Sri Kesari Warmadewa & Prasasti Batu Blanjong (913 M): Jejak Awal Bali Tertulis
Bali tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan budayanya, tetapi juga memiliki warisan sejarah yang tertulis dan sangat berarti. Salah satu contohnya adalah Prasasti Blanjong yang diakui sebagai prasasti tertua di Bali. Keunikannya terletak pada penggunaan dua bahasa serta dua aksara secara bersamaan, dan juga perannya sebagai tanda kemenangan sang raja. Keberadaan Prasasti Blanjong berfungsi sebagai bukti penting mengenai perkembangan budaya dan sejarah politik masyarakat Bali di masa yang lalu.
Prasasti Blanjong dibuat pada tahun 835 Śaka atau (914 M). Istilah blanjong berasal dari kata Blahjung. Blah, atau belah, menunjuk pada sesuatu yang pecah, sementara Jung berarti perahu. Perahu yang mengalami kebocoran ini kemudian terdampar dan akhirnya hancur di dekat Sawang. Istilah sawang mengacu pada suatu palung laut yang dalam, sekarang dikenal sebagai Semawang. Secara keseluruhan, Blanjong menggambarkan lokasi di mana perahu bocor berakhir terdampar dan rusak tidak jauh dari Semawang.
Prasasti Blanjong ( Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Prasasti ini terletak di Pura Blanjong, yang berada di Desa Sanur Kauh, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali. Pura Blanjong, sebagai salah satu tanda dari keberadaan pura di era Bali Kuno, memiliki desain dwi mandala yang terdiri dari jaba sisi (nista mandala) sebagai area terbuka dan jeroan (utama mandala). Ini sesuai dengan pola arsitektur pura kuno dari masa Dinasti Warmadewa di Bali.
- Patung Ganesha: Sebuah patung dewa Ganesha yang diyakini berasal dari masa Majapahit (abad XIII-XIV).
- Lingga Yoni: Simbol sakral dalam Hindu yang merepresentasikan Dewa Siwa dan Dewi Parwati, yang pernah dipakai untuk keperluan upacara.
-Patung Nandini (Lembu): Sebuah patung yang menggambarkan seekor lembu, yang dianggap sebagai kendaraan Dewa Siwa.
- Pecahan Keramik: Juga ditemukan sejumlah keramik (kereweng) dari beberapa dinasti Tiongkok (seperti Sung, Yuan, dan Ching) serta keramik lokal. Penemuan tersebut memperkuat fakta bahwa Blanjong adalah pelabuhan yang sangat ramai antara abad ke-10 dan ke-14.
Prasasti Blanjong adalah sebuah prasasti yang terbuat dari batu padas yang dikenal sebagai sila prasasti, yang berbentuk tiang batu atau bunga teratai. Tinggi prasasti ini mencapai 177 cm dengan diameter sekitar 62 cm. Tulisan yang terdapat pada Prasasti Blanjong diukir di kedua sisinya. Di sisi barat laut terdapat 6 baris tulisan yang menggunakan aksara Pre-Negari yang umum di India Utara dan bahasa Bali Kuno. Sedangkan di sisi tenggara terdapat 13 baris tulisan yang ditulis menggunakan huruf Bali Kuno (Kawi) dan bahasa Sansekerta.
Lukisan Yang Terletak Di Prasasti Blanjong Sanur ( Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Dalam prasasti tersebut tertulis:
“Pada tahun 835 Saka bukan Phalguna, seorang Raja yang mempunyai kekuasaan diseluruh penjuru dunia berstana di Keraton Sanghadewa. Bernama Sri Kesari telah mengalahkan muruh-muruhnya di Gurun dan Swai. Inilah yang harus diketahui sampai kemudian hari”. Saat ini, kondisi dari aksara yang tertulis tersebut tidak dapat dibaca karena ukiran pada prasasti tersebut sudah mulai memudar atau rusak.
Dari elemen bahasa dan tulisan yang terdapat pada Prasasti Blanjong, dapat dilihat bahwa warisan budaya ini mencerminkan kebijaksanaan lokal dalam sains dan teknologi serta aspek kekuasaan (politik). Penggunaan dua bahasa dan dua jenis huruf menunjukkan adanya keahlian, penguasaan, dan pemahaman pengetahuan masyarakat yang ada pada zaman kerajaan Sri Kesari Warmadewa di abad ke-10 Masehi.
