Raja Udayana dan Ratu Mahendradatta Membawa Bedahulu ke Zaman Keemasan (989 M)

Raja Udayana, keturunan Sri Kesari Warmadewa, dikenal dalam prasasti sebagai Dharmodayana Warmadewa dan lahir sekitar tahun 963 Masehi. Ia menikah dengan Ratu Mahendradatta dari Kerajaan Medang, yang terkenal dengan kecantikannya dan dijuluki Gunapriya Dharmapatni. Keduanya memimpin Kerajaan Bedahulu sejak 989 M dan membawa Bali ke masa keemasan melalui pembaruan budaya, pemerintahan, serta penataan kehidupan religius oleh Mpu Kuturan dengan konsep Tri Kahyangan. Dari pernikahan mereka lahir tiga putra: Airlangga yang menjadi raja besar di Jawa Timur, serta Marakata Pangkaja dan Anak Wungsu yang meneruskan tahta di Bali. Setelah wafat, Mahendradatta dicandikan di Pura Bukit Dharma Kutri dalam wujud arca Durga Mahisasuramardini, sementara Udayana dicandikan di Banu Wka.

Mar 13, 2026 - 05:31
Jan 1, 2026 - 22:35
Raja Udayana dan Ratu Mahendradatta Membawa Bedahulu ke Zaman Keemasan  (989 M)
Ilustrasi AI Raja Udayana dan Ratu Mahendradatta duduk berdampingan di singgasana

Kerajaan Bedahulu atau Bedulu yang terletak di Pejeng, Gianyar, Bali, mencapai masa keemasannya pada akhir abad ke-10 Masehi. Hal ini terjadi ketika tampuk pemerintahan dipegang oleh pasangan Raja Udayana dan Ratu Mahendradatta. Mereka mulai memerintah sejak tahun 989 M dan membawa banyak perubahan bagi masyarakat Bali, baik dalam bidang pemerintahan, kebudayaan, maupun keagamaan. Kepemimpinan keduanya bukan hanya sekadar melanjutkan tradisi dinasti Warmadewa, melainkan juga menghadirkan sinergi baru antara kekuatan politik Bali dan Jawa Timur.

Ilustrasi AI Pasar tradisional abad ke-10 dengan pedagang dan rakyat beraktivitas harmonis (Sumber: Koleksi Pribadi)

Raja Udayana dikenal dalam prasasti dengan nama Dharmodayana Warmadewa. Ia merupakan keturunan Raja Sri Kesari Warmadewa dan diperkirakan lahir pada tahun 963 Masehi. Dalam Prasasti Calcutta disebutkan bahwa Udayana berasal dari kalangan keluarga raja yang memiliki kedudukan tinggi. Sosoknya dikenang sebagai raja yang arif dan bijaksana, sehingga mampu menata kehidupan masyarakat Bali pada masanya.

Ratu Mahendradatta adalah keturunan kerajaan Medang atau Mataram Kuno di Jawa Timur. Ia merupakan anak dari Makutawangsawardhana dan cucu dari Raja Mpu Sindok. Dalam prasasti-prasasti ia dijuluki Gunapriya Dharmapatni, sedangkan Prasasti Calcutta menyebutnya sebagai putri yang termasyhur kecantikannya. Kehadirannya di Bali tidak hanya memperkuat hubungan politik antara Bali dan Jawa, tetapi juga menghadirkan pengaruh budaya Jawa Timur yang besar bagi masyarakat Bali.

Dari perkawinan Udayana dan Mahendradatta lahirlah tiga orang anak, yaitu Airlangga, Marakata Pangkaja, dan Anak Wungsu. Airlangga kelak menjadi salah satu raja besar di Jawa Timur dan berpengaruh besar terhadap perkembangan kebudayaan masyarakat di sana. Marakata Pangkaja dan Anak Wungsu kemudian meneruskan tahta di Bali, menjaga keberlanjutan pemerintahan dinasti Warmadewa. Dengan demikian, pasangan ini tidak hanya berjasa pada masanya, tetapi juga melahirkan generasi penerus yang berperan penting dalam sejarah Nusantara.

