang menyimpan aturan, simbol, dan pengetahuan yang diwariskan oleh masyarakat Desa Kedisan. Cara membawa banten, aturan dalam mengolah bahan persembahan, makna simbolis banten, hubungan dengan Siwa dan kawasan Pura Dalem, sistem Nyungkit, hingga pelaksanaan cacah jiwa menunjukkan bahwa setiap bagian dari tradisi memiliki fungsi dan makna tersendiri. Sabo Tegen menjadi jejak sakral masyarakat Kedisan dalam mempertahankan warisan keagamaan dan budaya mereka. Keberlanjutan tradisi ini menjadi penting karena di dalamnya tidak hanya terdapat kegiatan ritual, tetapi juga pengetahuan dan identitas budaya yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.