Sanggar Tari Kumara Jaya : Dari Semangat Lokal dan Sekaa Tradisi Hingga Kebanggaan di Geladag
Sanggar Kumara Jaya merupakan sanggar seni tari Bali yang tumbuh dari semangat lokal dan komitmen pelestarian budaya. Berawal dari ruang latihan sederhana di lingkungan masyarakat, sanggar ini berkembang menjadi wadah pembinaan generasi muda dalam memahami dan mempraktikkan tari tradisional Bali, mulai dari berbagai jenis Rejang, Pendet, baris, Wirayudha dan banyak lagi. Melalui proses latihan yang disiplin, inklusif, dan berakar pada nilai adat, Sanggar Kumara Jaya tidak hanya mencetak penari, tetapi juga menanamkan karakter, rasa kebersamaan, dan kebanggaan terhadap warisan budaya Bali.
Sanggar Kumara Jaya merupakan sanggar seni tari Bali yang terletak pada Jalan Pulau Bungin Gang VI No.1 Banjar Geladag, Pedungan, Kota Denpasar, Bali. Sanggar ini berakar kuat pada tradisi lokal dan tumbuh seiring perjalanan sejarah masyarakatnya. Cikal bakal sanggar ini bermula pada Januari 1981, ketika aktivitas kesenian di lingkungan setempat masih berbentuk sekaa tradisional, seperti sekaa demen, sekaa gong, dan kegiatan seni yang berpusat di pura. Pada masa itu, seni tari dan tabuh tidak dipisahkan dari kehidupan adat dan ritual, melainkan hadir sebagai bagian dari pengabdian (ngayah).
Di lingkungan pura, terdapat sesunan-sesunan sakral yang berkaitan dengan tarian klasik, seperti Legong Keraton dan Baris, yang menjadi fondasi penting dalam perjalanan seni di wilayah ini. Dari sinilah muncul kesadaran untuk melatih anak-anak secara berkelanjutan agar tradisi tidak terputus. Awalnya, latihan dilakukan secara sederhana dan bertahap, namun karena minat anak-anak semakin besar, terbentuklah kelompok seni yang lebih terstruktur hingga akhirnya berkembang menjadi Sanggar Kumara Jaya seperti yang dikenal saat ini.
Perjalanan Sejarah dan Perkembangan Sanggar
Sanggar Tari Kumara Jaya (Sumber : Koleksi Pribadi)
Sebelum resmi menjadi sanggar, aktivitas seni di wilayah ini sudah hidup sejak tahun 1970-an. Banyaknya anak-anak yang tertarik belajar menari mendorong pembentukan sistem pengajaran yang lebih rapi dan berkesinambungan. Tujuan awal pembelajaran sangat jelas, yaitu untuk ngayah di pura, kemudian berkembang ke pentas di luar konteks upacara, termasuk di sekolah dan acara umum.
Pada masanya, Sanggar Kumara Jaya dikenal luas melalui pementasan Sendratari Ramayana, yang pernah menjadi kebanggaan dan dianggap bergengsi. Pementasan ini tidak hanya dilakukan dalam konteks upacara, tetapi juga tampil di luar daerah, termasuk pada acara-acara di hotel dan kegiatan undangan lainnya. Pada periode tersebut, keterlibatan sanggar dalam pementasan Ramayana menjadi penanda kualitas dan eksistensi seni yang kuat di tingkat lokal.
Jenis Tarian yang Dipraktikkan
Pelatihan Rutin Tari Tradisional Wirayudha Sanggar Tari Kumara Jaya (Sumber : Koleksi Pribadi)
Hingga kini, Sanggar Kumara Jaya secara konsisten menekankan pembelajaran tari tradisi dan klasik Bali, dengan keyakinan bahwa tari klasik memiliki nilai keberlanjutan yang tidak lekang oleh zaman. Beberapa tarian utama yang dilatih secara rutin antara lain:
-
Legong Keraton, sebagai tari klasik utama yang menjadi identitas sanggar
-
Tari Baris, sebagai dasar tari putra yang melatih ketegasan, kekuatan, dan pakem gerak
-
Rejang Dewa, sebagai tari wali yang diajarkan dengan penekanan pada kesucian dan fungsi ritual
- Wirayudha, Condong, Kijang dan banyak lagi tari-tarian untuk kepentingan perlombaan dan ngayah.
