Raja Jayasingha Warmadewa (960–975 M): Penguat Dinasti dan Pengembang Budaya Bali Kuno di Bedahulu
Raja Jayasingha Warmadewa berkontribusi besar pada stabilitas politik Bali pada masanya, menurut penelusuran awal sejarah yang melibatkan meninjau prasasti, catatan sejarah, dan literatur akademik. Melalui dukungan terhadap aktivitas keagamaan dan sosial, ia memperkuat hubungan antara kerajaan, masyarakat, dan kalangan brahmana, menciptakan ikatan yang kokoh antara kekuasaan dan rakyat. Seni, adat istiadat, dan praktik keagamaan berkembang di bawah kepemimpinannya, dan semuanya menjadi kosmponen penting dari identitas budaya Bali.
Raja Jayasingha adalah tokoh penting yang membantu mengembangkan dinasti Warmadewa dan budaya Bali kuno pada abad ke-10 M. Jayasingha, juga disebut indrajayasingha, melakukan dua tugas strategis: meningkatkan legitimasi dinasti dan mendorong pertumbuhan budaya Bali Kuno di pusat kekuasaan kuno. Dinasti Warmadewa adalah salah satu dinasti paling berpengaruh dalam sejarah Bali Kuno. Ini terjadi hingga abad berikutnya, meskipun catatan sejarahnya tidak sebanyak Sri Kesari atau Raja Udayana. Sekitar tahun 960–975 M, Raja Jayasingha Warmadewa memerintah di Bedahulu, pusat pemerintahan Bali saat itu. Pemerintahannya terjadi sebelum raja-raja besar seperti Udayana dan Anak Wungsu muncul, dan setelah Sri Kesari Warmadewa. Mempelajari Jayasingha sangat penting untuk memahami sejarah dinasti, struktur pemerintahan, dan kemajuan budaya Bali Kuno, yang membentuk identitas Pulau Dewata.
Ilustrasi AI, prasasti adanya raja jayasingha (sumber: koleksi pribadi)
Raja ini hanya mengeluarkan satu prasasti bertahun 882 Saka atau 960 Masehi. Perintah raja untuk memperbaiki kolam suci Tirta Empul (sekarang dikenal sebagai Pura Tirta Empul di Tampaksiring) yang rusak karena aliran air yang deras. Prasasti berbentuk tiang batu tersebut menunjukkan tindakan tersebut. Batu bertulis huruf Bali masih disimpan di tempat suci atau pura, dan ditutup dengan kain putih pada upacara tertentu. Sebagian besar hurufnya telah rusak dan tidak kelihatan seperti apa tulisannya. Batu itu dibawa ke Tirta Empul setiap tahun untuk dipuja. Seorang sarjana Perancis bernama Dr. L.C. Damais kemudian membaca tulisan pada batu itu. Menurut sarjana yang meneliti prasasti ini, raja yang disebut itu bernama Jaya Singha Warmadewa dan bukannya Candra Bhaya Singha Warmadewa. Selain itu, tahunnya tidak 884, tetapi 882 Caka.
