Bulan Bahasa Bali sebagai Ruang Kreatif Generasi Muda untuk Menjaga Warisan Budaya
Bulan Bahasa Bali hadir tiap Februari sejak 2018 sebagai upaya melestarikan bahasa, aksara, dan sastra Bali. Melalui lomba, festival, hingga karya digital, generasi muda diajak menjaga warisan budaya secara kreatif. Perayaan ini menjadi harapan agar identitas Bali tetap hidup di tengah arus globalisasi
Globalisasi mengancam keberadaan bahasa daerah, termasuk di Indonesia yang memiliki banyak keragaman bahasa. Banyak anak muda kini lebih fasih berbahasa Indonesia atau asing, membuat kekayaan bahasa daerah rentan tergeser, termasuk bahasa Bali.
Minat generasi muda Bali terhadap bahasa dan budaya lokal semakin menurun. Banyak remaja perkotaan jarang menggunakan bahasa Bali karena menganggapnya kurang modern. Padahal, bahasa Bali menyimpan filosofi, sejarah, dan identitas budaya yang sangat berharga. Untuk melestarikannya, Pemerintah Provinsi Bali menetapkan bulan Februari sebagai Bulan Bahasa Bali sejak tahun 2018.
Perayaan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sebuah ruang kreatif yang memberi kesempatan bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk ikut menjaga dan mengembangkan warisan leluhur. Bulan Bahasa Bali dirancang sebagai panggung kolektif, di mana tradisi dan inovasi dapat bertemu dalam satu semangat menjaga identitas budaya Bali agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Sejarah dan Tujuan Bulan Bahasa Bali
Bulan Bahasa Bali pertama kali digagas pada tahun 2018 sebagai implementasi kebijakan daerah yang berlandaskan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali. Peraturan ini diperkuat dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.
Tujuan utama perayaan ini adalah membangkitkan kembali kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, bahwa bahasa Bali tidak hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga simbol identitas dan kebanggaan.
Pelat yang Berisi Tulisan Aksara Bali sebagai Bukti Peninggalan Budaya Literasi Masa Lampau (sumber: Koleksi Pribadi)
Kegiatan ini diselenggarakan secara serentak di sekolah, instansi pemerintah, komunitas budaya, hingga tingkat desa adat. Dengan demikian, Bulan Bahasa Bali tidak hanya hadir di ruang-ruang formal, tetapi juga meresap ke dalam kehidupan masyarakat Bali di berbagai lapisan.
Kegiatan dalam Bulan Bahasa Bali
Setiap bulan Februari, rangkaian kegiatan Bulan Bahasa Bali diadakan dengan tema berbeda tiap tahunnya. Kegiatan tersebut melibatkan banyak kalangan, dari anak-anak sekolah hingga seniman dan komunitas lokal. Lomba membaca dan menulis aksara Bali menjadi salah satu kegiatan yang paling diminati. Anak-anak belajar menulis di atas lontar dengan hati-hati, merasakan bagaimana leluhur mereka dahulu merekam pengetahuan dan cerita kehidupan.
Selain itu, kegiatan mesatua Bali atau mendongeng dalam bahasa Bali turut menghidupkan kembali tradisi lisan yang hampir punah. Cerita rakyat yang penuh pesan moral disampaikan dengan gaya khas, membawa suasana hangat sekaligus mendidik. Lomba puisi dan tembang berbahasa Bali juga digelar untuk mengasah kreativitas sastra para peserta.
Festival seni dan pentas budaya menjadi puncak perayaan. Tari-tarian tradisional, musik gamelan, hingga teater berbahasa Bali dipentaskan untuk menghibur sekaligus mengedukasi. Tidak ketinggalan, pameran aksara Bali di media modern seperti mural, komik, hingga konten digital menunjukkan bahwa bahasa Bali dapat tampil dengan wajah baru yang segar dan relevan.
Karya Gebogan Buatan Generasi Muda di Acara Sekolah (sumber: Koleksi Pribadi)
Generasi Muda di Panggung Kreativitas
Salah satu fokus utama Bulan Bahasa Bali adalah keterlibatan generasi muda. Anak-anak muda tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai agen inovasi. Mereka mencoba memadukan nilai-nilai tradisi dengan teknologi modern. Misalnya, membuat konten di media sosial dengan caption berbahasa Bali, menciptakan komik digital beraksara Bali, atau membuat video pendek yang mengangkat cerita rakyat Bali dengan gaya kekinian.
Tidak sedikit pula yang memadukan seni tradisional dengan sentuhan modern. Tembang klasik Bali dibawakan dengan iringan musik elektronik, atau aksara Bali ditampilkan dalam desain grafis yang trendi. Kreativitas ini membuktikan bahwa tradisi bisa tetap hidup tanpa kehilangan relevansinya, justru semakin menarik ketika dipadukan dengan inovasi.
Lontar dan Jejak Leluhur
Bukti nyata kekayaan peradaban Bali dapat dilihat dari lontar-lontar kuno yang kini tersimpan di museum maupun rumah-rumah adat. Lembar daun lontar yang dipenuhi aksara Bali tidak hanya berfungsi sebagai catatan tulisan, tetapi juga sebagai media penyimpan ilmu pengetahuan, filsafat, dan nilai kehidupan.
Aksara Bali di Atas Daun Lontar (sumber: Koleksi Pribadi)
Dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali, lontar sering dijadikan objek pembelajaran. Generasi muda diajak mengenal, membaca, bahkan mencoba menulis di atas lontar. Dengan begitu, mereka tidak hanya mengagumi peninggalan masa lalu, tetapi juga merasakan langsung kedekatan dengan tradisi leluhur.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Di balik antusiasme yang tinggi, tantangan pasti tetap ada. Kehidupan masyarakat Bali sehari-hari kini lebih banyak dipengaruhi bahasa Indonesia dan bahasa asing sehingga bahasa Bali sering dianggap kurang relevan untuk kebutuhan praktis. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat membuat bahasa Bali semakin terpinggirkan. Meski demikian, Bulan Bahasa Bali membuka harapan besar bahwa bahasa daerah ini tidak hanya hidup di panggung perlombaan, tetapi juga bisa menemukan bentuk baru di media digital, percakapan sehari-hari, bahkan karya sastra modern.
Bulan Bahasa Bali lebih dari sekadar perayaan tahunan. Ia adalah panggung yang membuka ruang bagi generasi muda untuk merawat, menghidupkan, sekaligus mengembangkan warisan leluhur. Menjaga bahasa Bali berarti menjaga jati diri Bali itu sendiri. Sebab, di dalam bahasa tersimpan nilai, filosofi, dan sejarah yang tak ternilai harganya. Dengan keterlibatan aktif generasi muda, warisan leluhur ini diyakini tidak hanya akan bertahan, tetapi juga berkembang dan menemukan wajah baru di masa depan.
Sumber Referensi:
Dharmayanti, N. W. D. A., Utari, L. P. E., & Ristiani, A. K. (2023). Gumi Bali: Upaya Menghidupkan Bahasa Bali Pada Generasi Muda. Prosiding Pekan Ilmiah Pelajar (PILAR), 3, 428–438
Jatiyasa, I. W. (2020). Efektivitas Bulan Bahasa Bali Tahun 2020 Dalam Upaya Pelindungan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali di Kabupaten Karangasem. Subasita: Jurnal Sastra Agama dan Pendidikan Bahasa Bali, 1(1), –.
Widiantana, I. K. (2022). Media Massa Berbahasa Bali sebagai Media Pemertahanan Bahasa Bali di Provinsi Bali. Widya Duta, 17(1), –.