Sanggar Cepaka Kuning: Tradisi Semar Pegulingan dalam Mini Album Mentik
Sanggar Cepaka Kuning merupakan ruang pembinaan karawitan yang tumbuh dari proses panjang dan konsisten, dengan Semar Pegulingan sebagai salah satu fokus pembelajarannya. Melalui mini album Mentik, sanggar ini merangkum perjalanan dan nilai yang mereka jaga: kesabaran, kualitas, dan kejujuran proses dalam empat karya yang menggambarkan siklus kehidupan. Album ini menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi dapat dilakukan secara sederhana, namun tetap relevan dan bermakna.
Cikal bakal Sanggar Cepaka Kuning bermula pada tahun 2014, ketika I Made Gunanta membeli seperangkat gamelan Semar Pegulingan untuk kebutuhan pribadi di rumah. Gamelan tersebut awalnya belum dimaksudkan sebagai sarana pendidikan, melainkan dimainkan secara informal dalam lingkup keluarga. Gagasan untuk menjadikannya ruang pembelajaran baru benar-benar terwujud pada tahun 2017, ketika Sanggar Cepaka Kuning resmi didirikan dan didaftarkan di Tabanan. Sejak saat itu, pengelolaan sanggar dilanjutkan oleh I Putu Andy Santika, S.Sn, yang mengarahkan sanggar sebagai ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis, tetapi juga pembentukan karakter bermusik.
Sejak awal berdirinya, fokus Sanggar Cepaka Kuning, yaitu Semar Pegulingan. Gamelan ini tidak diperlakukan sebagai peninggalan yang harus dibekukan, tetapi sebagai media hidup yang bisa terus diajarkan dan dikembangkan. Proses pembelajaran dimulai dari dasar, dilakukan secara bertahap, dan menekankan penguasaan teknik sekaligus rasa. Tidak ada jalan pintas, setiap pemain diajak memahami perannya dalam keseluruhan barungan.
Hingga kini, aktivitas Sanggar Cepaka Kuning berpusat pada pembinaan anak-anak dan remaja, terutama dari jenjang SD hingga SMP. Sistem belajarnya dibuat berjenjang, tetapi tanpa mekanisme kenaikan tingkat yang kaku. Sanggar ini sengaja menghindari sistem peringkat atau penilaian yang berpotensi menimbulkan persaingan tidak sehat. Setiap instrumen diperlakukan setara, karena dalam satu barungan gamelan, tidak ada bagian yang benar-benar bisa berdiri sendiri.
Pendekatan ini berperan besar dalam menjaga keberlangsungan sanggar. Anak-anak yang belajar sejak awal tidak hanya dilatih untuk bisa memainkan gending, tetapi juga untuk memahami tanggung jawab dan kerja sama. Seiring waktu, sebagian dari mereka tumbuh menjadi pemain yang lebih matang, bahkan mulai membantu mengajar adik-adik di bawahnya. Regenerasi terjadi secara alami, bukan dipaksakan. Dengan jumlah anggota sekitar 50 orang, sanggar ini memilih untuk tidak mengejar pertumbuhan besar-besaran, melainkan menjaga kualitas pembinaan dan kedalaman proses belajar.
Selain kegiatan latihan rutin, Sanggar Cepaka Kuning juga aktif tampil dalam berbagai kesempatan, mulai dari ngayah di pura, kolaborasi dengan sanggar lain, hingga pertunjukan dalam acara budaya dan pariwisata. Bagi sanggar ini, tampil di panggung bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari proses belajar. Lewat panggung, para anggota dilatih mentalnya, diuji rasa permainannya, dan diperkenalkan pada dinamika bermain bersama orang lain. Dengan cara inilah Sanggar Cepaka Kuning tetap bertahan, tidak dengan gegap gempita, tetapi dengan konsistensi, kesabaran, dan kepercayaan pada proses.
