Warisan yang Terus Bernapas: Kiprah Sanggar Seni Kuta Kumara Agung dalam Seni Wayang Ental Tiga Dimensi

Sanggar Seni Kuta Kumara Agung adalah wadah pelestarian budaya di Kuta yang berhasil merevitalisasi tradisi pewayangan melalui inovasi Wayang Ental Tiga Dimensi. Dengan memanfaatkan daun lontar sebagai medium utama dan mengadopsi teknik gerak Bunraku, sanggar ini mentransformasi sastra kuno menjadi karya seni pertunjukan kontemporer yang diakui secara internasional. Kiprahnya tidak hanya menjaga napas tradisi Bali pasca-tragedi Bom Bali, tetapi juga membuktikan bahwa inovasi berbasis material lokal mampu beradaptasi dan bersinar di panggung seni global.

Jan 14, 2026 - 05:52
Dec 30, 2025 - 12:31
Warisan yang Terus Bernapas: Kiprah Sanggar Seni Kuta Kumara Agung dalam Seni Wayang Ental Tiga Dimensi
Wayang Ental Tiga Dimensi (Sumber: Koleksi Sanggar)

Sanggar Seni Kuta Kumara Agung merupakan wadah kreatif bagi pelestarian budaya Bali yang berhasil mengawinkan kedalaman sastra kuno dengan inovasi rupa modern melalui penciptaan Wayang Ental Tiga Dimensi. Berawal dari semangat pemulihan pasca-tragedi Bom Bali pada tahun 2002, sanggar yang berbasis di Kuta ini telah bertransformasi dari sebuah komunitas wayang kulit tradisional menjadi pelopor seni teater boneka kontemporer yang diakui dunia. Dengan memanfaatkan daun lontar (ental) sebagai medium utama, mereka tidak hanya menciptakan objek estetis yang unik secara visual, tetapi juga menghidupkan kembali filosofi "sastra yang mewujud." Keberhasilan mereka menembus panggung internasional menjadi bukti bahwa tradisi lokal mampu berbicara dalam bahasa universal tanpa kehilangan jati dirinya.

 

Galeri Perjalanan Sanggar Seni Kuta Kumara Agung (Sumber: Koleksi Pribadi)

 

Kisah sanggar ini tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah Desa Adat Kuta yang didirikan oleh I Gusti Raka Bawa, atau yang akrab disapa Gung Aji Dalang. Pada masa awal berdirinya, sanggar ini hadir sebagai respons emosional dan spiritual untuk membangkitkan kembali gairah berkesenian masyarakat Kuta yang sedang terpuruk pasca tragedi Bom Bali tahun 2002. Melalui wadah awal bernama Sekaa Wayang Srinadi, Gung Aji Dalang mengumpulkan para seniman lokal untuk memastikan bahwa denyut nadi tradisi pewayangan tidak terhenti oleh trauma masa lalu. Seiring berjalannya waktu, Sanggar Seni Kuta Kumara Agung pun tumbuh menjadi payung kreativitas yang lebih formal, menjaga agar seni tradisional tetap menjadi akar identitas di tengah gempuran pariwisata masif.

 

Perubahan besar terjadi pada tahun 2016 ketika tongkat estafet kepemimpinan beralih kepada putra beliau, I Gusti Made Dharma Putra atau Gung Ade. Sebagai lulusan ISI Denpasar, Gung Ade membawa visi yang lebih segar dan eksperimental ke dalam tubuh sanggar. Ia menyadari bahwa pewayangan harus terus berevolusi agar tetap relevan dengan zaman tanpa harus meninggalkan nilai-nilai dasarnya. Gung Ade mulai melakukan riset mendalam terhadap material lokal yang memiliki kaitan erat dengan peradaban Bali, hingga akhirnya ia memilih daun lontar (ental) sebagai fokus inovasinya. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa lontar adalah hulu dari segala ilmu pengetahuan dan cerita wayang itu sendiri, sehingga menggunakannya sebagai bahan fisik wayang adalah bentuk penghormatan terhadap sumber sastra tersebut.

 

Wayang Ental Tiga Dimensi Milik Sanggar Seni Kuta Kumara Agung (Sumber: Koleksi Sanggar)

 

Evolusi teknis Wayang Ental bermula dari bentuk dua dimensi pada tahun 2016. Melalui kolaborasi dan pertukaran ide dengan berbagai seniman, termasuk interaksi kreatif dengan Papermoon Puppet Theatre dari Yogyakarta, Gung Ade mulai mengembangkan Wayang Ental Tiga Dimensi (3D) pada tahun 2018. Wayang Ental dua dimensi secara visual menyerupai wayang kulit konvensional namun dengan tekstur anyaman lontar yang memberikan kesan organik dan antik. Sementara itu, Wayang Ental tiga dimensi merupakan lompatan kreatif yang luar biasa karena menghadirkan volume dan kedalaman ruang. Dalam proses pembuatannya, Gung Ade menggunakan konstruksi geometri, di mana potongan-potongan daun ental disusun sedemikian rupa hingga membentuk anatomi boneka yang utuh. Hal ini memungkinkan wayang dilihat dari berbagai sudut pandang dan memberikan dimensi baru dalam estetika seni pertunjukan di Bali.

