Pura Baturening: Jejak Suci Kawitan Bendesa Aban dan Warisan Luhur Bali

Pura Baturening di Abiansemal, Badung, adalah pura bersejarah yang menyimpan jejak suci Kawitan Bendesa Aban. Pura ini menjadi simbol perjalanan leluhur dan pusat pemujaan yang diwariskan secara turun-temurun. Tiga mandala utamanya memancarkan makna spiritual dan nilai budaya yang tinggi. Setiap Purnama Kapat, masyarakat berkumpul untuk menghaturkan bhakti dan melestarikan tradisi leluhur. Kini, Pura Baturening tetap berdiri sebagai warisan luhur dan identitas spiritual Bali.

Nov 26, 2025 - 06:34
Nov 26, 2025 - 10:52
Pura Baturening: Jejak Suci Kawitan Bendesa Aban dan Warisan Luhur Bali
Pura Baturening (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Pura Baturening adalah salah satu pura bersejarah yang terletak di Banjar Baturening, Desa Adat Baturening, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Pura ini memiliki makna mendalam karena menyimpan jejak perjalanan leluhur, khususnya Kawitan Bendesa Aban, yang hingga kini tetap dijadikan pusat pemujaan dan simbol warisan luhur Bali.

 

Pintu Masuk Pura Baturening (Sumber Foto: Koleksi Pribadi) 

Asal-usul pura ini bersumber dari sebuah prasasti yang diteliti oleh Balai Arkeologi Denpasar pada tahun 2013. Prasasti tersebut mengisahkan perjalanan panjang silsilah leluhur, dimulai dari Ida Sang Prabu Sri Ratna Dewa di Sang Kola Negara dan putrinya Dewi Sangka. Perkawinan antara Dewi Sangka dan Bhatara Manganjali melahirkan Sang Kora, seorang tokoh cerdas yang menekuni ilmu agama dan persenjataan. Dalam perjalanannya, ia berguru kepada Bhatara Mahari, menerima petunjuk suci, hingga dianugerahi nama Pancalia sebagai lambang kesucian dan pengetahuan.

 

Keturunan berikutnya melahirkan tokoh penting bernama I Bendesa Aban, yang kemudian menikah dengan Dewi Sageni. Dari perkawinan tersebut lahirlah Dewi Rajasa, yang bersuami kepada Ida Bathara Siwa Padma Tigang. Silsilah ini kemudian berlanjut pada Ida I Batu Angsut, yang diyakini sebagai anugerah dari Ida Bathara Pasupati. Dalam perjalanannya menuju Bali, beliau menemukan Batu Lumbang di Gunung Abang sebagai stana suci dan titik penting dalam sejarah pemujaan leluhur.

 

Kisah berlanjut ketika Ida I Batu Angsut beralih ke kawasan Gunung Batur, hingga akhirnya beliau bergelar Jro Gede Batu Angsut. Perjalanan suci ini kemudian mendapat restu dari Dewi Danu, yang memberikan titah agar dibangun tempat pemujaan untuk menjaga keseimbangan alam. Perintah tersebut juga dikaitkan dengan arahan dari Ida Sang Prabhu Dimangupura dan sosok kesatria I Gusti Agung Ngurah Made Agung Bhima Sakti, sehingga terbentuklah tempat suci di Tegal Suci, yang kini dikenal sebagai Pura Baturening.

 

Wantilan Pura Baturening (Sumber Foto: Koleksi Pribadi) 

Memasuki areal pura, pengunjung akan memasuki Jaba Sisi atau halaman luar. Di bagian ini terdapat Candi Bentar sebagai pintu masuk utama, Wantilan yang digunakan untuk pertemuan dan persiapan upacara, serta Balai Kulkul tempat diletakkannya kulkul atau kentongan yang ditabuh sebagai penanda waktu upacara. Di sisi lain, terdapat Pelinggih Balang Tama yang berfungsi sebagai pelindung pura dan perantenan yang digunakan untuk menyiapkan banten serta sarana yadnya.

 

Bagian Jaba Tengah atau Madya Mandala (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Dari Jaba Sisi, kemudian masuk ke Jaba Tengah atau Madya Mandala. Pada bagian ini terdapat Balai Agung sebagai tempat musyawarah krama desa, Piasan yang digunakan untuk menyiapkan sarana upacara, serta Panggung Melanting yang dipersembahkan kepada Dewi Melanting sebagai simbol kemakmuran dan perdagangan. Di sini juga terdapat Gedong Melanting untuk menyimpan pratima atau benda suci, Pengaruman untuk dupa dan wewangian, serta Pelinggih Kawitan Bendesa Aban yang menjadi pusat penghormatan kepada leluhur. Selain itu, ada pula Panggungan Kawitan sebagai tempat sesajen saat upacara besar dan Balai Pawedan tempat pemangku memimpin jalannya persembahyangan.

 

Pelinggih Kawitan Bendesa Aban (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Bagian tersuci dari pura adalah Utama Mandala atau jeroan, yang terbagi menjadi dua area penting. Pada Utama Mandala pertama, terdapat Gedong Beraban sebagai tempat penyimpanan benda suci, Panggung Penataran untuk pemujaan dewa penuntun desa, serta Pengaruman, Balai Paselang, dan Balai Pawedan yang mendukung kegiatan upacara. Sementara itu, pada kawasan Pura Desa dan Puseh terdapat Gedong Pura Desa dan Gedong Pura Puseh sebagai pusat pemujaan dewa pelindung desa dan leluhur, Pengaruman Desa Puseh, serta Panggungan Desa Puseh dan Piasan Desa Puseh untuk sarana persembahan. Di area ini juga terdapat Balai Pesandekan Desa Puseh dan Balai Pesandekan Penataran yang menjadi tempat singgah umat dan pemangku, Balai Pawedan Punia sebagai tempat pawedanan, serta Balai Gong tempat menyimpan gamelan yang ditabuh saat piodalan.

 

Piodalan di Pura Baturening jatuh pada Purnama Kapat, sebuah momen sakral ketika masyarakat berkumpul untuk mempersembahkan bhakti. Upacara ini menjadi bentuk penghormatan pada leluhur, sekaligus menjaga kesinambungan tradisi yang diwariskan sejak masa kuno. Pelestarian pura dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat adat setempat. Upacara, perawatan bangunan, dan kegiatan spiritual dijalankan bersama-sama, sehingga pura ini tetap hidup sebagai pusat pemujaan dan warisan budaya.

 

Melalui Pura Baturening, kita dapat memahami bahwa warisan leluhur bukan hanya berupa bangunan fisik, melainkan nilai luhur yang mengajarkan kebersamaan, ketekunan, dan penghormatan kepada alam semesta. Hingga kini, Pura Baturening tetap berdiri sebagai jejak suci Kawitan Bendesa Aban dan simbol warisan agung Bali yang terus dijaga lintas generasi.

 

 

Daftar Pustaka

Babad Bendesa Aban. (Naskah Lontar Koleksi Desa Adat Baturening, Badung).