Penemuan prasasti seperti ini Sangat istimewa dan merupakan satu-satunya yang ada di Bali. Secara keseluruhan, prasasti yang ditemukan di Bali umumnya ditulis menggunakan Bahasa Sansekerta dengan menggunakan huruf Pre Negari, atau dalam Bahasa Bali Kuna dengan huruf Bali Kuna (Kawi), tetapi Prasasti Blanjong ditulis dalam dua bahasa dan dua sistem tulisan. Selain itu keunikan dari Prasasti Blanjong adalah metode penulisan yang menggunakan Silang, Di mana Bahasa Sansekerta ditulis dengan huruf Bali Kuna (Kawi), sementara bahasa Bali Kuna ditulis menggunakan huruf Pre Negari. Hal ini menunjukkan bahwa penulis prasasti tersebut (citralekha) adalah seorang yang sangat ahli dalam bahasa dan metode penulisannya, khususnya dalam kedua jenis bahasa dan aksara yang telah disebutkan. Keterampilan tersebut tentunya hasil dari tradisi serta latar budaya yang ada pada zaman tersebut dan warisan yang telah ada sebelumnya.
Lukisan Yang Terletak Di Prasasti Blanjong Sanur ( Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Prasasti Blanjong dikeluarkan oleh Raja Sri Kesari Warmadewa pada. Dalam kajian Sejarah Prasasti Blanjong mencakup tentang pemberian lahan oleh Raja Sri Kesari Warmadewa kepada seorang pendeta Hindu yang bernama Rakai Rayan. Selain itu, prasasti ini juga mencerminkan kemenangan Raja Sri Kesari Warmadewa atas kemenangan menghadapi musuh- musuhnya di Gurun (Nusa Penida) dan Swal (Pantai Ketewel), Raja Sri Kesari Warmadewa mendirikan 2 tugu kemenangan yaitu Desa Blanjong, Sanur, Denpasar dan Pura Puseh Malet Gede , Desa Penempahan, Tampak Siring , Gianyar.
Meskipun ada beberapa klaim yang menyebutkan bahwa lokasi tersebut berada di Lombok. Kerajaan Raja Sri Kesari Warmadewa dikenal dengan nama Singhadwala (Singhadwalaputra) dan mencantumkan Kuturaja (pusat kota) serta menyebutkan Pulau Bali (Walidwipa).
Selain nilai historisnya, Pura Blanjong memiliki peran yang beragam bagi masyarakat. Peran-peran tersebut antara lain:
- Peran Keagamaan Sebagai lokasi ibadah utama
- Peran Sosial Pura berfungsi sebagai tempat bertemu dan 'pengikat solidaritas sosial
- Peran Budaya Pura berperan sebagai pusat pengembangan budaya
- Peran Pendidikan Pura berfungsi sebagai generasi muda untuk belajar membuat sarana upacara (upakara) seperti banten dan penjor.
Blanjong – Sanur juga dikenal sebagai pelabuhan kuno, di mana penemuan keramik dari berbagai zaman menunjukkan adanya perdagangan dan interaksi budaya selama berabad-abad. Hal ini menjadi argumen yang kuat mengapa prasasti ini sering dianggap sebagai bukti kemajuan budaya dan sejarah politik Bali di masa lampau.
Kini, Prasasti Blanjong telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya menurut Surat Keputusan Walikota Denpasar dengan nomor 188.45/825/HK/2019 yang dikeluarkan pada 15 April 2019. Prasasti tersebut ditempatkan dalam kotak kaca pelindung di kawasan Pura Blanjong agar tetap aman.
Daftar pusaka :
- A.A. Pt. Sintya Gita Permatasari; Putri Cahaya Dewi; I Putu Satria Adi Wiryawan; I Gede Made Ari Raditya. Kajian Etnomatematika pada Prasasti Blanjong Sanur. 2024. Journal on Education.
- Ni Putu Budiartini; Ketut Sedana Arta; Desak Made Oka Purnawati. Pura Blanjong di Desa Sanur Kauh, Denpasar Selatan, Bali (Sejarah, Struktur, Fungsi dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA). 2020. JJPS – e-Journal Undiksha.
- Hendra Santosa. Prasasti Blanjong dan Gamelan Gong Beri. t.t. (tahun tidak tercantum). Program Studi Seni Karawitan, ISI Denpasar
- Dinas Pariwisata Kota Denpasar. Prasasti Blanjong. 2023. Ebooks Denpasar Tourism (Denpasar Tourism)https://ebooks.denpasartourism.com/prasasti-blanjong/
- UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali. Pengenalan Diorama Monumen Perjuangan Rakyat Bali: Diorama 5 — Era Pemerintahan Sri Kesari Warmadewa. 2021. Diorama Bali (Blogspot). https://dioramabali.blogspot.com/2021/10/era-pemerintahan-sri-kesari-warmadewa.html