Tragedi Cinta Negeri Waciu: Drama Sampik Ingtai Guncang Panggung Jiwadwipa Citta Budaya dengan Kisah Menyayat Hati
Ulasan drama musikal Sampik Ingtai di Jiwadwipa Citta Budaya 2026. Kisah cinta tragis berbalut komedi segar, kritik sosial jenaka, dan tradisi Megenjekan oleh mahasiswa TI Unud.
DENPASAR – Panggung Aula Suastika seolah menyihir ratusan pasang mata yang hadir pada Kamis, 15 Januari 2026. Di bawah sorotan tata cahaya yang dramatis dan iringan musik penguat emosi, mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi angkatan 2025 sukses menghidupkan kembali legenda cinta klasik Tiongkok–Bali dalam pementasan drama musikal bertajuk “Sampik Ingtai: Tragedi Cinta Negeri Waciu”.
Sebagai puncak dari pertunjukan Jiwadwipa Citta Budaya, pementasan ini bukan sekadar tontonan hiburan. Tapi hadir sebagai sebuah orkestrasi emosi yang utuh, mengajak penonton tertawa lepas, tersenyum haru, hingga terdiam dalam kesedihan, sekaligus menjadi bukti bagaimana generasi muda mampu meramu kisah klasik dengan pendekatan seni pertunjukan modern.
Ingtai Bersama dengan Ayah dan Ibu-nya (Sumber: Dokumentasi Panitia Pelaksana)
Tirai dibuka dengan latar Negeri Waciu yang kental nuansa klasik. Penonton diperkenalkan pada sosok Ingtai, seorang gadis cerdas yang hidup di tengah tradisi patriarki, di mana pendidikan hanya diperuntukkan bagi laki-laki. Namun, Ingtai menolak tunduk pada keadaan.
Dengan restu berat dari orang tuanya, serta janji pertunangan yang kelak menjadi petaka. Ingtai nekat menyamar sebagai laki-laki demi menuntut ilmu di Kota Aciu. Dalam penyamarannya, takdir mempertemukannya dengan Sampik, pemuda lugu dari Desa Bociu.
Ingtai Menyiapkan "Garis Pembatas" pada Tempat Tidur Mereka (Sumber: Dokumentasi Panitia Pelaksana)
Relasi keduanya dibangun dengan chemistry yang kuat. Ingtai menyimpan rasa dalam diam, sementara Sampik dengan kepolosannya memandang Ingtai semata sebagai sahabat seperjuangan. Dinamika ini tergambar manis dalam adegan asrama, saat Ingtai menarik “garis batas” di tempat tidur sambil menetapkan aturan jenaka: siapa pun yang melanggar harus mentraktir ke pasar malam. Adegan ini menjadi simbol kepolosan cinta yang tumbuh tanpa disadari, sekaligus pemanis narasi sebelum tragedi datang menghantam.
Kondisi Pasar Malam Angciu (Sumber: Dokumentasi Panitia Pelaksana)
Babak Pasar Malam Angciu menjadi salah satu kekuatan dramatik utama pertunjukan. Deretan karakter pedagang eksentrik, mulai dari Gek Montox dengan rayuan mautnya, Pan Godel penjual tuak, hingga Men Pirit dengan babi guling “premium”-nya mampu menghidupkan panggung dengan komedi segar yang mengundang tawa lepas penonton.
Sorotan utama hadir melalui adegan breaking the fourth wall, ketika para aktor memanggil “Kepala Desa” dan “mantan Kepala Desa” ke atas panggung. Representasi kreatif dari Koprodi dan mantan Koprodi. Dialog santai antara “Rakyat” dan “Pemimpin Desa” ini menjadi ruang penyampaian aspirasi mahasiswa, kritik jenaka tentang pengelolaan “desa”, hingga ungkapan terima kasih atas dedikasi pimpinan prodi. Segmen ini tidak hanya mencairkan suasana, tetapi memperlihatkan kecerdasan dramaturgi dalam menjembatani hiburan dan realitas sosial kampus.
Megenjekan, Seni Vokal Tradisional Bali (Sumber: Dokumentasi Panitia Pelaksana)
Komitmen pelestarian budaya terlihat kuat saat seni vokal Megenjekan ditampilkan secara live. Seni tradisi khas Karangasem ini dihadirkan melalui paduan suara ritmis, gerak tubuh dinamis, serta seruan-seruan khas yang menggema memenuhi aula.
Integrasi Megenjekan ke dalam alur cerita bukan sekadar tempelan artistik, melainkan elemen dramatik yang memperkaya atmosfer dan mempertegas pesan bahwa kemajuan teknologi tidak harus menggerus akar budaya.
Perpisahan Sampik dan Ingtai (Sumber: Dokumentasi Panitia Pelaksana)
Memasuki babak konflik, nuansa panggung berubah drastis. Identitas Ingtai akhirnya terbongkar, dan perpisahan tak terelakkan. Dalam momen krusial, Ingtai menyampaikan isyarat penuh makna kepada Sampik:
“Tiga Tujuh, Enam Empat, Dua Delapan.”
Isyarat tersebut dimaksudkan sebagai kode waktu—sepuluh hari—namun disalahartikan Sampik yang polos sebagai hasil penjumlahan: tiga puluh hari. Kesalahan fatal inilah yang menjadi titik balik tragedi.
Adegan keterlambatan Sampik, disusul dialog perpisahan dan penyerahan tusuk konde sebagai simbol cinta yang kandas, menjadi puncak emosional pertunjukan. Kesunyian menyelimuti aula saat Sampik, dalam keputusasaan mendalam, memilih mengakhiri hidupnya menggunakan tusuk konde pemberian Ingtai merupakan sebuah simbol yang mengiris hati penonton.
Tari Kreasi Sebagai Simbol Cinta Ingtai dan Sampik (Sumber: Dokumentasi Panitia Pelaksana)
Meski sarat duka, kisah ini tidak berakhir dalam kegelapan. Adegan penutup menyuguhkan simbolisasi cinta abadi. Ingtai yang tengah berada dalam iring-iringan pengantin memilih melompat ke liang lahat Sampik yang terbuka akibat sambaran petir.
Transformasi keduanya menjadi sepasang kupu-kupu divisualisasikan melalui tari kontemporer yang luwes dan penuh ekspresi. Gerak tubuh para penari, dipadu tata cahaya lembut, menutup pementasan dengan pesan mendalam: cinta sejati akan selalu menemukan jalannya, bahkan melampaui batas kehidupan.
Pementasan “Sampik Ingtai” dalam rangka Jiwadwipa Citta Budaya 2026 bukan hanya sebuah drama musikal, melainkan pernyataan artistik mahasiswa Teknologi Informasi. Mereka berhasil merajut seni peran, manajemen pertunjukan, tradisi budaya, dan sensibilitas modern menjadi sebuah karya utuh yang membekas di ingatan penonton.
Di tengah arus modernisasi dan dominasi teknologi, kisah klasik ini kembali membuktikan relevansinya: bahwa tragedi, cinta, dan pilihan manusia tetap menjadi cermin bagi generasi mana pun.