Pura Tirta Tadah Uwuk Klungkung: Harmoni Alam Lembah dan Kesucian Air yang Tak Pernah Keruh

Pura Tirta Tadah Uwuk di Klungkung, Desa Nyalian, Banjarangkan, adalah pura tirta tersembunyi di dasar lembah yang banyak dikunjungi untuk melukat sebagai upaya penyucian diri dan mencari ketenangan batin. Keistimewaannya terletak pada mata air suci yang menyembur dari celah batu tebing purba, dipercaya tetap jernih dan tidak surut meski hujan deras maupun kemarau panjang. Sebelum melukat, pengunjung biasanya diarahkan mandi di kolam bawah, lalu menjalani prosesi melalui pancoran-pancoran suci dengan aturan adat yang ketat, termasuk satu pancoran khusus Tirta Pangentas yang tidak untuk umum. Dikelola Banjar Adat Uma Anyar secara gotong royong, tempat ini paling disarankan dikunjungi pagi hari atau pada hari suci tertentu untuk pengalaman spiritual yang lebih khusyuk dan autentik.

Feb 10, 2026 - 06:04
Feb 9, 2026 - 20:11
Pura Tirta Tadah Uwuk Klungkung: Harmoni Alam Lembah dan Kesucian Air yang Tak Pernah Keruh
Pura Tirta Tadah Uwuk (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pulau Bali selama ini dikenal sebagai ruang hidup yang menyatukan alam, manusia, dan spiritualitas dalam satu keselarasan. Di balik gemerlap destinasi wisata yang ramai dikunjungi, masih terdapat tempat-tempat suci yang keberadaannya dijaga dengan penuh kesederhanaan dan keheningan. Salah satu tempat tersebut berada di Kabupaten Klungkung, tepatnya di Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan. Di wilayah ini, tersembunyi sebuah pura tirta yang dikenal dengan nama Pura Tirta Tadah Uwuk, sebuah tempat yang dalam beberapa tahun terakhir semakin sering dikunjungi sebagai ruang penyucian diri dan pencarian ketenangan batin.

Pura Tirta Tadah Uwuk (Sumber: Koleksi Pribadi)

Keberadaan pura ini tidak langsung terlihat dari jalan utama. Lokasinya yang berada di dasar lembah menjadikannya seolah terpisah dari hiruk-pikuk dunia luar. Suasana sunyi dan alami telah dirasakan bahkan sejak perjalanan menuju lokasi dimulai. Akses jalan yang kini sudah cukup memadai di tahun 2026 tetap mengharuskan pengunjung untuk berhati-hati, karena setelah kendaraan diparkir, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menuruni banyak anak tangga yang curam namun tertata rapi.

Perjalanan menuruni tangga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai akses fisik, tetapi juga sering dimaknai sebagai proses awal penyadaran diri. Setiap langkah yang diambil diiringi oleh suara alam yang terdengar semakin jelas seiring mendekati dasar lembah. Gemericik aliran air perlahan mulai terdengar, menciptakan suasana tenang yang jarang ditemukan di tempat lain. Dalam kondisi seperti ini, pikiran secara alami mulai dilepaskan dari beban rutinitas dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

Nama Tadah Uwuk sendiri tidak dipilih tanpa makna. Secara filosofis, kata tadah dimaknai sebagai proses menerima, menampung, atau melebur, sementara uwuk diartikan sebagai kotoran, sisa, atau unsur negatif yang melekat pada diri manusia. Oleh karena itu, Pura Tirta Tadah Uwuk sejak lama dipercaya sebagai tempat untuk meleburkan berbagai bentuk kekotoran, baik yang tampak secara fisik maupun yang tidak kasatmata. Proses penyucian yang dilakukan di tempat ini diyakini mampu membersihkan unsur skala dan niskala yang memengaruhi keseimbangan hidup seseorang.

Kolam Mandi Pengunjung (Sumber: Koleksi Pribadi)

Keistimewaan utama pura ini terletak pada sumber mata air sucinya. Air tersebut tidak mengalir dari sungai biasa, melainkan menyembur langsung dari celah-celah batu tebing purba yang berada di sekitar area pura. Fenomena ini telah menjadi perhatian masyarakat setempat sejak ratusan tahun lalu. Menurut kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun, air tersebut tidak pernah menjadi keruh, bahkan ketika hujan deras mengguyur kawasan Klungkung. Selain itu, debit airnya juga tidak pernah surut meskipun musim kemarau berlangsung cukup panjang di tahun 2026 ini. Sebelum melakukan penglukatan, pengunjung biasanya akan diarahkan untuk mandi terlebih dahulu di kolam bagian bawah jika belum mandi dari rumah, sebagai bagian dari persiapan awal agar prosesi penyucian dapat dijalankan dengan lebih nyaman dan tertib.