Masa pemerintahan Raja Udayana dan Ratu Mahendradatta membawa banyak perubahan bagi Bali. Salah satu yang paling menonjol adalah kebijakan mereka dalam bidang budaya tulis. Jika sebelumnya bahasa Bali Kuno digunakan dalam penulisan prasasti, pada masa ini mulai digunakan bahasa Jawa Kuno atau Kawi. Terdapat lima prasasti yang ditulis pada masa pemerintahan Raja Udayana, empat di antaranya ditulis bersama dengan Ratu Mahendradatta. Hal ini menunjukkan peran aktif sang ratu dalam urusan pemerintahan.

Kebijakan lainnya adalah mendatangkan para maharsi ke Bali, salah satunya adalah Mpu Kuturan. Kehadiran Mpu Kuturan membawa pengaruh besar dalam menertibkan kehidupan masyarakat Bali. Ia memperkenalkan kembali paham Tri Kahyangan yang hingga kini masih dijalankan. Dalam konsep ini, setiap desa adat wajib memiliki tiga pura utama, yaitu Pura Desa untuk memuja Dewa Brahma sebagai pencipta, Pura Puseh untuk memuja Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan Pura Dalem untuk memuja Dewa Siwa serta Dewi Durga sebagai pemralina. Sistem ini kemudian menjadi landasan spiritual masyarakat Bali sampai saat ini.

Ilustrasi AI Mpu Kuturan sedang memberikan ajaran di depan masyarakat (Sumber: Koleksi Pribadi)

Ratu Mahendradatta sendiri memiliki posisi yang penting dalam perkembangan kebudayaan Bali. Selain berperan sebagai permaisuri, ia juga meninggalkan pengaruh spiritual. Setelah meninggal, Mahendradatta dicandikan di Pura Bukit Dharma Kutri, Desa Buruan, Bali. Di sana terdapat arca dirinya dalam wujud Durgamahisasuramardini, yaitu perwujudan Dewi Durga yang menaklukkan raksasa berkepala kerbau Mahisasura. Hal ini menunjukkan penghormatan besar masyarakat Bali terhadap dirinya, sekaligus kaitannya dengan pemujaan terhadap Dewi Durga.

Sementara itu, Raja Udayana setelah wafat dicandikan di Banu-wka. Hingga kini, lokasi pastinya masih belum diketahui, tetapi catatan ini memperlihatkan betapa besar penghormatan masyarakat terhadap sosoknya. Sebagai raja, Udayana telah meninggalkan warisan penting berupa sistem pemerintahan yang lebih teratur dan kebudayaan yang terjaga.

Ilustrasi AI Pemandangan candi dan arca Durgamahisasuramardini di Pura Bukit Dharma Kutri untuk Ratu Mahendradatta (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kehidupan pasca-Udayana dan Mahendradatta juga menunjukkan kesinambungan pengaruh mereka. Airlangga yang menjadi raja di Jawa Timur membawa kebesaran tersendiri di luar Bali. Sedangkan di tanah kelahiran mereka, Marakata Pangkaja dan Anak Wungsu berhasil meneruskan pemerintahan dengan damai. Anak Wungsu khususnya meninggalkan banyak prasasti yang menunjukkan kestabilan Bali pada masanya, yang merupakan warisan langsung dari fondasi yang diletakkan oleh orang tuanya.

Dengan demikian, masa pemerintahan Raja Udayana dan Ratu Mahendradatta dapat disebut sebagai zaman keemasan Bedahulu. Perubahan yang mereka hadirkan bukan hanya bersifat administratif, melainkan juga menyentuh ranah budaya dan spiritual yang masih terasa hingga kini. Konsep Tri Kahyangan, penggunaan bahasa Kawi, hingga peninggalan arkeologis berupa prasasti dan candi adalah bukti nyata kejayaan mereka.

Zaman keemasan ini sekaligus menandai pentingnya sinergi antara Bali dan Jawa. Melalui pernikahan politik dan budaya, lahirlah suatu masa di mana masyarakat Bali dapat hidup lebih tertib, teratur, dan berpegang pada nilai-nilai keagamaan yang kuat. Warisan tersebut kini menjadi bagian dari identitas budaya Bali yang tak tergantikan.

Sumber:
Team Penyusun Naskah dan Pengadaan Buku Sejarah Bali, Sejarah Bali, 1980, Pemda Propinsi Daerah Tingkat I Bali.
Ni Wayan Sartini, Rekam Jejak Prabu Udayana dalam Folklor Masyarakat Jawa Timur, 2014, Pustaka Larasan.
Narendra Dev Pandit Shastri, Sejarah Bali Dwipa, 1963, Yayasan Bhuvana Saraswati.