Di Balik Pura Dalem Suniantara: Jejak Dang Hyang Nirartha dalam Kisah Banjir Bandang Desa Batan Nyuh

Pura Dalem Suniantara di Jalan Imam Bonjol, Denpasar, menyimpan kisah yang diwariskan masyarakat mengenai perjalanan Dang Hyang Nirartha dan peristiwa banjir bandang di Batan Nyuh. Dalam kisah tersebut, Dang Hyang Nirartha membantu masyarakat yang terdampak banjir dengan menancapkan tongkat atau teteken di muara banjir. Teteken tersebut kemudian dipercaya distanakan dan menjadi bagian dari jejak perjalanan beliau yang terus dikenang hingga kini.

Aug 30, 2026 - 06:24
Aug 30, 2026 - 09:42
Di Balik Pura Dalem Suniantara: Jejak Dang Hyang Nirartha dalam Kisah Banjir Bandang Desa Batan Nyuh
Pura Dalem Suniantara (Sumber: Koleksi Pribadi)

Air yang datang dari arah timur bukan sekadar menggenangi jalan. Dalam kisah yang diwariskan masyarakat Batan Nyuh, banjir bandang pernah menjadi ancaman yang memaksa penduduk mencari pertolongan. Di tengah keadaan itu, seorang pendeta yang tengah melakukan perjalanan berhenti di sebuah parahyangan di Batan Nyuh. Ia adalah Dang Hyang Nirartha, tokoh suci yang perjalanan spiritualnya meninggalkan jejak di berbagai tempat di Bali.

Kini, jejak kisah tersebut berada di tengah wajah kota yang telah berubah. Pura Dalem Suniantara berdiri di Jalan Imam Bonjol, tepat di depan Kantor Pemadam Kebakaran. Di tengah lalu lintas dan perkembangan kawasan perkotaan, pura ini menyimpan cerita tentang sebuah peristiwa yang menghubungkan perjalanan seorang tokoh suci dengan pengalaman masyarakat menghadapi bencana alam. Di tempat inilah, ingatan tentang kedatangan Dang Hyang Nirartha terus dipelihara.

Pekarangan Utama Pura Dalem Suniantara (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dalam kisah yang berkembang mengenai keberadaan pura, perjalanan Dang Hyang Nirartha menuju wilayah Badung terhenti ketika banjir besar menghadang. Setibanya di Desa Buagan, beliau berhenti di sebuah parahyangan Pura Batan Nyuh karena aliran air yang besar tidak memungkinkan perjalanan dilanjutkan. Dari sebelah timur jalan, masyarakat datang melalui sebuah jembatan gantung. Mereka menghadap sang pendeta, memohon pertolongan karena rumah-rumah mereka telah dilanda banjir.

Melihat keadaan tersebut, Dang Hyang Nirartha disebut menunjukkan belas kasih kepada masyarakat yang tertimpa bencana. Beliau memberikan sepotong kayu berupa tongkat yang telah dirajah, kemudian kayu tersebut dipancangkan di muara banjir. Dalam kisah tersebut, setelah tongkat ditancapkan, air yang sebelumnya menggelombang kemudian bergerak ke arah barat hingga jalan terputus.

Cerita tersebut tidak berhenti pada peristiwa air yang surut. Tongkat atau teteken yang dikaitkan dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha kemudian dipercaya distanakan di suatu tempat. Dari sanalah hubungan antara kisah perjalanan tersebut dan keberadaan Pura Dalem Suniantara memperoleh tempatnya dalam ingatan masyarakat.

Jejak itu bahkan tidak hanya hadir dalam bentuk cerita. Masyarakat setempat menyebut adanya teteken Dang Hyang Nirartha yang kemudian tumbuh menjadi pohon kayu tiga ron dan masih hidup hingga kini. Selain itu, terdapat pula sejumlah arca dan peninggalan lainnya. Keberadaan benda-benda tersebut menjadikan pura bukan semata ruang untuk melaksanakan persembahyangan, melainkan juga ruang tempat ingatan mengenai perjalanan masa lampau dipertahankan.

Dang Hyang Nirartha sendiri dikenal dengan sejumlah sebutan, di antaranya Pedanda Shakti Wawu Rauh dan Danghyang Dwijendra. Ia merupakan tokoh suci Hindu yang kedatangannya ke Bali dikaitkan dengan masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Dalam informasi yang diwariskan, beliau tiba dari Blambangan sekitar Saka 1411 atau 1489 Masehi. Perjalanan tokoh ini kemudian menjadi bagian penting dari kisah-kisah keagamaan dan kebudayaan yang tersebar di berbagai wilayah Bali.

Dalam konteks Pura Dalem Suniantara, perjalanan tersebut tidak hanya dipahami sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Sebuah perjalanan menjadi berarti karena meninggalkan hubungan dengan tempat dan masyarakat yang dilaluinya. Kisah banjir bandang di Batan Nyuh memperlihatkan bagaimana sebuah peristiwa yang dialami masyarakat kemudian melekat pada ruang suci. Tempat yang pernah menjadi bagian dari sebuah kisah tidak dibiarkan menjadi sekadar kenangan, tetapi dirawat melalui keberadaan pura dan pelaksanaan upacara.