Sanggar ini secara sadar tidak mengejar tren tari kreasi baru yang sifatnya sementara. Menurut pengelola sanggar, Dian Tristiana Dewi, tari kreasi memang terus bermunculan setiap tahun, namun eksistensinya sering tidak bertahan lama. Sebaliknya, tari klasik seperti Legong Keraton, Baris, dan Rejang diyakini akan selalu dibutuhkan, terutama dalam konteks upacara adat dan keagamaan di Bali.
Unsur Sakral dan Regenerasi Budaya
Jejeran Penari Perempuan Sanggar Tari Kumara Jaya (Sumber : Koleksi Pribadi)
Keunikan Sanggar Kumara Jaya terletak pada keterkaitannya yang kuat dengan unsur sakral dan spiritual. Beberapa penari tertentu, khususnya untuk Legong Keraton dan Baris, merupakan anak-anak yang melalui proses spiritual, seperti mewinten, mejaya-jaya, dan penyucian, sebelum ditetapkan sebagai penari. Anak-anak ini dipercaya telah “dipilih” secara niskala dan dapat mulai menari sejak usia sangat dini, bahkan sejak kelas 1 sekolah dasar.
Penari-penari tersebut menjalani peran hingga dewasa dan menikah. Setelah itu, mereka memiliki kewajiban untuk kembali ke pura sebagai bentuk pengembalian dan kesinambungan generasi. Pola ini telah berlangsung lintas generasi—dari generasi orang tua, bibik, hingga anak-anak saat ini—dan menjadi alasan utama mengapa Sanggar Kumara Jaya mampu bertahan secara konsisten hingga sekarang.
Pencapaian dan Prestasi
Cuplikan Potret-Potret Prestasi Dan Pencapaian Dari Sanggar Kumara Jaya (Sumber : Koleksi Pribadi)
Selain aktif dalam ngayah dan pementasan adat, Sanggar Kumara Jaya juga memiliki rekam jejak prestasi. Sanggar ini secara rutin mengikuti lomba-lomba yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, khususnya pada periode tahun 2000-an. Salah satu pencapaian penting adalah Juara I Tari Bayan Nginte pada tahun 2006, yang menjadi salah satu prestasi tertinggi sanggar.
Konsistensi sanggar dalam menjaga seni tradisi klasik juga pernah mendapatkan penghargaan dari Dinas Kebudayaan, sebagai bentuk apresiasi atas komitmen mereka dalam melestarikan seni tari Bali di tengah maraknya perkembangan sanggar dan pasar seni.
Sanggar sebagai Ruang Pendidikan dan Pengabdian
Pelatihan Tari Baris Oleh Pengelola Sanggar Dan Siswa PKL (Sumber : Koleksi Pribadi)
Saat ini, Sanggar Kumara Jaya masih aktif melatih anak-anak dan remaja, dengan jadwal latihan rutin setiap Sabtu dan Minggu, serta latihan tambahan jika terdapat pementasan, lomba, atau kegiatan ngayah. Sanggar ini juga menjadi tempat belajar bagi siswa SMK seni yang menjalani praktik lapangan, sehingga berfungsi sebagai ruang pendidikan informal yang berkelanjutan.
Lebih dari sekadar tempat latihan, Sanggar Kumara Jaya adalah ruang pewarisan nilai—tentang disiplin, tanggung jawab, dan pengabdian kepada budaya. Melalui seni tari, generasi muda diajarkan untuk memahami jati diri mereka sebagai bagian dari masyarakat Bali yang hidup berdampingan dengan adat, tradisi, dan spiritualitas.
Dengan sejarah panjang sejak 1981, konsistensi pada tari klasik, prestasi yang diakui, serta keterikatan kuat dengan unsur sakral dan adat, Sanggar Kumara Jaya bukan sekadar sanggar seni, melainkan penjaga kesinambungan budaya Bali. Di tengah perubahan zaman dan berkembangnya ratusan sanggar baru, Sanggar Kumara Jaya tetap berdiri teguh—menjaga pakem, merawat tradisi, dan menyiapkan generasi penerus yang berakar kuat pada budaya leluhur.