Samprangan: Kerajaan Pembuka Jalan Majapahit Menguasai Bali

Kerajaan Samprangan menjadi titik awal penguasaan Majapahit di Bali setelah penaklukan Bedahulu tahun 1343. Untuk menstabilkan Bali, Majapahit mengangkat Mpu Kresna Kapakisan sebagai penguasa Bali pada 1352 yang mendirikan Keraton Lingga Pura Samprangan di lokasi strategis. Pemerintahan ini membawa sistem dan tradisi Majapahit yang membentuk dasar tata kelola dan budaya Bali.

Aug 7, 2026 - 05:34
Aug 7, 2026 - 02:29
Samprangan: Kerajaan Pembuka Jalan Majapahit Menguasai Bali
Gambar Pura Dalem Samprangan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kerajaan Samprangan merupakan salah satu kerajaan bersejarah yang memiliki peran penting dalam perjalanan politik dan kebudayaan Bali pada abad ke-14. Kerajaan ini lahir setelah kejatuhan Kerajaan Bedahulu akibat ekspedisi Majapahit yang dipimpin Gajah Mada. Sebagai bentuk pengaruh kekuasaan Majapahit di Bali, Sri Aji Kresna Kepakisan diangkat sebagai penguasa baru dan memilih Samprangan, wilayah di Gianyar, sebagai pusat pemerintahannya. Pendirian kerajaan ini menjadi titik awal perubahan besar dalam struktur pemerintahan dan sistem sosial masyarakat Bali, karena menandai masa peralihan dari pemerintahan lokal menuju sistem yang lebih terorganisir di bawah pengaruh Majapahit.

Pemilihan Samprangan sebagai ibu kota tidak terlepas dari letaknya yang strategis di tengah pulau serta keyakinan masyarakat akan makna spiritual kawasan tersebut. Selain mudah dijangkau dari berbagai arah, kawasan ini dianggap suci dan dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang mampu melindungi kerajaan. Keputusan ini menunjukkan perpaduan antara pertimbangan politik dan kepercayaan masyarakat terhadap kesucian tempat, menjadikan Samprangan bukan hanya pusat pemerintahan tetapi juga simbol spiritual bagi masyarakat Bali. Sejak saat itu, Samprangan berkembang menjadi lambang kebangkitan pemerintahan baru yang berlandaskan hukum, adat, dan pengaruh budaya Majapahit yang kuat.

Ilustrasi AI Kerajaan Samprangan (Sumber : Koleksi Pribadi)

Pada masa awal pemerintahannya, Sri Aji Kresna Kepakisan berhasil membangun kerajaan yang makmur dan teratur. Ia menerapkan sistem pemerintahan yang meniru birokrasi Majapahit dengan pembagian peran antara bangsawan dan rakyat, serta memperkenalkan tata cara baru dalam bidang hukum, sosial, dan agama yang memadukan budaya Jawa dan Bali. Integrasi dua budaya ini menciptakan pemerintahan yang stabil dan harmonis, di mana aturan adat dan hukum berjalan seimbang. Selain itu, kerajaan ini juga menjadi pusat perkembangan seni dan budaya, tempat banyak seniman dan rohaniawan dari Jawa menetap untuk memperkaya tradisi setempat. Dari sinilah muncul berbagai bentuk seni tari, arsitektur pura, serta adat istiadat yang menjadi cikal bakal kebudayaan Bali modern yang kita kenal sekarang.

Kemajuan ekonomi turut menjadi penopang penting kejayaan kerajaan. Samprangan menjadi pusat perdagangan yang ramai, sementara sektor pertanian berkembang pesat dengan hasil bumi melimpah. Stabilitas politik di bawah pemerintahan Sri Aji Kresna Kepakisan membuat rakyat hidup sejahtera dan mendukung penuh pemerintahannya. Kondisi ini menjadikan Samprangan sebagai salah satu kerajaan paling berpengaruh di Bali pada masanya, dengan keseimbangan antara kemakmuran ekonomi, kestabilan sosial, dan kekuatan budaya.

