Sanggar Tari Bali Qui Art: Pusat Kreativitas dan Pelestarian Seni Tari Bali di Desa Ungasan

Sanggar Tari Bali Qui Art di Desa Ungasan merupakan pusat kreativitas sekaligus wadah pelestarian seni tradisional Bali. Didirikan oleh Bapak Made Ardana lebih dari satu dekade lalu, sanggar ini menaungi beragam kegiatan seni, mulai dari tari, gamelan, barong, hingga pertunjukan budaya lainnya. Meski tidak berorientasi pada kompetisi, sanggar ini konsisten mengisi berbagai acara adat maupun hiburan, serta menjadi ruang pertemuan bagi seniman dari berbagai daerah di Bali. Keberadaannya menjadi bukti nyata bahwa seni Bali tetap hidup dan relevan, meskipun tantangan zaman terus bergulir.

Apr 2, 2026 - 06:53
Apr 1, 2026 - 18:54
Sanggar Tari Bali Qui Art: Pusat Kreativitas dan Pelestarian Seni Tari Bali di Desa Ungasan
Pertunjukan Tari Kecak di Pantai (Sumber: Koleksi Pribadi)

Seni tari Bali merupakan warisan budaya yang tak hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga sebagai sarana spiritual, sosial, dan identitas masyarakat. Di tengah pesatnya arus globalisasi, keberadaan sanggar seni menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian budaya. Salah satunya adalah Sanggar Tari Bali Qui Art yang berlokasi di Desa Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Sanggar ini hadir sebagai ruang kreativitas sekaligus wadah pelestarian kesenian Bali, dari tari hingga gamelan dan barong.

Pertunjukan Tari Kolosal dengan Bendera Merah Putih (Sumber: Koleksi Pribadi)

Didirikan oleh Bapak Made Ardana sekitar satu dekade lalu, Sanggar Tari Bali Qui Art telah menjadi rumah bagi para seniman dan penari dari berbagai daerah di Bali, termasuk Gianyar, Batubulan, dan sekitarnya. Sejak berdiri sebelum masa pandemi Covid-19, sanggar ini awalnya melakukan kegiatan latihan di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK). Namun, pandemi memaksa seluruh aktivitas dihentikan sementara. Kini, meskipun sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun, kegiatan sanggar belum kembali rutin, melainkan hanya berlangsung beberapa kali saja sepanjang tahun 2025.

Sanggar ini tidak membatasi diri hanya pada seni tari. Sesuai namanya yang kental dengan nuansa kreativitas, aktivitasnya meliputi berbagai cabang seni tradisional Bali, mulai dari tabuh gamelan, pertunjukan barong, hingga penggarapan kesenian untuk acara adat maupun hiburan. Meski demikian, berbeda dengan beberapa sanggar lain, Qui Art tidak berorientasi pada kompetisi. Sanggar ini lebih banyak berperan sebagai pengisi acara pada berbagai event, baik itu pernikahan, pertunjukan hotel, maupun acara kebudayaan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Qui Art lebih menekankan nilai pengabdian budaya dan pelayanan seni kepada masyarakat daripada sekadar mengejar prestasi formal.

Aksi Tari Hanoman di Pantai (Sumber: Koleksi Pribadi)

Sanggar Tari Bali Qui Art kini beralamat di Jl. Raya Uluwatu Gg. Mantili No.1 A, Ungasan, Kec. Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali 80361. Tempat ini menjadi titik temu bagi para seniman dan penari yang ingin melestarikan seni, sekaligus berbagi pengalaman lintas generasi. Meski tidak menargetkan kejuaraan, kehadiran sanggar ini penting sebagai wadah nyata bagi masyarakat untuk menjaga dan menyalurkan bakat seni Bali.

Lebih dari itu, sanggar ini memiliki peran sosial yang signifikan. Para anggotanya tidak hanya mempelajari gerakan tari atau tabuhan gamelan, tetapi juga memahami filosofi di balik setiap pertunjukan. Misalnya, dalam Tari Kecak terkandung makna kebersamaan, dalam Barong terdapat pesan pertarungan abadi antara kebaikan dan keburukan, sementara dalam gamelan tersimpan ajaran harmoni dan keselarasan. Dengan begitu, Qui Art tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan nilai budaya dan spiritual kepada para generasi muda.

Penabuh Gamelan Bali di Panggung Terbuka (Sumber: Koleksi Pribadi)

Keberadaan sanggar ini menjawab kebutuhan mendesak untuk mempertahankan warisan seni Bali agar tidak terkikis oleh perkembangan zaman. Sosok pendiri sekaligus pemilik, Bapak Made Ardana, memainkan peran penting dalam menjaga semangat komunitas ini. Ia menjadi penggerak utama yang mengumpulkan seniman dari berbagai daerah. Perjalanan panjang sanggar yang dimulai sebelum Covid-19 hingga bertahan sampai hari ini memperlihatkan daya juang yang besar meskipun aktivitasnya sempat terhenti.

Lokasi strategis di Ungasan membuat sanggar ini mudah dijangkau oleh penari dari berbagai wilayah. Sementara itu, kegiatan sanggar dijalankan dengan cara sederhana, berupa latihan bersama, mengisi acara, dan menjaga semangat kebersamaan antar anggota meskipun tanpa rutinitas yang padat. Tantangan terbesar yang dihadapi sanggar adalah keterbatasan waktu dan dukungan, mengingat para anggotanya memiliki kesibukan masing-masing. Namun, semangat melestarikan budaya Bali menjadi alasan utama mereka tetap bertahan.

Dengan demikian, Sanggar Tari Bali Qui Art bukan sekadar tempat latihan, melainkan sebuah komunitas yang memelihara denyut nadi seni Bali di tingkat lokal. Meskipun tidak menorehkan prestasi berupa piala kejuaraan, sanggar ini telah berjasa besar dalam menjaga eksistensi seni tari dan pertunjukan tradisional Bali di tengah derasnya modernisasi.