 

Sanggar Bersama Wayang Ental Tiga Dimensi Pada Festival Seni Bali Jani 2019 (Sumber: Koleksi Sanggar)

 

Secara lebih mendalam, aspek teknis Wayang Ental tiga dimensi ini mengandalkan sistem penyambungan yang sangat presisi agar boneka memiliki fleksibilitas gerak yang luwes namun tetap kokoh secara struktur. Setiap karakter boneka dirancang dengan mempertimbangkan artikulasi sendi, mulai dari engsel pada bagian bahu, siku, hingga pergelangan tangan, yang semuanya dikerjakan secara manual menggunakan material alami. Detail visualnya pun tidak main-main, anyaman daun lontar pada tubuh boneka dibentuk dengan pola yang mengikuti lekuk otot atau pakaian karakter tersebut, menciptakan efek gradasi warna alami yang semakin lama akan semakin eksotis seiring dengan proses penuaan daun lontar itu sendiri. Keunikan ini memberikan karakter visual yang kuat, di mana boneka terlihat seperti "patung yang bergerak" dengan tekstur berserat yang sangat khas, membedakannya dari boneka teater berbahan kayu atau silikon.

 

Untuk menghidupkan boneka-boneka tersebut, Sanggar Kuta Kumara Agung mengadopsi teknik Bunraku yang berasal dari Jepang. Berbeda dengan dalang tradisional yang berada di balik layar, para penggerak Wayang Ental Tiga Dimensi tampil langsung di depan penonton tanpa sekat. Satu figur boneka biasanya digerakkan secara kolektif oleh dua hingga tiga orang yang saling bersinergi untuk menciptakan gerakan yang halus, mulai dari langkah kaki hingga ekspresi jari yang detail. Transparansi panggung ini menciptakan kedekatan emosional yang sangat kuat antara penonton, boneka, dan para pemainnya, sehingga pesan cerita yang dibawakan terasa lebih hidup dan dramatis.

 

Studio Wayang Ental Sanggar Seni Kuta Kumara Agung (Sumber: Koleksi Pribadi)

 

Reputasi internasional sanggar ini pun mulai terbangun seiring dengan berbagai undangan pementasan di luar negeri. Pada tahun 2023, mereka sukses menyelesaikan pertunjukan selama dua minggu di Guangzhou, Cina, yang mendapatkan apresiasi luar biasa dari publik setempat. Selain itu, mereka juga pernah diundang oleh Lassalle College of the Arts di Singapura untuk memberikan workshop intensif mengenai teknik konstruksi ental dan cara memainkan boneka kepada mahasiswa internasional. Di dalam negeri, konsistensi mereka teruji melalui penampilan rutin di panggung-panggung besar seperti Festival Kebudayaan Yogyakarta, Galeri Indonesia Kaya, hingga menjadi bagian penting dalam penutupan Festival Bali Jani yang bergengsi.

 

Tim Ental Sanggar Seni Kuta Kumara Agung (Sumber: Koleksi Sanggar)

 

Meski telah meraih berbagai pencapaian, Gung Ade tetap memandang setiap karya sebagai sebuah proses belajar yang tidak pernah berakhir. Tantangan dalam mengelola sumber daya manusia dan menjaga kepercayaan dalam industri kreatif dihadapi dengan tetap fokus pada kualitas artistik yang jujur. Baginya, apresiasi publik dan materi hanyalah bonus dari ketekunan dalam berkarya. Menuju tahun 2026, sanggar ini memiliki rencana besar untuk membuka kelas edukasi Wayang Ental yang ditujukan bagi wisatawan dan masyarakat umum, dengan harapan dapat menularkan semangat inovasi ini kepada lebih banyak orang.

 

Sanggar Berkesempatan Tampil di China Quanzhou International Puppet Festival 2023 (Sumber: Koleksi Sanggar)

 

Cita-cita jangka panjang dari Sanggar Seni Kuta Kumara Agung adalah mendirikan sebuah sekolah seni atau pusat pembelajaran mandiri di Desa Adat Kuta. Gung Ade bermimpi menciptakan generasi baru praktisi seni yang memiliki keberanian untuk bereksperimen namun tetap memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap tradisi leluhur. Wayang Ental kini bukan lagi sekadar inovasi rupa, melainkan simbol bahwa budaya Bali adalah entitas yang hidup dan dinamis. Melalui tangan-tangan kreatif di sanggar ini, lembaran-lembaran daun lontar yang kering telah bertransformasi menjadi karya seni yang terus bernapas, bergerak, dan menginspirasi dunia.