Para "Sekehe Barong" menganggap tempat itu sebagai tempat suci, jadi mereka berkunjung ke sana setiap hari Raya Galungan untuk mengupacarainya. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pemandian Tirtha Empul itu berusia 1000 tahun pada tahun 1960. Tembok di sekeliling sumber air Tirtha Empul tingginya kira-kira 150 cm. Pasir hitam menyembur dari bawah tanah; air mengalir dari berbagai tempat. Banyak ikan hidup di telaga tempat sumber air. Air dari telaga disalurkan ke pemandian laki-laki dan wanita. Air mengalir dari sana dan menjadi sungai yang disebut Sungai Pakerisan. Dalam cerita Mayadenawa, dikatakan bahwa air yang mengempul itu dibuat oleh Betara Indra dari Prasasti tulisan pada batu yang disebutkan di atas. Namun, cerita tersebut tidak menyebutkan asal-usul atau tempat raja membangun Tirtha Empul. Selain itu, banyak memperoleh prasasti yang tertulis di atas plat tembaga, seperti yang biasa diperoleh orang-orang. Prasasti Tirtha Empul di atas batu itu mencatat tahun 877–889. Ini menunjukkan masa pemerintahan Jayasingha Warmadewa. Dengan mengingat bahwa wilayah Tirtha Empul tidak jauh dari Kintamani, dikatakan bahwa raja Singha Mandawa sekeluarga dengan Jayasingha Warmadewa, yang prasasti-prasastinya ditemukan di daerah Kintamani. Mungkin juga raja Jayasingha Warmadewa sendiri yang membangun pemandian Tirtha Empul.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, nama raja sering ditulis dengan cara yang salah, seperti Tawanendra, Taganendra, Sri Aji Nendra Warmadewa, dan Ganendra Warmadewa. Jadi, Indra Jaya Singha mungkin juga Tawanendra. Setelah krisis politik di awal Dinasti Warmadewa, Jayaasingha Warmadewa memerintah selama periode stabilitas. Dengan menerapkan sistem pembagian sima, atau tanah perdikan, kepada brahmana, ia telah memperkuat legitimasi dinasti. Strategi politik ini bertujuan untuk mendapatkan kesetiaan masyarakat dan kelompok elit. Struktur pemerintahan yang digunakan mengimbangi kekuasaan raja dan peran tokoh agama. Jayasingha berusaha menjaga kestabilan dengan menjalin hubungan baik dengan penduduk Bali Aga di pedalaman. Jaringan sosial-politik yang kokoh dibentuk oleh dukungan terhadap brahmana dan pendeta. Ini memastikan dukungan masyarakat terhadap kerajaan dan memperkuat struktur sosial Bali Kuno. Jayasingha sangat memperhatikan pembangunan dan pemeliharaan tempat suci seperti pura dan situs ritual. Ia mendukung kegiatan keagamaan dan kesenian, yang membantu perkembangan tradisi Hindu-Buddha Bali. Di bawah pemerintahannya, seni, sastra, dan adat istiadat berkembang, yang merupakan dasar budaya Bali kontemporer.
Ilustrasi AI, Warisan Budaya Raja Jayasingha (Sumber: Koleksi Pribadi )
Jayasingha Warmadewa meninggalkan warisan penting berupa stabilitas politik dan kemajuan budaya yang berkelanjutan, meskipun dia tidak sepopuler Sri Kesari atau Raja Udayana. Sejarah dan prasasti menunjukkan pemerintahannya hingga masa Udayana dan Anak Wungsu. Raja Jayasingha Warmadewa (960–975 M) memperkuat Dinasti Warmadewa dan mengembangkan budaya Bali Kuno. Menjaga stabilitas politik, memperkuat hubungan dengan brahmana dan masyarakat, dan mendorong perkembangan seni, agama, dan tradisi melalui kepemimpinannya yang terencana. Warisannya berkontribusi pada kejayaan Bali selama ratusan tahun berikutnya.
Laksmi, Ni Ketut Puji Astiti. "Menggali makna Drwyahaji dan Buncanghaji berdasarkan data Prasasti Bali Kuno." Forum Arkeologi. Vol. 29. No. 2. Forum Arkeologi Bali, 2016.
Ekawana, I. G. P. (1983). Sambandha dalam beberapa prasasti Bali. Jurnal Arkeologi, 4(1), 21-36.
Mardika, I. M., Laksmi, A. R. S., & Suwendri, N. M. (2021). Pelestarian Prasasti di Pura Dadia Pande Pangi, Desa Pikat Kecamatan Dawan, Klungkung. Postgraduated Community Service Journal, 2(1), 32- 37.
Wahyuni, N. M. D. (2016). Petugas pertapaan pada masa Bali Kuno berdasarkan prasasti abad ke9 sampai 12 Masehi. In Forum Arkeologi (Vol. 29, No. 1, pp. 33-44).
Srijaya, I. W. (2024). Eksistensi Desa Dawan Berdasarkan Rekaman Prasasti Prasi A. AMERTA, 42(1), 69-80.