 

Ilustrasi AI Shri Aji Dhalem Kresna Kepakisan sebagai Raja Kerajaan Samprangan (Sumber : koleksi pribadi)

Setelah Sri Aji Kresna Kepakisan wafat, kekuasaan Kerajaan Samprangan diwariskan kepada putranya, Dalem Samprangan atau Ida Dalem Agra Samprangan. Namun, pemerintahan Dalem Samprangan jauh berbeda dengan masa ayahandanya. Ia dikenal sebagai raja yang kurang bijaksana dan tidak memiliki ketegasan dalam memimpin. Alih-alih memusatkan perhatian pada urusan pemerintahan dan kesejahteraan rakyat, Dalem Samprangan justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk kesenangan pribadi. Catatan tradisi lisan dan babad Bali menggambarkan bahwa sang raja gemar berfoya-foya, dikelilingi oleh wanita istana, dan sering mengabaikan tanggung jawabnya sebagai penguasa. Kebiasaannya ini menimbulkan ketidakhormatan di mata rakyat dan pejabat kerajaan yang sebelumnya setia kepada ayahnya.

Sementara sang raja sibuk dengan kehidupan pribadinya, urusan pemerintahan terbengkalai. Banyak kebijakan penting tidak dijalankan, pajak tidak tertata, dan hubungan dengan para bangsawan daerah mulai renggang. Para pejabat tinggi yang kecewa mulai kehilangan kepercayaan terhadap Dalem Samprangan dan memilih untuk tidak lagi patuh pada perintahnya. Di sisi lain, muncul pula konflik internal di dalam keluarga kerajaan karena perebutan kekuasaan dan kecemburuan terhadap sikap raja yang pilih kasih terhadap orang-orang terdekatnya di istana. Akibatnya, sistem pemerintahan melemah dan pengaruh Samprangan menurun drastis, hingga akhirnya Kerajaan Samprangan runtuh dan digantikan oleh kekuasaan baru di Gelgel di bawah pimpinan Dalem Ketut, adik Dalem Samprangan, yang berhasil memulihkan stabilitas dan kejayaan kerajaan di Bali.

 

Ilustrasi AI Ida Dalem Agra Samprangan dikelilingi Wanita (Sumber : Koleksi Pribadi)

Setelah situasi di Kerajaan Samprangan semakin kacau akibat kelemahan kepemimpinan Dalem Samprangan, muncul sosok adiknya, Dalem Ketut Ngulesir, yang dikenal lebih bijaksana, tegas, dan memiliki kemampuan memimpin yang kuat. Melihat kondisi pemerintahan yang tidak stabil, Dalem Ketut Ngulesir memilih untuk meninggalkan Samprangan dan mendirikan pusat pemerintahan baru di Gelgel, wilayah yang secara geografis lebih strategis dan subur di daerah Klungkung bagian selatan. Dalam proses ini, ia didampingi oleh I Dewa Tegal Besung, seorang patih yang setia, cerdas, dan berpengalaman dalam mengatur pemerintahan. Langkah keduanya bukan sekadar pelarian, melainkan keputusan politik yang matang untuk membangun tatanan pemerintahan baru yang lebih terorganisir dan berwibawa.