Hubungan antara pura dan masyarakat juga memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi tidak berdiri di tangan satu kelompok saja. Pura ini disungsung oleh warga Kota Denpasar, sementara warga Batan Nyuh memiliki peran dalam mengingatkan pelaksanaan aci-aci pada hari-hari besar keagamaan. Pembagian peran tersebut menunjukkan adanya hubungan sosial yang terus terpelihara antara tempat suci, masyarakat penyungsung, dan lingkungan yang memiliki keterikatan dengan sejarah pura.

Kehidupan pura kemudian berlangsung mengikuti ritme kalender keagamaan. Upacara wali dilaksanakan setiap enam bulan sekali, bertepatan dengan Redite atau Minggu Kliwon Watugunung. Di dalam pura, bangunan utama berupa Padma Tiga menjadi stana Sang Hyang Tri Purusa, yakni Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa.

Padma Tiga Pura Dalem Suniantara (Sumber: Koleksi Pribadi)

Keberadaan Padma Tiga sendiri memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar tiga pelinggih yang berdiri berdampingan. Dalam pemahaman Siwaisme Hindu Bali, Padma Tiga atau Padma Bhuwana merupakan pelinggih untuk memuja Tri Purusa, bukan Tri Murti sebagaimana kerap dipahami secara umum. Tri Purusa merujuk pada tiga aspek Tuhan dalam konsep Siwa, yaitu Parama Siwa, Sada Siwa, dan Siwatma. Parama Siwa dipahami sebagai hakikat Siwa yang tertinggi, tak terbayangkan dan melampaui segala batas pemikiran. Sada Siwa merupakan aspek Siwa ketika kemahakuasaan-Nya mulai dapat dipahami. Di sisi lain, Siwatma merupakan kehadiran Siwa dalam diri setiap makhluk sebagai atman. Karena itu, Padma Tiga menjadi gambaran filosofis tentang satu hakikat ketuhanan yang dipahami melalui tiga aspek, bukan tiga Tuhan yang berbeda.

Pemaknaan tersebut dikenal dalam tradisi keagamaan Hindu Bali dan dapat ditemukan pada sejumlah tempat suci, dengan konteks yang mengikuti keberadaan masing-masing pura. Salah satu yang paling dikenal terdapat di Pura Besakih. Di Pura Dalem Suniantara, keberadaan Padma Tiga sebagai bangunan utama menjadi bagian penting dari identitas dan tata keagamaannya. Ia tidak hanya menjadi unsur arsitektur yang menonjol, tetapi juga menghadirkan lapisan filosofis yang memperkaya keberadaan pura sebagai tempat suci, tempat sejarah, tradisi, dan pemahaman tentang ketuhanan bertemu dalam satu ruang.

Pada masa kini, ketika kawasan perkotaan terus berkembang dan ruang-ruang tradisional berhadapan dengan perubahan lingkungan di sekitarnya, keberadaan Pura Dalem Suniantara menghadirkan pertanyaan yang lebih luas, bagaimana sebuah masyarakat mempertahankan ingatan ketika tempat di sekelilingnya berubah? Jawabannya tampak dalam keberlangsungan pura itu sendiri. Jalan yang dahulu menjadi bagian dari lanskap perjalanan kini menjadi kawasan kota, tetapi tempat sucinya tetap berdiri dan tradisinya tetap dijalankan.

Karena itu, merawat Pura Dalem Suniantara bukan hanya berarti mempertahankan bangunan fisiknya. Yang juga dijaga adalah cerita tentang bagaimana tempat tersebut memperoleh makna, benda-benda yang dikaitkan dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha, serta tradisi yang membuat hubungan antara masa lalu dan masa kini tetap berlangsung. Dalam konteks ini, pelestarian budaya bukan sekadar menyimpan peninggalan, melainkan mempertahankan kemampuan sebuah masyarakat untuk mengingat.

Pada akhirnya, kisah tentang banjir bandang di Batan Nyuh mungkin tidak dapat dipisahkan dari cara masyarakat memandang sejarah, keagamaan, dan warisan leluhur. Di tengah kota yang terus bergerak, pura itu seakan mengingatkan bahwa tidak semua jejak harus berpindah mengikuti zaman. Sebagian justru bertahan dengan cara tetap dirawat, dihormati, dan diceritakan. Sebab selama masyarakat masih datang, menghaturkan bakti, menjalankan wali, dan menjaga kisah yang diwariskan, perjalanan Dang Hyang Nirartha di Batan Nyuh tidak akan pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia masih hidup dalam ingatan yang menemukan tempatnya di Pura Dalem Suniantara.

Tania Alyana instagram: @taniaalyana_