Keajaiban Pura Jati di Jembrana, Mata Air Suci yang Tak Pernah Kering

Pura Jati di Jembrana berdiri dari perjalanan suci Danghyang Dwijendra, ditandai dengan pohon jati bercabang tiga yang mengeluarkan air suci abadi, sehingga digolongkan sebagai Pura Dang Kahyangan dan hingga kini menjadi tujuan tirthayatra umat Hindu serta pengingat pentingnya menjaga kelestarian air sebagai sumber kehidupan.

Mar 24, 2026 - 05:44
Feb 9, 2026 - 20:51
Keajaiban Pura Jati di Jembrana, Mata Air Suci yang Tak Pernah Kering
Pura Jati Jembrana (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Pura Jati di Kabupaten Jembrana memiliki hubungan erat dengan Pura Perancak, Pura Gede Amertasari, dan Pura Dalem Melanting. Berdirinya pura ini berawal dari perjalanan suci (dharmayatra) Danghyang Dwijendra atau Danghyang Nirarta, seorang pendeta besar Hindu yang datang ke Bali sekitar tahun 1478 Masehi dari Blambangan.

Pura Jati Jembrana (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Beliau datang bersama istri dan tujuh putra-putrinya dengan menyeberangi Segara Rupek. Dalam kisahnya, beliau menaiki waluh yang sudah dikosongkan, sementara keluarganya menggunakan jukung yang bocor. Berkat kesucian beliau, perjalanan berlangsung lancar dan rombongan mendarat di Pantai Purancak, Jembrana. Saat itu masyarakat berada di bawah kekuasaan I Gusti Ngurah Rangsasa, ketika kehidupan masih diliputi kegelapan (awidya). Kehadiran beliau membawa perubahan melalui pembinaan agama dan adat.

Dari perjalanan tersebut lahirlah beberapa pura. Sri Patni Kaniten bersama dua putranya menetap di sebuah telaga dan menyebarkan benih padi. Tempat itu disebut Merta Sari dan dibangun Pura Gede Amertasari. Peristiwa lain terjadi ketika putri beliau, Diah Wiraga Sloga, mengalami moksa setelah ayahnya berhadapan dengan naga raksasa. Di lokasi itu kemudian dibangun Pura Dalem Melanting. Selanjutnya, dalam perjalanan di hutan, Danghyang Dwijendra menancapkan tongkat sucinya dan di lokasi inilah Pura Jati berdiri.