Konsistensi dalam membina, menjaga kualitas, dan memberi ruang tumbuh bagi anggotanya perlahan membawa Sanggar Cepaka Kuning pada tahap berikutnya: kebutuhan untuk meninggalkan jejak karya. Setelah bertahun-tahun lebih banyak berfokus pada proses belajar dan pembinaan, sanggar ini merasa perlu memiliki sebuah bentuk pencapaian yang bisa merekam perjalanan tersebut. Dari kebutuhan inilah lahir Mentik, sebuah mini album yang menjadi salah satu pencapaian terbaru Sanggar Cepaka Kuning, sekaligus penanda bahwa proses panjang yang dijalani tidak berhenti di ruang latihan, tetapi juga berwujud karya yang bisa didengar dan diwariskan.
Proses Rekaman Mini Album Mentik (Sumber: Koleksi Pribadi)
Mini album Mentik lahir dari proses yang cukup panjang dan tidak tergesa-gesa. Karya-karya di dalamnya awalnya dibuat tanpa target rekaman atau tujuan komersial. Beberapa tabuh bahkan sudah lama tersimpan dalam bentuk notasi digital, baru kemudian direalisasikan ketika ada dorongan untuk benar-benar mewujudkan karya menjadi bentuk yang utuh. Proses pengerjaan album ini memakan waktu sekitar enam bulan, dari penyusunan komposisi, latihan, hingga rekaman. Sejak awal, Mentik tidak dibuat untuk mengejar popularitas atau viralitas, melainkan sebagai dokumentasi karya Sanggar Cepaka Kuning, sebuah penanda bahwa mereka memiliki identitas musikal sendiri dalam barungan Semar Pegulingan.
Nama Mentik dan judul keempat lagunya: Putik, Mungkah, Jegjeg, dan Gumuk baru dirangkai setelah seluruh karya selesai. Dari situlah muncul benang merah yang mengikat album ini, yaitu gambaran siklus kehidupan. Putik melambangkan awal atau benih, sehingga dimainkan sepenuhnya oleh anak-anak sebagai simbol fase paling dini. Mungkah menggambarkan proses mulai terbuka dan berkembang, dengan inspirasi dari gending wayang sebagai pembuka pertunjukan. Jegjeg hadir dengan karakter yang lebih kuat dan bersemangat, terinspirasi dari nuansa berbarongan. Sementara itu, Gumuk menjadi penutup yang lebih pelan dan panjang, terinspirasi dari sekatian, menggambarkan fase akhir kehidupan yang tenang dan perlahan.
Melalui Mentik, Sanggar Cepaka Kuning ingin menunjukkan bahwa Semar Pegulingan tidak terbatas pada satu warna atau karakter saja. Dalam album kecil ini, Semar Pegulingan diolah menjadi medium yang fleksibel, bisa lembut, kuat, dinamis, hingga hening tanpa kehilangan ciri khasnya. Dengan hanya empat karya, Mentik terasa ringkas namun utuh, bukan sekadar kumpulan tabuh, melainkan satu rangkaian cerita yang saling terhubung. Bagi Sanggar Cepaka Kuning, Mentik juga menjadi pernyataan sikap: lebih baik menghadirkan sedikit karya, tetapi matang dan jujur, daripada banyak namun kosong. Setiap bunyi dipikirkan, setiap komposisi lahir dari proses panjang, bukan dari kejaran tren, sekaligus menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi bisa dilakukan melalui karya yang sederhana, berkarakter, dan berangkat dari proses yang sungguh-sungguh.
Ngayah Mebarung di Pura Dalem Desa Adat Cepaka (Sumber: Koleksi Pribadi)
Jika Sanggar Cepaka Kuning dipahami seperti sebuah cerita, maka pesan yang dibawanya cukup jelas: tradisi tidak bisa dijalani dengan tergesa-gesa. Ia menuntut waktu, tenaga, dan kesabaran, baik dari pengajar, para siswa, maupun orang tua yang mendampingi proses belajar. Di saat banyak hal dituntut serba cepat dan instan, sanggar ini justru memilih jalan yang pelan dan bertahap. Mereka membangun dari dasar, menerima setiap keterbatasan yang ada, dan tetap percaya bahwa proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan sesuatu yang bermakna. Melalui Sanggar Cepaka Kuning dan mini album Mentik, Semar Pegulingan tidak hanya dijaga keberadaannya, tetapi juga terus dihidupkan dan diperkenalkan kembali dengan cara yang relevan bagi masa sekarang.