Kejernihan air yang menyerupai kristal sering dikaitkan dengan kekuatan spiritual yang dikandungnya. Oleh sebab itu, air suci di Pura Tirta Tadah Uwuk dipercaya mampu membantu proses penyembuhan, khususnya untuk penyakit kulit yang sulit disembuhkan secara medis. Tidak sedikit pula pengunjung yang datang dengan niat memohon keturunan atau memohon keseimbangan hidup setelah mengalami masa-masa sulit. Semua permohonan tersebut dilakukan dengan penuh keyakinan dan ketulusan, tanpa ritual yang berlebihan.

Hingga saat ini, Pura Tirta Tadah Uwuk dikelola oleh Banjar Adat Uma Anyar, Desa Nyalian, yang terus menjaga kesucian, kebersihan, serta ketertiban area pura secara gotong royong. Sebelum hendak melakukan persembahyangan atau pembersihan diri, diharapkan untuk menghubungi Kepala Desa Uma Anyar terlebih dahulu.

Lima Pancoran Penglukatan di Area Atas (Sumber: Koleksi Pribadi)

Setibanya di area utama pura, pengunjung akan disambut oleh suasana yang terasa lebih sejuk dan hening. Di tempat inilah terdapat sepuluh pancoran air suci yang menjadi inti dari prosesi penglukatan. Sembilan pancoran digunakan untuk ritual pembersihan diri, sementara satu pancoran lainnya memiliki tingkat kesakralan yang lebih tinggi.

Sembilan pancoran utama tersebut terbagi ke dalam dua area, yaitu lima pancoran di kolam bagian atas dan lima pancoran di bagian bawah. Pembagian ini dipercaya melambangkan unsur Panca Dewata, yang dalam ajaran Hindu Bali merepresentasikan keseimbangan kekuatan alam semesta.

Empat Pancoran Penglukatan dan Satu Pancoran Tirta Pengentas di Area Bawah (Sumber: Koleksi Pribadi)

Setiap pancoran dilewati secara berurutan dalam prosesi melukat, sebagai simbol pelepasan unsur negatif dan penyucian diri secara menyeluruh. Salah satu pancoran di bawah, pancoran paling utara, diberi pagar sendiri karena dikhususkan sebagai Tirta Pangentas, yaitu air suci yang digunakan dalam upacara pengabenan atau ritual kematian. Karena kesakralannya, pancoran ini tidak diperbolehkan untuk digunakan oleh pengunjung umum. Larangan tersebut dijaga dengan ketat oleh krama Banjar Adat Uma Anyar sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai spiritual dan adat istiadat yang berlaku.

Waktu kunjungan yang paling disarankan adalah pagi hari, karena suasana masih sangat tenang dan belum ramai oleh pengunjung. Hari kerja juga sering dipilih agar proses penyucian dapat dilakukan dengan lebih khusyuk. Bagi umat Hindu, hari-hari suci seperti Banyu Pinaruh, Purnama, dan Tilem dipercaya memiliki energi spiritual yang lebih kuat, sehingga kunjungan pada waktu-waktu tersebut dianggap memberikan makna yang lebih mendalam.

Pura Tirta Tadah Uwuk (Sumber: Koleksi Pribadi)

Selama berada di area pura, etika dan aturan adat wajib dipatuhi. Pengunjung diharuskan mengenakan pakaian adat Bali berupa pakaian adat madya sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat suci. Sikap tenang dan sopan juga diharapkan dapat dijaga. Pura Tirta Tadah Uwuk di Klungkung dapat dipandang sebagai ruang spiritual yang menawarkan pengalaman utuh, mulai dari perjalanan alam hingga proses penyucian diri yang sarat makna. Keaslian alamnya, kesederhanaan pengelolaannya oleh Banjar Adat Uma Anyar, serta nilai spiritual yang dijaga dengan penuh ketulusan menjadikan tempat ini sebagai salah satu wajah Bali yang autentik. Pengalaman yang diperoleh di tempat ini tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga meninggalkan ketenangan batin yang sulit dilupakan.