Sanggar Nrithya Graha Siwanataraja: Membangun Seni Tari Bali Lewat Konsep Rinarasila
Sanggar Nrithya Graha Siwanataraja adalah sanggar tari di Desa Sukawati yang mengembangkan seni tari Bali melalui konsep Rinarasila. Melalui pembelajaran terstruktur, kegiatan ngayah, serta partisipasi di berbagai festival, sanggar ini menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda dalam menjaga tradisi di era modern.
Latar Belakang
Sanggar Nrithya Graha Siwanataraja merupakan salah satu wadah pengembangan seni tari yang tumbuh dari lingkungan keluarga seniman di Desa Sukawati, Gianyar. Sanggar ini didirikan oleh Dr. Kadek Suartaya, S.S., K.R.I., M.Si., seorang dosen kerawitan di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, bersama keluarganya yang seluruhnya bergerak di bidang seni. Keempat anggota keluarga ini memiliki peran penting dalam mengelola sanggar, yaitu ayah sebagai dosen karawitan, ibu sebagai guru seni budaya, kakak sebagai dalang, dan anak bungsu, Ni Luh Made Laraswati, sebagai penggerak utama bidang tari.
Walau nama Sanggar Seni Nrithya Graha Siwanataraja baru digunakan secara resmi sejak tahun 2022, kegiatan pelatihan reguler telah dimulai sejak tahun 2018. Hingga kini, sanggar tersebut telah berjalan selama tujuh tahun dan memiliki lebih dari dua ratus murid aktif yang tersebar dalam kelas reguler maupun kelas privat. Nama sanggar ini memiliki makna yang dalam. Nrithya berarti seni tari dalam bahasa Sanskerta, Graha berarti rumah atau tempat, sedangkan Siwanataraja merupakan perwujudan Dewa Siwa sebagai raja seni. Makna tersebut mencerminkan harapan agar sanggar ini menjadi rumah bagi generasi muda untuk menumbuhkan bakat, disiplin, dan kecintaan terhadap seni tari Bali.
Kegiatan Latihan Rutin di Sanggar Nrithya Graha Siwanataraja (Sumber: Koleksi Pribadi)
Ciri Khas dan Inovasi
Ciri khas utama Sanggar Nrithya Graha Siwanataraja terletak pada konsep pertunjukan yang disebut Rinarasila, akronim dari tari narasi lagu. Bentuk pertunjukan ini merupakan penggabungan antara tari, narasi, dan lagu yang disusun secara kontekstual sesuai dengan lokasi pementasan. Misalnya, ketika tampil di Yogyakarta, sanggar ini menampilkan kisah Roro Jonggrang agar lebih dekat dengan budaya setempat. Inovasi ini membedakan Sanggar Nrithya Graha Siwanataraja dari banyak sanggar lainnya karena menghadirkan bentuk seni pertunjukan yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga komunikatif dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan penonton.
Konsep Rinarasila menunjukkan bagaimana seni tradisional Bali dapat terus hidup tanpa kehilangan jati dirinya. Setiap elemen dalam pertunjukan, mulai dari gerak tari, iringan gamelan, hingga narasi vokal, dirangkai dengan penuh makna. Selain Rinarasila, sanggar ini juga dikenal karena sistem pengajarannya yang terstruktur. Pembelajaran dibagi menjadi dua jenis, yaitu kelas reguler yang berlatih dua kali seminggu dan kelas privat dengan jadwal fleksibel. Dalam kelas reguler, proses belajar berlangsung selama satu tahun dengan tahapan penuangan gerak, pengendapan rasa, hingga penghalusan gerak. Setiap tahun, murid akan mengikuti ujian kenaikan tingkat yang diselenggarakan bersamaan dengan perayaan ulang tahun sanggar. Acara ini menjadi ajang evaluasi sekaligus wadah apresiasi bagi para penari.
Prestasi dan Penghargaan yang Diraih oleh Sanggar Nrithya Graha Siwanataraja (Sumber: Koleksi Pribadi)
Peran dan Kontribusi Sanggar
Sebagai salah satu sanggar tari yang cukup besar di wilayah Sukawati, Sanggar Nrithya Graha Siwanataraja berperan penting dalam menjaga kesinambungan seni tradisi di tengah tantangan modernisasi. Melalui kegiatan ngayah di banjar dan pura, para murid tidak hanya belajar teknik tari, tetapi juga memahami nilai-nilai spiritual, etika, dan kebersamaan dalam budaya Bali. Hal inilah yang menjadikan sanggar ini bukan hanya tempat belajar keterampilan seni, melainkan juga ruang pembentukan karakter dan rasa hormat terhadap warisan budaya.
Sanggar ini aktif berpartisipasi dalam berbagai ajang dan festival seni, baik di tingkat daerah maupun nasional. Di antara pencapaian terbaiknya adalah keberhasilan meraih Juara I Festival Panji Nasional yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu, sanggar juga kerap tampil dalam Pesta Kesenian Bali, Festival Panji di Malang, hingga acara berskala internasional seperti Konferensi G20 di Bali.
Kegiatan sanggar tidak hanya berfokus pada tari Bali klasik, tetapi juga membuka ruang untuk bidang seni lainnya seperti tabuh, pedalangan, dan vokal tradisional. Pembelajaran kidung dan kekawin menjadi bagian penting dalam memperkenalkan sastra dan nilai estetika bahasa Bali kepada generasi muda. Selain itu, sanggar juga menyediakan layanan sewa kostum dan rias tari yang dikelola secara mandiri.
Tempat Latihan di Sanggar Nrithya Graha Siwanataraja (Sumber: Koleksi Pribadi)
Tantangan
Selama tujuh tahun berdiri, Sanggar Nrithya Graha Siwanataraja menghadapi berbagai tantangan, terutama saat pandemi COVID-19. Aktivitas latihan sempat terhenti sepenuhnya, dan banyak jadwal pementasan dibatalkan. Namun, semangat berkesenian tidak padam. Para pengajar beradaptasi dengan membuat kelas daring, serta membagikan video latihan dan penampilan melalui media sosial. Dari situ, sanggar justru semakin dikenal dan berhasil menarik perhatian murid baru, termasuk dari luar Bali.
Ni Luh Made Laraswati, selaku pengajar muda dan generasi penerus keluarga seniman ini, menekankan pentingnya menjaga kualitas pembelajaran serta membangun identitas sanggar. Ia menyadari bahwa seni tari kini harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai tradisinya. Generasi muda Bali diharapkan tetap mencintai tarian klasik sembari membuka diri terhadap perkembangan seni modern. Baginya, belajar tari bukan hanya soal menguasai gerak, tetapi juga tentang memahami makna di balik setiap gerakan.
Dengan semangat keluarga seniman, inovasi Rinarasila, serta komitmen terhadap pendidikan seni, Sanggar Nrithya Graha Siwanataraja telah membuktikan bahwa tradisi tidak berhenti di masa lalu. Ia terus bergerak, menyesuaikan diri dengan zaman, dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi penerus untuk menjaga seni dan budaya Bali agar tetap hidup dan berdenyut di tengah masyarakat modern.