Di Gelgel, Dalem Ketut Ngulesir bersama I Dewa Tegal Besung mulai menyusun kembali struktur kerajaan yang sempat hancur di Samprangan. Mereka memperbaiki sistem birokrasi, memperkuat hubungan dengan para bangsawan daerah, dan menegakkan kembali nilai-nilai hukum serta adat yang sempat diabaikan. Pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir dikenal stabil dan dihormati oleh masyarakat karena keberhasilannya menegakkan keseimbangan antara agama, adat, dan politik—tiga unsur penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Di bawah kekuasaan dan dukungan kepemimpinan I Dewa Tegal Besung, Gelgel tumbuh menjadi pusat pemerintahan, kebudayaan, dan agama di Bali. Raja-raja bawahan dari berbagai daerah di Bali bahkan mengakui kewibawaan Gelgel sebagai kerajaan utama. Dengan demikian, berdirinya Kerajaan Gelgel di bawah Dalem Ketut Ngulesir menandai babak baru dalam sejarah Bali, di mana kekuasaan kembali terpusat dan kestabilan sosial-politik berhasil dipulihkan setelah keruntuhan Samprangan.

 

Ilustrasi AI Dalem Ketut Ngulesir bersama I Dewa Tegal Besung (Sumber : Koleksi Pribadi)

Walaupun akhirnya mengalami kemunduran, warisan dan nilai-nilai dari masa Samprangan tetap hidup hingga kini. Sistem puri, desa adat, serta konsep pemerintahan tradisional yang dirintis pada masa itu menjadi dasar kehidupan sosial masyarakat Bali modern. Nilai-nilai kepemimpinan, kehormatan, dan kesetiaan yang diajarkan di masa kerajaan tetap dijaga dalam budaya Bali sampai sekarang. Jejak kejayaan Samprangan masih dapat ditemukan di sekitar Gianyar, terutama pada pura dan situs purbakala bersejarah, serta melalui cerita rakyat, lontar, dan tradisi lisan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Selain nilai sejarahnya, Kerajaan Samprangan juga meninggalkan berbagai peninggalan fisik yang masih dapat dijumpai hingga kini. Salah satu peninggalan pentingnya adalah Puri Agung Samprangan, yang menjadi simbol pusat kekuasaan kerajaan dan tempat tinggal keluarga raja. Di kawasan ini juga terdapat Pura Dalem Samprangan, tempat yang dianggap suci dan diyakini sebagai lokasi pelinggih para leluhur kerajaan. Selain itu, beberapa arca dan fragmen batu purbakala ditemukan di sekitar wilayah Samprangan, menunjukkan jejak kehidupan masyarakat kerajaan masa lampau. Peninggalan-peninggalan tersebut tidak hanya menjadi bukti arkeologis, tetapi juga berfungsi sebagai penanda identitas budaya dan sejarah masyarakat Gianyar yang masih dijaga kelestariannya hingga kini.

Ilustrasi AI Peninggalan Kerajaan Samprangan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Secara keseluruhan, Kerajaan Samprangan memiliki makna besar dalam perkembangan sejarah dan budaya Bali. Ia menjadi jembatan antara pengaruh Majapahit dan lahirnya kerajaan-kerajaan Bali yang mandiri. Meskipun kerajaan ini telah runtuh berabad-abad lalu, warisannya tetap hidup dalam adat, kepercayaan, dan cara hidup masyarakat Bali. Samprangan bukan hanya sekadar nama dalam sejarah, tetapi juga simbol kebangkitan dan kebijaksanaan yang membentuk peradaban Bali hingga masa kini.

Sumber Pustaka:

Budihardjo, R. (2012). Sistem pemerintahan kerajaan pengaruhnya terhadap arsitektur Bali. Jurnal Nalars, 11(1), 1–13.

Kemas Udayana. (2024, May 9). Perkembangan sistem politik Bali pada abad XIV–XVIII: Kerajaan Samprangan, Kerajaan Gelgel dan Kerajaan Klungkung

Suwitha, I. P. G. (2019). Wacana “Kerajaan Majapahit Bali”: Dinamika puri dalam pusaran politik identitas kontemporer. Jurnal Sejarah Citra Lekha, 4(1), 59–70. Universitas Diponegoro.

Universitas Udayana. (2010). Sejarah Bali: Bab II – Sistem Politik Bali Abad XIV–XVIII. Denpasar: Udayana Press.