Badai Majapahit: Ekspedisi Gajah Mada Yang Menghacurkan Kerajaaan Bedahulu (1343 M)
Ekspedisi Majapahit ke Bali pada tahun 1343 M adalah momen penting yang mengubah takdir Pulau Bali. Dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada, ekspedisi ini menghadapi perlawanan sengit dari dua tokoh Bali yang sakti, Ki Kebo Iwa dan Ki Pasung Grigis. Namun, taktik licik Majapahit terbukti efektif, bahkan saat berhadapan dengan kekuatan yang tak tertandingi. Penaklukan ini menjadi awal dari babak baru dalam sejarah Bali, yang melahirkan warisan budaya yang lebih kuat.
Ekspedisi Majapahit ke Bali pada tahun 1343 M merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Pulau Bali. Peristiwa ini menandai runtuhnya kekuasaan Kerajaan Bedahulu dan berakhirnya otonomi politik Bali yang telah lama berdiri di bawah Dinasti Warmadewa. Ekspedisi yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada ini membuka jalan bagi era baru, di mana identitas Bali secara mendalam dibentuk melalui proses akulturasi dengan tradisi Jawa-Majapahit. Penaklukan ini tidak hanya mengubah lanskap politik, tetapi juga meninggalkan warisan budaya kuat yang masih terlihat hingga saat ini.
Ilustrasi AI Bali Sebagai Kerajaan Seni (Sumber: Koleksi Pribadi)
Selain ambisi untuk menyatukan Nusantara, penaklukan Bali oleh Majapahit memiliki alasan yang lebih dalam. Bali pada saat itu dikenal bukan hanya karena letak geografisnya, tetapi juga sebagai sebuah wilayah dengan kebudayaan yang unik dan beragam. Penguasa Bali dikenal sebagai pelindung seni yang menjadikan seluruh kerajaannya seolah-olah sebuah karya seni yang hidup, dipenuhi dengan tradisi dan keindahan. Ketertarikan Majapahit terhadap Bali tidak lepas dari peran penting Gayatri Rajapatni, ibu dari Ratu Majapahit, Tribhuwana Tunggadewi. Gayatri memiliki kekaguman yang mendalam terhadap budaya tradisional Bali. Ia melihat Bali bukan sekadar target politik, melainkan sebuah pusaka budaya yang berharga. Gayatri meyakini bahwa Bali, dengan posisinya yang relatif terpencil dan jauh dari pusat pengaruh ekonomi dan politik, dapat berfungsi sebagai penjaga elemen-elemen dasar budaya dan agama Majapahit.
Ilustrasi AI Ratu Majapahit Yang Marah Pada Keputusan Raja Bedahulu (Sumber: Koleksi Pribadi)
Ratu Tribhuwana yakin penaklukan akan berjalan mulus, mengingat Bali pernah ditaklukkan oleh Kerajaan Singasari pada tahun 1284 M. Namun, prediksi itu meleset jauh. Rencana penaklukan Bali justru menghadapi perlawanan yang sengit dari Raja Bedahulu, Sri Astasura Ratna Bhumi Banten. Sang raja menolak tunduk pada kekuasaan Majapahit dan bertekad bulat untuk mempertahankan kemerdekaan kerajaannya. Sikapnya ini bukanlah tanpa alasan, ia didukung oleh panglima militer dan ahli strategi militer yang sangat diandalkan, yaitu Ki Kebo Iwa dan Ki Pasung Grigis. Keduanya dikenal sebagai simbol perlawanan Bali. Penolakan keras dari Raja Bedahulu memicu kemarahan Ratu Tribhuwana. Ia merasa keberatan dengan sikap Bali yang membangkang dan menentang otoritas Majapahit. Merasa diremehkan, ia segera mengeluarkan perintah tegas kepada Gajah Mada untuk menaklukkan Bali.
Ilustrasi Ki Kebo Iwa (Sumber: Koleksi Pribadi)
Gajah Mada menyadari bahwa menaklukkan Bali tidak bisa dilakukan dengan cara biasa. Ia memulai strateginya dengan menghadapi Ki Kebo Iwa, panglima militer bertubuh raksasa yang tidak bisa dikalahkan dalam pertarungan langsung. Gajah Mada menjebak Ki Kebo Iwa dengan dalih pernikahan di tanah Jawa. Setelah berhasil memerangkapnya di dalam sumur, pasukan Majapahit menimbunnya dengan batu, tetapi usaha tersebut sia-sia. Ki Kebo Iwa keluar dari sumur tanpa luka sedikit pun, lalu menawarkan diri untuk dibunuh dengan air kapur. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, ia mengutuk Majapahit, meramalkan bahwa mereka kelak akan dilanda bencana akibat perbuatan yang curang.
Setelah berhasil menyingkirkan Ki Kebo Iwa, Gajah Mada melancarkan serangan empat arah untuk menguasai Kerajaan Bedahulu. Pasukannya dibagi menjadi empat kelompok kecil dan mendarat di berbagai sisi pulau. Strategi ini semakin efektif karena Gajah Mada memanfaatkan konflik internal yang ada di antara rakyat Bali yang tidak menyukai raja mereka yang kejam. Dengan dukungan rakyat lokal dan serangan dari berbagai sisi, pasukan Majapahit menghancurkan Kerajaan Bedahulu dan memaksa raja serta keluarganya untuk menyerah.
Ilustrasi AI Gajah Mada Menyiapkan Strateginya (Sumber: Koleksi Pribadi)
Setelah Gajah Mada berhasil menguasai seluruh wilayah pesisir Bali ia kemudian melancarkan strategi lainnya untuk mengalahkan Ki Pasung Grigis dan pasukannya yang masih bertahan di Desa Tengkulak. Gajah Mada berpura-pura takluk, membuat Ki Pasung Grigis merasa menang. Ahli strategi militer Bali itu kemudian mengundang Gajah Mada dan pasukannya ke kediamannya. Gajah Mada melihat celah ini dan segera memasang jebakan. Ia mempermalukan Ki Pasung Grigis dengan menuduhnya ingkar janji pada seekor anjing peliharaannya, sebuah pelanggaran serius dalam ajaran ksatrya. Ki Pasung Grigis yang menjanjikan makanan kepada anjing itu, namun ia tidak menepatinya. Merasa malu, Ki Pasung Grigis yang seakan kehilangan semua kekuatannya memilih untuk menyerahkan dirinya dan seluruh rakyatnya dibawah kekuasaan Majapahit. Dengan menyerahnya Ki Pasung Grigis menjadi penanda hancurnya Kerajaan Bedahulu serta Bali yang ditaklukkan sepenuhnya oleh Kerajaan Majapahit.
Daftar Pustaka
Alit, D. M. (2019). Strategi Politik Majapahit Menaklukan Kerajaan Bali 1352-1380 M. Social Studies, 1-12.
Pangestika, A. E. (2019). Penaklukan Bali Oleh Kerajaan Majapahit Tahun 1343 M. PESAGI (Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah), 1-12.
Raka, A. A. (2021). Kebo Iwa Di Bali. Denpasar: Pustaka Larasan.